One Step to Remember (Prologue)

20130921-231931.jpg

Author : JS
Genre : Romance, Sad, Thriller
Cast :
– Kang Minhye
– Kim Hyemi
– Kim Jongin
– Oh Sehun

Support Cast :
– Jung Sora
– Kim’s family
– Kang’s family

Note : annyeong^^ author comeback!! Yeah! Akhirnyaaa! Huakakak. Membawakan ff baru! :3 hehehe. Ayoo merapat semuanyaa!!

So, check this out!
Happy reading semuanyaaa😀

PROLOGUE

Greeekkk..

“Bangun, pemalas. Ini sudah pagi”

Aku menggeliat. Udara dingin yang masuk melalui jendela menusuk tulang membuat aku menarik selimutku lebih tinggi.

“Ya, bangunlah! Aku harus pergi ke sekolah!”

“Arraseo! Arraseo!”

Aku bangun duduk. Mataku mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya membuka sempurna. Seperti biasa. Semua terasa hitam dan blur. Tak terlihat apapun.

“Hey, aku disini. Ayo, genggam tanganku. Aku akan menuntunmu ke kamar mandi”

“Hm”

Tanganku menggapai di udara. Berusaha menemukan tangannya, dan beruntung aku cepat mendapatkan.

“Kajja. Cepat mandi karena aku akan terlambat ke sekolah”

“Baiklah, tukang cerewet”

Aku mendengar tawanya. Dan itu sukses membuatku ikut tertawa. Aku merasa tangannya mengacak gemas rambutku. Inilah pagi ku sehari-hari. Bangun dengan dibantu olehnya, dan begitu juga dengan aktivitasku. Ah, aku tak bisa membayangkan jika dulu aku tak bertemu dengannya.

***

“Makan yang banyak. Kau tidak boleh jatuh sakit, arra?”

Traakk..

Aku menaruh sumpitku. Menopang dagu dengan tanganku dan memandang ke arahnya. Dan sebenarnya aku tak tau benar dimana dia sekarang.

“Yah, Oh Sehun. Kau itu namja tapi kenapa kau begitu cerewet, eoh?”

“Entahlah, mungkin karena aku tertular cerewetmu”

“Yah! Aku tak cerewet, tau!”

“Tapi kau pemarah”

“Tidak! Yah! Siapa bilang! Yah”

“Itu.. Kau sekarang marah-marah?”

“Aiissh. Yasudah, terserahmu sajalah”

Aku kembali mencari-cari sumpitku. Aku meraba meja makan usang ini. Aigoo.. Dimana tadi aku meletakkan sumpitku, ya?

“Ini”

Ia menggenggam tanganku dan memberiku sumpit yang tadi kucari.

“Makanya jangan menaruh sumpit sembarangan. Dan ingat dimana kau meletakkannya. Jangan ceroboh, Minhye”

Aku tertawa kecil.

“Mian~”

Kamipun melanjutkan makan. Hanya ada suara dentingan sumpit dan sendok.

“Omo! Sudah jam segini. Aku berangkat dulu, ne?”

Aku mengangguk. Aku mendengar ia bangkit dari kursinya dan membereskan piring.

“Kau sudah selesai makan?”

Aku mengangguk. Aku tau saat Sehun mengangkat mangkuk bekas makanku dan meletakkannya di wastafel.

“Jangan mencuci piring, ya? Nanti biar aku yang mengerjakan sepulang sekolah. Ah, jangan pergi kemanapun. Arraseo? Diamlah saja dirumah”

“Ah, aku ingin pergi ke perpustakaan pagi ini”

Langkahnya tak terdengar lagi. Uh-oh. Agaknya ia marah. Aku mengusap leher belakangku.

“Ehm, sudah lama sejak aku pergi ke perpustakaan”

Aku mendengar langkahnya. Ia berjalan semakin dekat ke arahku, dan otomatis aku berjalan mundur ke belakang. Aku tak tau saat punggungku sudah menabrak dinginnya dinding.

“Sendirian?”

Aku merasa nafas hangat Sehun menerpa wajahku. Aku menelan saliva ku susah.

“N-nde. Bukannya selalu begitu?”

“Kau tau aku begitu khawatir denganmu, Minhye”

“Mian. Tapi, aku sudah-”

“Ssst” jari Sehun berada di bibirku. Membuatku seketika bungkam. “Aku akan mengantarmu sepulang sekolah nanti. Arraseo?”

Aku mengangguk.

“Jadi, diamlah dan tunggu aku hingga pulang sekolah”

Aku kembali mengangguk.

“Baiklah, aku akan mengantarmu ke kamar. Jangan turun dari kamar, ya? Kalau dengar bel, biarkan saja. Jangan dibukakan”

Aku mengangguk.

“Kajja”

Aku memeluk lengan Sehun. Mempercayakan setiap langkahku padanya. Hingga terdengar bunyi deritan pintu dan aku di dudukkan kembali di kasur.

“Kalau kau bosan, kau bisa memutar lagu atau tidur”

“Bolehkah aku berjalan-jalan?”

“Tidak, Minhye”

“Oh, baiklah”

Sehun mengelus rambutku.

“Aku pergi dulu. Baik-baik, Minhye-yah”

“Hmm. Hati-hati”

Chu~

Sehun mengecup pipiku sebelum berlari ke pintu.

“Aku pergi!”

Blamm…

Aku mendengar bunyi pintu depan rumah dikunci. Rumah yang sempit dan serba dekat begini membuat indra pendengaranku semakin tajam. Ditambah lagi penglihatanku yang sudah tak bisa digunakan. Aku hanya bisa meraba dan mendengarkan apa yang terlintas di sekitarku.

Hening. Rupanya Sehun sudah berangkat ke sekolah. Aku menghela nafasku. Sebenarnya aku bosan di rumah. Tapi.. Apa yang bisa kulakukan?

Aku kembali berbaring di kasur. Menatap langit-langit kamar yang sebenarnya sama sekali tak bisa kulihat.

Apa bisa suatu hari nanti hidupku akan berubah?

~~

~~

“Hyemi-yah, ppali!”

“Hmmm!!!”

Aku langsung mengambil roti dan menjejalkannya di mulutku. Beberapa bagian tak bisa masuk dan kubiarkan menjuntai di luar. Aku memakai ranselku dan setengah berlari menuju pintu depan. Memakai sepatu acak-acakan dan masuk ke mobil.

“Aigoo.. Aku tak percaya aku punya dongsaeng sepertimu” ucapnya tepat saat melihatku sudah duduk di samping kursi mengemudi dengan rambut acak-acakan dan roti di mulut. Aku menonjok pelan pundaknya dan memberinya death-glare.

Aku mendengar ia menyalakan mesin dan mobil pun berjalan di jalanan Seoul yang telah ramai.

Aku menghela nafasku. Melihat ke arah pertokoan di sepanjang jalan. Oppaku memang jarang membolehkanku pergi shopping sendirian atau bersama temanku. Yaa.. Mengingat kami punya masa lalu yang sangat mengerikan juga membuatku ikut takut.

Aku menutup kedua mataku. Mengingat ingatan masa kecil itu kembali mengalir dipikiranku. Entah kenapa begitu mengingat itu hatiku merasa janggal.

“Kau sakit, Hyemin?”

“Hah?” Aku membuka mataku dan menoleh ke arahnya. “Ah, ani. Gwenchana”

Aku meraba pergelangan tanganku dan melihat gelang yang terlingkar disana. Waktu aku bangun dulu, ini sudah terpakai disana.

“Wae?”

“Aniyo”

Aku kembali memandang oppaku. Tapi bukan oppa ku kalau dengan jawaban itu ia langsung percaya.

“Haah. Hanya saja.. Mengapa aku tak kunjung mengingatmu, oppa?”

Alisnya menyatu. Aku mendengarnya menghela nafas kuat.

“Kim Hyemi. Harus kukatakan berapa kali hingga kau paham, hm?”

Aku hanya tersenyum tersipu.

“Bukan hanya kau saja. Ingatanku pun juga belum kembali. Tapi bukannya kita sudah berjanji kalau kita harus percaya satu sama lain? Bahwa kau adalah dongsaengku, dan aku adalah oppa mu?”

Aku mengangguk. Pandanganku mengarah ke beberapa orang yang sedang berjalan di trotoar.

“Suatu saat nanti ingatan kita akan kembali, Hyemi. Pasti. Jadi sekarang kenapa tidak untuk menikmati dulu?”

“Hm”

Kepalaku bersenden di kursi. Melihat bayangan oppaku yang kembali fokus pada jalanan di depannya.

Bagaimana jika.. kenyataannya dia bukanlah oppaku?

Pertanyaan itu terus muncul di otakku sejak dulu. Tapi dengan sifatnya yang ia tunjukan padaku, aku bisa menepis pikiran buruk itu. Tapi.. Aku kembali berandai. Ingatanku sejak dulu tak kunjung pulih. Aku hanya percaya apa yang mereka katakan tentangku.

Aku melihat pantulan dirinya. Kulitnya kehitaman, dengan rambut berponi dan berwarna kemerahan -yang kutaku baru saja ia cat-, tubuhnya yang tinggi dengan otot karena ia sering pergi ke gym.

Oh, siapa yang tak jatuh cinta saat melihatnya? Tidak! Aku menggeleng. Dia adalah oppa ku. Aku tak boleh jatuh cinta padanya.

Ckittt…

“Sudah sampai”

Aku tersadar dari lamunanku. Dan melihat sekolahku yang sudah berada di depan mata. Astaga, perjalanan 30 menit benar-benar tak terasa.

Aku memakai kembali ranselku dan mengecup pipi oppaku.

“Aku pergi”

“Hati-hati, dan belajar yang rajin. Sebentar lagi kau masuk kuliah”

“Arra! Oppa juga hati-hati. Kalau sedang dance lihat-lihat waktu. Jangan sampai kau membuat kakimu cedera seperti waktu kemarin”

Ia mengangguk. Aku tersenyum dan melambai padanya sebelum menutup rapat pintu mobil. Aku berjalan riang ke arah sekolah.

Aku menoleh kembali dan melihat mobil Jongin oppa sudah pergi. Aku ingin kembali berjalan saat tanpa sengaja aku menabrak bahu seorang namja membuatku terjungkal dan hampir jatuh kalau saja namja itu tak membantu ku menahan tubuhku.

“Ah, mianhae”

Aku terdiam membeku. Hanya memandang ke dalam matanya. Seakan aku tersesat dan tak bisa keluar dari mata coklatnya.

“Hey… Hm.. Kim Hyemi?”

Lamunanku buyar. Aku segera melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang ku dan berdiri tegak. Sial! Pandangan semua murid tertuju pada kami. Aku berusaha menyembunyikan wajahku yang merona.

“Ah, mian telah menabrakmu”

“Gwenchana. Apa kau baik-baik saja?”

Aku mengangguk. Masih tak mau mengangkat wajahku. Terlalu malu untuk memandangnya.

“Kau terluka?”

Aku menggeleng. Sedikit-sedikit aku mulai mengangkat wajahku dan memandangnya. Perasaan ini lagi. Detak jantungku yang entah mengapa tiba-tiba berdetak kencang sekali.

Aku melirik name-tag nya. Oh Sehun.

“Hm, kau baik-baik saja?”

Lamunanku buyar. Sial! Lagi-lagi ia memergokiku sedang memandangnya. Astaga.. Betapa malunya aku!

“Ah, iya. Aku baik-baik saja”

“Kalau begitu, aku duluan, hm, Hyemi-ssi”

Aku mengangguk.

“Sampai nanti, Sehun-ah”

Ia sedikit terlonjak kaget. Mungkin ia bertanya dalam hati kenapa aku tau namanya. Jeongmal paboya, Hyemi! Aku mengunci mulutku dan menunjuk ke arah name-tag nya.

“Aku membaca namamu”

“Ah, ne. Sampai nanti juga”

Dengan itu ia berjalan mendahuluiku. Menyusul beberapa temannya yang berjalan berkelompok. Aku terdiam di tempat. Melihat badannya dari belakang yang semakin lama semakin menjauh dan hilang dari pandanganku.

Oh Sehun

Kenapa aku tak bertemu dengannya lebih awal? Astaga! Dia sungguh tampan! Demi Tuhan!

Aku kembali berjalan dengan senyum di bibirku yang tak henti hilang. Aku menaruh tanganku di dada. Astaga.. Perasaan ini lagi.

Benar, aku harus mengorek informasi tentangnya lebih banyak! Oh, Kim Hyemi. Kau begitu dewasa sekarang. Kau bahkan bisa jatuh cinta dengan namja lain selain oppa mu! Apa itu sebuah keajaiban?

Senyum itu tak kunjung sirna. Aku tak peduli dengan murid lain yang memandangku aneh. Oh Sehun, aku akan mendapatkanmu!

~~

Kring… Kring…

Aku menghela nafas lega. Setidaknya 7 jam -lebih- sekolah telah usai. Aku membereskan barangku dan sebelum murid tak diundang datang ke tempatku, aku sudah lebih dulu pergi ke luar kelas. Aku memakai ransel dan setengah berlari ke arah gerbang. Tadi pagi aku sudah berjanji pada Minhye untuk mengantarnya pergi ke perpustakaan. Aku tak boleh mengecewakannya!

***

“Ah, Sehun. Kau sudah datang” ucapnya saat aku membuka kamarnya dan mendapatinya sudah berpakaian rapi dan duduk di tepi kasur. Aku menghela nafas lega. Setidaknya ia baik-baik saja.

Aku tersenyum dan berjalan mendekat ke arahnya. Mengecup puncak kepalanya dan menggenggam tangannya.

“Aku akan menuntunmu ke ruang tamu. Tunggu disana aku akan berganti baju, ne?”

Ia mengangguk. Aku membantunya berdiri dan berjalan hingga di ruang tamu dan menutunnya duduk di sofa usang kami.

Aku bergegas ke kamar dan mengganti baju seragamku dengan baju kerja part-time ku. Setengah berlari aku kembali ke ruang tamu.

“Kajja”

Minhye kembali memeluk tanganku. Aku menutup pintu dan memastikan itu sudah terkunci sebelum kami berjalan ke luar halaman dan berbaur dengan sejumlah orang yang juga berjalan di trotoar. Aku merasa genggaman tangan Minhye yang mengerat. Jelas ia ketakutan.

“Gwenchana, aku disini, Minhye-yah”

Aku bisa mendengar ia bernafas lega. Aku tersenyum miris melihat itu. Betapa Minhye mempercayakanku pada seluruh hidupnya. Bagaimana jika dulu kita berdua tak bertemu? Oh, aku tak bisa membayangkan itu.

Kami berhenti pada gedung tinggi bertingkat yang sederhana ini. Aku menuntunnya masuk dan mengisi buku tamu. Ia kembali memeluk tanganku erat. Kami berjalan hingga ke rak buku khusus. Mencari beberapa buku yang judulnya di tulis dengan huruf braile. Aku melihat Minhye tersenyum saat akhirnya mendapatkan buku yang dicarinya.

“Aku menemukannya” bisiknya.

Aku menghampirinya dan ia langsung memeluk lagi tanganku.

“Kajja, kita cari tempat duduk”

~~

~~

“Aaiisssh” geramku. Aku meletakkan kepalaku di atas meja dengan rasa frustasi yang begitu dalam.

“Dasar songsaenim sialan!” Umpatku. Aku tampak seperti manusia tanpa nyawa sekarang.

Aku bisa mendengar Yixing, atau Lay, kawan sebangkuku tertawa sangat keras. Ia menepuk pundakku.

“Sabar dan selamat mengerjakan, Kai. Aku akan berlatih dance dulu. Sampai bertemu besok”

Lagi-lagi aku menghela nafas. Kenapa harus ini, tugasnya? Songsaenim menyuruh kami membuat makalah tentang sejarah menari. Dan bahannya, harus dari buku! Bukannya internet. Bukan berarti sekolah kami tak ada perpustakaan, tapi, yang namanya sejarah pasti mengharuskan kami pergi ke perpustakaan umum dimana buku disana lebih banyak!

Sialan. Padahal aku masuk Art School karena betapa aku membenci belajar pelajaran Matematika dan membaca buku tebal, dan pergi ke perpustakaan. Dan sekarang aku harus kesana karena mengerjakan tugas bodoh ini? Siaal!!! Hari ini adalah hari paling sial seumur hidupku!

Aku kembali duduk dengan benar. Melonggarkan dasiku dan memakai ransel hanya di satu pundak. Aku keluar kelas dengan emosi. Baru saja keluar kelas, aku sudah disambut dengan sekelompok murid yang tampak menggerumbul. Ada apa ini?

Aku ikut berdiri disana dan melihat. Oh, dia. Aku memutar mataku kesal dan berjalan tak menghiraukan. Aku melihat beberapa murid yeoja yang tampak berbisik sambil sesekali melihat ke arahku. Aku mendengar bisikan -kencang- mereka.

‘Ya, kau tau? Jongin, oh ani, Kai dan Sora sudah putus!’

‘Astaga! Apa benar? Waah. Kesempatan baik. Itu berarti Jongin sedang single benar?’

‘Hm! Dan kau tau? Sekarang Sora sudah punya pacar lagi!’

‘Omo! Benar? Siapa dia?’

‘Kris! Kau tau Kris? Itu.. Yang murid baru pindah dari Kanada’

‘Kris yang itu? Huaaa padahal kan dia tampan sekali’

‘Hei, hei! Itu tak seberapa. Katanya Jongin sempat meminta-minta pada Sora agar mereka tak putus’

‘Oh! Ditambah katanya Jongin sempat menyesal dan bahkan menangis saat Sora memutuskannya!’

Langkahku terhenti. Siapa yang berani mengatakan gosip begitu? Aku berbalik dan berjalan ke kelompok yeoja itu. Membuat beberapa diantaranya ternganga dan matanya membulat. Beberapa juga berteriak kegirangan. Huh, kau senang?

Aku meninju tembok tepat di samping mereka. Mereka semua langsung menutup mulutnya dan menunduk takut.

“Aku tak tau siapa yang beraninya menyebar gosip yang tak ada benarnya begitu”

Aku meraih dagu salah satu yeoja disana dan membuatnya menatap mataku seperti ingin membunuh mereka.

“Dan aku tak akan tinggal diam jika sampai detik ini masih ada yang percaya dengan gosip sialan itu dan tetap menyebarkannya”

Dang!

Aku memukul kembali tembok disamping mereka. Mereka semua memandangku dengan tatapan horor. Begitu juga dengan yeoja ini. Mereka semua mundur perlahan.

“Mi-mianhaeyo sunbaenim”

Setelah itu mereka lari secepat-cepatnya dari hadapanku. Aku melipat tanganku di dada. Tsk. Jung Sora. Aku berbalik dan kembali berjalan.

Bahkan dalam waktu semalam aku bisa melupakanmu. Dan semua kenangan palsu yang kau buat seakan-akan kau mencintaiku. Dasar wanita murahan!

~~

Trakk..

“Siapa?”

“Dari cafè”

Sehun menghela nafasnya. Ia mengelus rambutku. Uh-oh. Pasti sedang ada masalah.

“Kenapa? Apa Lee sajangmin menyuruhmu ke cafè sekarang?”

“Hm”

Aku tersenyum.

“Pergilah. Mereka membutuhkanmu”

“Tapi.. Kau?”

“Aku akan menunggumu disini sampai kau pulang. Kau tau butuh waktu lama menyelesaikan buku setebal ini. Jangan khawatir”

“Baiklah. Tunggu aku disini, ne?”

Aku mengangguk. Setelah itu aku merasa bibir Sehun yang mendarat mulus di pipiku.

“Kau tau aku selalu… Mencintaimu, Minhye”

Aku terdiam. Mulutku terbuka tapi tak ada sepatah katapun yang keluar dari sana.

“Ah, ne. Aku tau. Aku pergi dulu”

Beruntung sebelum ia pergi, aku bisa menahan tangannya. Sehun kembali duduk dan aku rasa ia tengah memandangku heran. Walaupun aku tak bisa melihatnya sama sekali.

“Beri aku waktu untuk menumbuhkan rasa itu, Sehun. Sebentar lagi, saja”

Ia mengelus rambutku dan menciumku lagi. Kali ini di kepala.

“Kau tau aku selalu menunggumu, Minhye. Selama apapun itu”

Aku tersenyum dan melepaskan tangannya.

“Hati-hati. Kembalilah dengan selamat”

“Hm”

Setelah itu aku tak merasakan lagi hangat tubuhnya disini. Ah, Sehun sudah pergi. Aku kembali fokus pada bukuku. Meletakkan tanganku diatas halaman buku itu dan berusaha membacanya dengan meraba. Tapi ternyata pikiranku melayang pada ucapan Sehun tadi.

Aku berhenti membaca. Menopang daguku dengan tangan dan kembali berpikir. Sudah lama sejak Sehun mengungkapkan itu padaku. Ada apa denganku sebenarnya? Aku dan Sehun sudah berteman selama, hm, 6 tahun mungkin. Dan itulah yang membuat keadaan semakin susah.

Sehun yang selalu membantuku, membuatku berpikir ia sudah seperti oppa kandungku sendiri. Meskipun yang kutahu bahwa oppa kandungku, Jongdae sudah meninggal waktu aku berumur 7 tahun. Aku meraih kalungku yang berada di leher dan merabanya.

Oppa.. Betapa aku merindukanmu..

“Hm.. Agassi? Apa bangku ini kosong? Boleh aku duduk disini?”

Suaranya sedikit berat tapi terdengar bijaksana. Kalau kudengar ia tipikal namja yang suka pergi bersama teman-temannya. Aku mengangguk.

“Silahkan duduk”

Aku mendengar kursi sebelah ku ditarik dan ia duduk. Dari cara duduknya, aku menduga badannya tinggi. Dan ia kurus. Aku mendengar suara buku tebal yang diletakkan di atas meja. Ah, sepertinya ia anak sekolahan yang sedang mencari tugas. Aku mendengar ia menghela nafas kesal. Haha. Sepertinya ia sedang kesal. Mungkin karena songsaenimnya memberikan tugas yang bukan-bukan padanya! Malangnya.

Aku mendengar siku tangannya yang diletakkan di atas meja. Oh, rupanya ia merasa bosan. Aku tersenyum. Sampai lupa kalau aku juga sedang membaca.

Aku kembali meletakkan tanganku di atas lembaran buku dan merabanya. Berusaha menerjemahkan kata demi kata.

Tapi sejenak aku berhenti saat merasa seseorang sedang memperhatikanku. Aku menoleh ke samping.

“Ya?”

“Ah, ani”

Aku kembali fokus membaca lagi. Aku tersenyum di beberapa bagian. Ternyata buku ini sedikit lucu.

“Agassi…”

Aku berhenti dan menoleh padanya. Ah, bocah ini.

“Ya?”

“Apa kau.. Buta?”

Aku tersenyum miris dan mengangguk. Segenap perasaan sedih, kecewa, itupun kembali menyeruak di hatiku. Aku tak bisa menahan air mataku yang jatuh.

“Ah, mianhae. Aku tak bermaksud-”

“Tak apa. Aku sudah biasa ditanya seperti itu”

Aku beranjak dari dudukku dan berusaha berjalan pergi darisana. Tidak. Aku belum pernah merasakan berjalan tanpa dituntun Sehun. Aku merasa takut. Tapi aku harus, sebelum air mata ini kembali jatuh mengalir di pipiku.

“A-agassi!”

Aku terjatuh. Badanku bergetar takut. Aku merasa sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku langsung menepisnya.

“Tidak… Menjauh dariku!”

Dia terdiam. Tapi aku tau ia masih berjongkok di depanku.

“Apa yang kalian lihat? Ini bukan tontonan umum! Kembalilah pada urusan kalian masing-masing!”

Aku terdiam. Namja ini… Baik sekali. Tak banyak yang mau menolongku sepertinya. Aku merasa tangannya kembali menyentuh pundakku. Kali ini aku tak menepisnya.

“Agassi.. Kau baik-baik saja?”

Aku mengangguk.

“Katakan aku harus melakukan apa”

“Bantu aku berdiri dan duduk di tempatku semula”

“Baiklah”

Ia menggenggam tanganku dan sedikit menarik tanganku berdiri. Aku berteriak lirih. Badanku limbrung ingin terjatuh -karena aku tak siap- tapi tangannya melingkar di pinggangku, mencegahku untuk kembali terjatuh.

“Ja-jangan tarik tanganku. Biarkan aku yang memegang tanganmu”

“Ah, apa begitu? Mian. Seharusnya kau memberitahuku dari awal”

Aku mengangguk.

“Kau baik-baik saja?”

Aku kembali mengangguk. Merasakan terpaan nafas hangatnya di rambutku. Aku tak terbiasa. Hanya Sehun yang pernah melakukan itu padaku.

“Aku- aku ingin duduk”

Ia mendudukkanku kembali di posisi awal dan melepaskan tanganku. Aku bernafas lega.

“Gomawo”

~~

Aku kembali melihatnya. Yeoja ini. Aku merogoh saku seragamku dan memberinya selembar tisu. Oh, iya aku lupa. Aku menepuk pelan pundaknya.

“Kau ingin tissue?”

Ia mengangguk.

“Berikan tanganmu”

Ia membuka tangannya tepat di depan wajahku dan aku menaruh tissue itu ditangannya dan menutup tangannya.

“Gomawo”

Aku tersenyum. Ia menghapus air mata dan menyeka hidungnya. Ah, aku berpikir berapa umur yeoja ini. Dia begitu cantik. Sayang ia buta. Tapi tak ada salahnya bukan mencintai orang buta? Tunggu. Apa yang sedang kubicarakan?

“Ada apa?”

Oh, rupanya ia merasa kalau aku sedang memperhatikannya.

“Tidak. Aku hanya berpikir kalau apa boleh kita berkenalan”

“Berkenalan?”

“Hm”

“Kenapa?”

“Apa tidak boleh kalau aku tau namamu, kau tau namaku, dan kita menjadi teman?”

“Tak ada orang yang mau berteman denganku. Kau aneh”

“Kalau begitu, aku bukan orang itu. Aku adalah orang yang ingin berteman denganmu”

Ia tak menjawab. Dan hanya memandangku dengan mata kosongnya. Aku meraih tangannya. Walau ia sedikit terlonjak kaget, tapi aku tak melepaskannya.

“Kim Jongin imnida. Kau boleh memanggilku Kai. Umurku 19 tahun”

Ia terdiam. Terlihat ragu apa ia harus mengenalkan dirinya juga atau tidak.

“Kang Minhye. Aku dua tahun lebih muda darimu”

“Benarkah? Bulan apa kau lahir?”

“15 oktober”

“Wah. Kalau begitu pertama kau harus memanggilku oppa, dan yang kedua kau ternyata seumuran dengan yeodongsaengku. Dan tanggal lahir kalian sama!”

“Ah, benarkah?”

Aku mengangguk. Padahal aku lupa kalau ia tak bisa melihat. Aku hanya menggumam mengiyakan.

Ia berbalik. Melihat ke arah pintu masuk perpustakaan. Aku mengikuti ke arah mana ia memandang. Seorang namja tengah berlari ke arah kami.

“Ah, oppa ku sudah datang. Aku harus kembali pulang”

Ia berdiri dan membereskan bukunya. Dari jarak segitu ia bisa mengenali sosok seseorang? Daebak.

“Oppa? Dia oppa kandungmu?”

“Ani.. Aku. Dia. Hm, kami bertemu di panti asuhan. Karena kami sudah besar maka kami tinggal bersama”

“Jinjja?”

“Hm. Tapi ia sudah seperti oppa kandungku. Aku menyayanginya”

“Ah, baiklah”

Ia memeluk bukunya dan membelakangi ku.

“Ah, Minhye-ssi!”

Ia menoleh dari bahunya. Melihat ku kembali pada tatapan kosongnya.

“Bisa kita bertemu lagi?”

“Tentu. Bukannya kita teman?”

“Bagaimana jika besok? Mungkin kau bisa membantuku mengarang kata-kata untuk makalah tugasku”

Ia mengangguk dan membalas tersenyum ke arahku. Aku bersumpah senyum itu adalah senyum termanis yang pernah aku lihat. Bahkan senyum umma dan Hyemipun kalah. Dan itu sukses membuat jantungku berdetak cepat.

“Aku akan menunggumu disini. Tepat jam segini. Sampai nanti, Jongin”

Jongin… Entah kenapa suaranya ketika mengucap namaku membuat mulutku ternganga. Aku begitu terbuai. Suaranya terdengar begitu merdu di telingaku. Dan aku tak merasa saat namja yang ia bilang ‘oppa’nya telah berada di depannya dan membuat tangannya memeluk tangan namja ‘oppa’ nya tadi. Namja tadi melihatku heran dan menuntun Minhye menjauh. Sayup-sayup aku mendengar ucapannya.

‘Ada apa dengan namja itu? Ia ternganga melihatmu’

‘Jinjja? Hahaha. Aniyo. Dia hanya teman baruku’

‘Teman? Jadi sekarang aku apa bagimu?’

‘Lebih tinggi derajatnya dari status teman’

‘Apa itu berarti kau menerimaku jadi pacarmu?’

‘Tidak’

‘Yah, Minhye!’

Tunggu! Aku tak salah dengar bukan? Pacar? Siapa yang jadi pacarnya? Dia? Bukannya Minhye tadi bilang dia adalah oppanya?

Sial!

Besok. Aku akan mencari semua informasi tentangmu, Minhye. Karena yang aku tau, aku rupanya mulai tertarik padamu.

-TBC-

About teenagerfanficindo

Fanfiction all rating and all fandoms especially for Kpop-Lovers in Bahasa^^.

Posted on September 21, 2013, in NC-17, NC-21, PG, Romance, School Life, Tragedy, Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 11 Comments.

  1. Ffnya keren bangetttttttttt
    Omg makin penasaran ama jalan ceritanya

  2. lanjut lanjut thor.. keren bgt critanya

  3. aigo… lanjutin, chingu…
    bagus nih prolog ny…😀

  4. fitria chanyeol

    haa, tbc. seru thor ceritanya. aku suka sehun yg udah baik bgt sm minhye. ehehe, kai jg suka sm minhye. aku mikirnya minhye tuh kembarannya hyemin. tp minhye ditaro di panti krn buta, makanya ktemu sehun. haha, #sotoy. next thor..

  5. next part…wah tukar pasangan nieh akhirx…

  6. omo lanjut thor:( keren nih ceritanya:) cepet ne

  7. vierly cornelia agustin

    Wawww serruuu, lanjut thor

  8. ahh.. TBC yg tak diharapkan -,-
    LANJUTKAN thor!! ><
    ini kayaknya bakalan keren bgt, hyemin sama minhye ini kembar yg terpisah kayaknya, penasaran sama status kai & sehun mereka siapanya hyemin sama minhye xD

  9. bagus…. aku suka

  10. Wahh mulai rumit nih ,, hyemin suka sehun , sehun suka minhye , tp tauu deh minhye suka siapa , sdngkan kai suka sama minhye , dan kok bisa hyemin sama kai lupa ingatan ??

  11. author aku pengunjung baru di blog ini. aku cari lanjutan chapter ff ini kok gak nemu ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: