I’m Back (Sequel of ‘Guardian Angel’ : Luhan ver.)

Author : JS
Genre : Romance

Cast :
– Lee Sungkyu
– Luhan

Note : Annyeong^^ hehehe. Kayaknya lama yaa blog ini hiatus kekekeke. Author publish ff lagi nih😉

happy reading!

Ps: karena kemarin yang di ff Guardian Angel banyak yang minta versi member lain, jadi author sebisa mungkin mengabulkan! >< tapi Luhan dulu ya. Yang minta Kyungsoo, Baekhyun, Sehun, Kai, Lay, Chen.. Sabar yaa hehee

~~

******

Canda dan tawa bisa didengarnya. Sebuah senyum terlukis di bibir Luhan. Entah mengapa ia tak pernah bosan melihat pemandangan itu. Betapa ia merindukan orang tersebut, yang sekarang tampak begitu jauh darinya.

“Luhan?”

Badan Luhan menegak. Ia menoleh ke belakang dan melihat Kris berjalan ke arahnya. Namja itu ikut duduk di sebelah Luhan dan melihat ke arah Luhan memandang tadi.

“Apa kau tak bosan melihat dia terus?”

“Tidak. Aku selalu penasaran apa yang sedang dilakukannya. Dia terlihat lebih bahagia, hyung”

“Ya. Suho telah memilih pilihan yang tepat. Itu adalah takdirnya”

Luhan mendengar Kris menghela nafas cukup kuat. Apa namja ini punya masalah?

“Aku ingin berbicara denganmu, Luhan. Sebaiknya kau ikut aku”

Luhan mengangguk. Ia melihat sebentar ke arah Suho tadi. Ah, betapa ia merindukan dongsaengnya itu.

“Luhan?”

Lamunan Luhan buyar. Setengah berlari ia menyusul Kris.

****

“Bertransformasi? Hyung.. Jangan bercanda”

Luhan dilanda kepanikan tingkat tinggi. Jari-jari tangannya pun bahkan bergetar. Ia menatap Kris dengan panik, tapi tidak dengan Kris yang sedang duduk tenang di singgahsananya.

Kris menghela nafasnya. Ia memandang Luhan tajam.

“Ya. Ini tugas barumu, Luhan. Kau harus bertransformasi jadi manusia dan menyelamatkannya”

“Nya?”

“Lee Sungkyu, 18 th. seorang putri sematawayang dari seorang konglomerat. Nyawanya terancam akan dibunuh sekelompok mafia yang ingin mengambil kekayaan appa nya”

“Lalu apa hubungannya denganku?”

“Kau harus menjadi manusia, berteman dengannya, dan menyelamatkannya”

“Itu saja?”

“Jangan kira ini tugas mudah, Luhan”

“Kenapa tak kau suruh yang lain saja? Seperti Chanyeol atau kyungsoo misalnya..”

“Menurutku tugas ini sangat cocok denganmu, Luhan”

Mulut Luhan terbungkam. Cocok dengannya? Seperti tersimpan maksud dibalik perkataan Kris. Tapi Luhan tak bisa menangkap apa maksudnya. Alis Luhan mengernyit heran.

“Kurasa, kau sudah paham semuanya. Tugasmu berlaku dari besok”

“A-Apa?!”

“Kau mendengarku, Luhan. Sebaiknya kau kembali dan beristirahat”

Luhan meneguk saliva nya susah. Mulai besok… Siap tidak siap ia sudah harus melakukan tugas ini.

~~

~~

“S-sungkyu-ssi.. Bo-bolehkan aku menjadi temanmu?”

Seorang yeoja berdiri tepat di depan Sungkyu. Beberapa murid yang bergerumbul di dekat mereka berdua terlihat berbisik nyaring. Sebenarnya Sungkyu bisa mendengar dengan jelas bisikan mereka.

‘Astaga.. Beraninya dia berbicara dengan Sungkyu!’

‘Ya… Mana ada orang yang mau berteman dengan yeoja dingin dan cuek layaknya Sungkyu’

‘Dia kan kaya, pantas banyak yang mau jadi temannya’

Gigi Sungkyu menggertak emosi. Tapi ia segera menyembunyikannya. Sungkyu menatap yeoja ini dengan emosi yang ditahannya.

“Tidak”

Sungkyu segera pergi dari sana. Menabrak bahu yeoja itu dan berlalu. Ia tak peduli bisikan kasar tentangnya. Ia hanya terus berjalan.

Langkahnya berhenti di atap sekolah. Kejadian tadi terus berputar di otaknya. Sungkyu menghela nafasnya kesal.

“AAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!”

Ia berteriak sekencang-kencangnya. Tak ada yang bisa mendengarnya. Ditambah jarang ada yang ke atap sekolah. Sungkyu duduk bersila disana. Tak terasa air matanya jatuh menitik. Tak pernah ada orang yang melihatnya tanpa melihat status keluarganya.

Sungkyu buru-buru menghapus air matanya.

“Hei, kau baik-baik saja?”

Badan Sungkyu terlonjak kaget. Ia menoleh horor dan mendapati seorang namja tengah membungkuk di sebelahnya. Dari mana datangnya namja ini? Tadi rasanya ia mengunci pintu sebelum naik ke sini. Alis Sungkyu mengernyit.

“Kau siapa?”

Namja itu duduk di samping Sungkyu. Sungkyu tak pernah melihat wajah namja ini. Mungkin anak baru.

‘Tampan….. Ha? Apa yang baru saja kukatakan?’

Sungkyu menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha mengusir pikiran aneh yang merasuk.

“Luhan imnida. Aku anak baru”

Sungkyu hanya menganggukkan kepalanya. Ia tak menjawab pertanyaan Luhan atau menanggapinya. Sudah seperti kebiasaan. Terkadang kalau bertemu dengan orang baru, Sungkyu bahkan ragu apakah orang ini memang sengaja baik padanya karena ia ingin menjadi temannya atau karena statusnya?

“Siapa namamu?”

“Sungkyu”

Keadaan menjadi hening. Sungkyu sedang asik menikmati angin yang menerpa wajahnya.

“Uhm.. Boleh aku menjadi temanmu? Aku anak baru disini, jadi-”

“Tidak”

Lidah Luhan seakan kelu. Ia menduga bahwa Sungkyu akan dengan mudahnya menerimanya menjadi temannya. Namun ia rasa perkiraannya salah.

“Kenapa tidak?”

“Cari saja teman lain. Dari sekian banyak murid disini kenapa harus aku? Tsk.”

Mata Luhan membulat. Jadi apakah Sungkyu menduga ia ingin jadi temannya hanya karena ia kaya? Begitu?

“A-ani. Aku bukannya mau jadi temanmu karena kau kaya. Sungkyu-ssi-”

“Kenapa kau tau kalau aku kaya? Kau membuatku semakin curiga, Luhan-ssi. Sebaiknya kita tak usah berteman”

Dengan itu Sungkyu berdiri dan meninggalkan Luhan mematung dengan mulut yang setengah terbuka. Luhan mengacak rambutnya frustasi.

“Aissshh! Yeoja itu! Jinjja!!”

~~

~~

Sungkyu kembali tenggelam dalam buku tebalnya. Entah keberapa kali ia membaca buku astronomi ini tapi ia tak pernah bosan. Matanya menangkap kata demi kata yang menjabarkan tentang bintang, sampai ia mendengar seseorang menggeser kursi di sebelahnya dan duduk disana.

“Hei, Sungkyu. Kita bertemu lagi”

Sungkyu menutup bukunya dan pergi dari sana. Sungguh, namja yang tadi siang! Ia benar-benar tak suka diganggu kalau sedang membaca. Tapi namja ini begitu mengusiknya. Sungkyu berhenti di salah satu rak buku yang sepi dan melanjutkan membaca bukunya sambil berdiri.

“Kau begitu suka membaca tentang bintang?”

Namja ini lagi. Ugh, kapan namja ini berhenti mengganggunya? Apa komentar pedasnya tadi siang tak cukup membuatnya mundur? Memang apa yang diinginkan namja ini sebenarnya.

“Menjauhlah, Luhan. Kau tak lihat aku sedang membaca?”

“Hm, aku punya beberapa buku tentang bintang di rumah. Kalau kau ingin pinjam-”

“Tidak, terimakasih”

Sungkyu memotong kalimat Luhan kasar. Ia berlalu dari hadapan Luhan dan mengembalikan buku itu di rak. Luhan tidak menyerah, ia terus mengikuti kemana Sungkyu pergi.

“Kau suka astronomi, benar?”

Luhan berhenti di rak buku tentang astronomi. Semua tentang bulan, planet, dan bintang dengan buku yang sangat tebal. Ia melirik ke arah Sungkyu yang cuek dengan omongannya. Luhan menghela nafasnya. Apa lagi yang harus ia lakukan?

“Ugh…”

Ia menoleh ke arah Sungkyu. Dilihatnya yeoja ini sedang berjinjit ingin mengambil buku di rak paling atas. Luhan tersenyum. Ini kesempatannya.

Luhan berjalan ke belakang tubuh Sungkyu dan mengambil buku itu. Sungkyu lantas terkejut. Badannya membeku. Punggungnya menempel pada badan Luhan.

“Kau ingin mengambil ini?”

Entah karena apa, badan Sungkyu reflek berbalik. Ia mendongak dan melihat mata coklat Luhan. Ah, betapa indahnya mata itu. Sungkyu seperti tenggelam disana.

Lama mereka berdiri seperti itu hingga Luhan menyadari suatu hal. Mata Sungkyu yang berwarna kebiruan. Pasti nampak sekali bahwa yeoja ini blesteran. Ditambah rambut Sungkyu yang dibiarkan terurai sebahu, dan wajah yang sangat cantik. Luhan menjilat bibirnya. Dengan jarak sedekat itu, Luhan bisa mendengar nafas Sungkyu yang teratur. Luhan meneguk saliva nya susah.

Ia memandang ke arah bibir Sungkyu. Tak tau karena dorongan apa, Luhan tiba-tiba berpikir apa ia bisa mencicipi bibir itu? Kenapa tidak?

Wajah Luhan mendekat dan ia menempelkan bibirnya tepat di bibir Sungkyu. Mata Sungkyu membulat. Baru kali ini seorang namja menciumnya!

Ia hanya terdiam dan membiarkan Luhan mencecap bibirnya, tapi Sungkyu segera sadar. Ia mendorong kuat tubuh Luhan hingga Ia jatuh terduduk di lantai. Mata Sungkyu menyilatkan amarah.

“Dasar lancang!”

Luhan seketika itu panik. Ia segera berdiri dan menggapai tangan Sungkyu.

“Mianhae. Aku tak bermaksud-”

“Aku tak butuh penjelasanmu. Apa kau sudah puas bisa menciumku?”

Alis Luhan mengeryit bingung. Apa maksud yeoja ini? Sudah puas bagaimana?

“Tsk. Pura-pura tidak tau ya?”

Luhan jadi semakin bingung. Sungkyu menghempas paksa tangan Luhan yang sedari tadi menggenggam pergelangan tangannya.

“Ini adalah salah satu permainanmu dengan temanmu benar? Aku tau. Kau pasti taruhan dengan temanmu untuk bisa menciumku, ya kan? Kau berhasil. Selamat”

Luhan segera sadar apa yang dimaksud Sungkyu tadi. Tapi sebelum yeoja itu pergi, Luhan menarik tangannya hingga ia terlonjak kembali ke belakang.

“Aku tidak setega itu padamu, Sungkyu”

“Lalu apa? Kepuasan batin karena bisa mempermainkanku?”

“Aku tidak serendah itu!”

“Dengar, Luhan-ssi. Aku tak pernah percaya seorang pun di dunia ini kecuali keluargaku. Semua orang itu licik, mereka semua hanya sampah-”

“Jaga omonganmu, Lee Sungkyu”

“Woh, kenapa? Kau baru tau bahwa Sungkyu orang-yang-ingin-kau-jadikan-teman-ini adalah orang yang seperti ini? Kau kaget?”

Luhan kehabisa kata-kata. Emosinya memuncak. Ia tak habis pikir.

“Dengar, Sungkyu. Bukan sementang-mentang kau adalah orang kaya lalu kau bisa menghina kami, orang dibawahmu!”

“Tidak!” Nada Sungkyu semakin meninggi. Ia seakan tak perduli dimana ia sekarang.

“Kau tak mengerti, Luhan. Semua orang ingin berteman denganku hanya karena statusku. Mereka hanya ingin uangku”

“Kau salah, Sungkyu. Yang seperti itu hanya sebagian kecil. Kau harus membuka hatimu, agar kau bisa tau yang mana yang ingin menjadi temanmu, yang mana yang tidak”

“Kau tak mengerti, Luhan. Seorangpun tak pernah mengerti bagaimana perasaanku!!”

****

Sungkyu melempar batu ke arah Sungai Han. Ia benar-benar kesal. Air mata tak berhenti mengalir dari pelupuk matanya. Ia mengambil tissue di kantongnya dan mengelap mata serta hidungnya.

Sungkyu menoleh ke belakang. Dari tadi ia merasa seseorang sedang memata-matai nya. Jantungnya berdetak cepat. Ia merapatkan mantelnya dan menaikkan hoodienya. Sungkyu segera pergi dari tempatnya.

Ia berbaur dengan sekumpulan orang yang sedang sibuk berjalan ke arah tujuannya masing-masing di trotoar. Sesekali ia menoleh kebelakang. Dua orang namja dengan jaket kulit coklat dan hitam dan kecamata serta topi yang menutupi wajahnya. Sungkyu benar-benar tak bisa mengenali wajahnya, tapi ia tau dirinya sedang diintai!

Langkah Sungkyu menyepat. Hingga tanpa sadar ia berbelok ke arah jalan yang sepi. Sial! Ia terlalu memikirkan orang tadi. Sungkyu mendengar langkah seseorang di belakangnya semakin nyaring terdengar. Kepala Sungkyu tertunduk, ia setengah berlari.

“Sungkyu!!”

Suara itu. Wajah Sungkyu mendongak. Ia melihat Luhan berdiri tak jauh di depannya. Namja itu melambai padanya dengan senyuman khasnya. Sejenak hati Sungkyu meleleh melihat senyum itu. Tapi Sungkyu segera tersadar. Ia menoleh kebelakang dan namja yang tadi mengikutinya telah hilang.

“Ada apa?”

Sungkyu berbalik. Ia tak sadar kalau Luhan telah berdiri tepat di depannya dan wajah mereka yang berjarak terlampau dekat. Sungkyu mengalihkan wajahnya ke arah lain. Ciuman itu masih terekam jelas di otaknya. Ia merasa pipinya hangat.

Ada apa denganku…?

“Ehm, Sungkyu-ssi… Aku minta maaf soal yang tadi”

Wajah Luhan menunduk. Ia memainkan jarinya, takut jika Sungkyu kembali menggertaknya.

“Tak apa”

Wajah Luhan terangkat. Ia senyum berseri-seri pada Sungkyu.

“Jadi.. Apa kita sekarang berteman?”

~~

Sungkyu POV

“Tidak”

Wajah Luhan langsung berubah sedih. Bibirnya mengerucut kesal. Entah kenapa saat melihat itu aku malah ingin tertawa. Wajahnya begitu lucu! Yaampun. Aku berusaha menahan tawaku, tapi tak bisa. Aku tertawa terpingkal dan memegang perutku.

“Kau tertawa…”

Tawaku langsung berhenti. Aku mendongak dan menatap Luhan bingung.

“Apa?”

“Ah, ani. Tak apa”

Oh. Keadaan menjadi hening. Aku memainkan jariku. Tak tau harus bagaimana.

“Ah, sedang apa kau disini?”

“Jalan-jalan”

“Kau sudah makan?”

“Sudah”

“Berhenti menjawab singkat, Sungkyu”

“Tidak bisa”

Aku mendongak dan lagi-lagi melihat wajah Luhan yang tampak kesal. Astaga, wajahnya seperti anak kecil. Tanganku bergerak mencubit gemas pipinya.

“Berhenti menampakkan wajah begitu, Luhan. Kau bukan anak umur 10 tahun”

Mata Luhan membulat. Wow.. Apa yang salah dengan perkataanku?

“Kau sadar? Baru kali ini aku mendengarmu berkata panjang seperti itu, kecuali kau sedang marah”

Aku melepas tanganku dan kembali menatapnya tajam. Hei, kali ini aku hanya bercanda. Tapi kurasa Luhan menanggapinya terlalu serius.

“Ah, mian. Bukan begitu maksudku”

Aku hanya diam. Hey.. Bukannya menarik menggoda namja satu ini? Hahaha. Mungkin aku harus pura-pura marah padanya.

“Yah… Sungkyu-yah. Jangan marah begitu. Yah…”

Aku berusaha sekuat mungkin menahan tawaku, tapi tiba-tiba itu semua meledak.

“Yah… Kau membohongiku, eoh?”

“Hahaha. Coba kau lihat wajahmu tadi, Luhan. Astaga, mungkin lain kali aku harus bawa kamera dan memotretnya”

Luhan tersenyum. Setidaknya tembok es yang berada di sekitar Sungkyu mulai mencair. Hanya tinggal sedikit lagi dan ia akan terbebas dalam tugas ini.

Terbebas? Dan aku tak akan pernah bertemu dengannya lagi?

Luhan terlihat ragu.

~~

~~

BRAK!

“Kalian bilang kalian akan mendapatkannya! Mana! Kalian berbohong! Beraninya!”

Dua orang bawahan yang sekarang sedang berlutut di depannya terlihat menunduk. Badan mereka bergetar takut. Namja yang duduk di depan dua pemuda itu berdiri. Ia menarik rambut dua pemuda itu hingga terdengar suara rintih kesakitan dari keduanya.

“Aku menyuruh kalian pulang membawa gadis itu, benar? Tapi apa yang kudapat? kalian pulang dengan tangan kosong”

Bibir pemuda itu bergetar takut. Tapi nyawanya lebih penting sekarang.

“Ka-kami hampir berhasil menculiknya, bos”

“Lalu kenapa?”

“Se-seorang temannya datang dan memanggilnya”

“Kau takut dengan bocah sma hah?”

Kedua pemuda itu sama-sama menggeleng. Kepala mereka terasa pusing karena rambutnya ditarik keras.

Bos mereka menghempaskan mereka di lantai dan berjalan ke luar ruangan.

“Aku tak mau tau. Pokoknya besok gadis itu harus ada disini. Jam 12 siang atau kalian akan kubunuh”

~~

“Kyaaa!! Luhan!! Berhenti mencuri kue ku!”

Luhan hanya tertawa. Dia terus berlari meninggalkan Sungkyu dibelakangnya yang berlari sekuat tenaga mengejarnya. Langkah kaki Luhan terlalu lebar. Tak sepadan dengan langkah kecil Sungkyu.

“Luhan!”

Tangan Sungkyu menggapai tangan Luhan dan mendorongnya ke belakang. Tapi ups, sepertinya terlalu kuat hingga badan Luhan ikut limbrung dan malah jatuh menimpa Sungkyu. Sungkyu yang terbaring di trotoar dengan Luhan diatasnya. Beberapa orang yang melintas melihat pemandangan itu dengan mata mereka yang membulat. Dan beberapa dari mereka tertawa.

Wajah Sungkyu langsung memerah padam. Ia mendorong badan Luhan.

“Lu.. Luhan…”

Luhan bangkit berdiri. Wajahnya juga ikut memerah. Ia mengusap belakang lehernya. Masih tak berani menatap mata Sungkyu.

“Hm.. Kau tak apa?”

Sungkyu mengangguk. Walau ia tau Luhan tak akan melihatnya.

“Ah, tanganmu terluka. Coba kulihat..”

“Tidak”

Sungkyu menyembunyikan tangannya di balik tubuhnya dan berjalan menghindari Luhan.

Ck. ini lagi.

“Sungkyu. Kau terluka. Sini aku lihat”

“Tidak usah. Aku baik-baik saja”

“Sungkyu-”

“Tidak, Luhan. Aku-”

“Awas!”

Dengan sigap Luhan menarik tangan Sungkyu dan memeluknya. Sedetik kemudian, sebuah mobil melintas di depan mereka.

“Hampir saja. Sudah kubilang hati-hati, kan?”

Jantung Sungkyu berdetak dua kali lebih cepat. Luhan memeluknya! Sungkyu menggenggam blazer Luhan erat. Ia tak mau melepas pelukan ini. Ini adalah tempat paling nyaman di dunia yang pernah ia rasakan.

“Sungkyu?”

“Mianhae..”

Tangan Luhan meraih bahunya. Ingin melepaskan tubuh Sungkyu dari pelukannya. Tapi Sungkyu menolak. Ia memeluk pinggang Luhan semakin erat. Luhan terlihat kaget, tapi ia membiarkan yeoja itu memeluknya hingga puas.

“Aku menyukaimu…” Ucap Sungkyu lirih. Tapi bagi Luhan cukup nyaring hingga ia bisa mendengar kata itu. Badannya menegak.

Sungkyu menyukainya?

Ya. Aku juga menyukaimu, Lee Sungkyu! Tapi tidak. Luhan memilih untuk diam walau hatinya ingin berteriak dan menjawab kata yeoja itu.

Perlahan Luhan merasa kehangatan itu hilang. Sungkyu melepaskan pelukan itu. Ia mengadah dan melihat dalam ke mata Luhan.

“Luhan..”

“Ya?”

“Ah, tidak. Lupakan. Kau tidak mendengar apa-apa kan?”

Kata-kata Luhan terhenti. Kalau ia mengatakan iya, berarti ia siap melukai Sungkyu. Kalau tidak, sampai kapan ia memendam perasaannya sendiri jika Sungkyu punya perasaan yang sama dengannya. Luhan menarik nafasnya dalam. Ia belum siap melukai Sungkyu. Terlalu cepat.

“Tidak”

Perasaan lega tersirat di wajahnya. Ia menunduk. Tapi kemudian Sungkyu buru-buru mengangkat lagi wajahnya. Kali ini dengan senyum…yang nampak dipaksakan.

“Kajja, kita pulang”

***

Luhan kembali berbalik. Anehnya Sungkyu masih berdiri di balik pagar rumahnya. Tersenyum dan melambai padanya. Luhan membalas senyum itu dan ikut melambai. Ia berbalik dan berjalan pulang. Entah kenapa dalam hatinya ia merasa tak ingin meninggalkan yeoja itu. Firasat buruk, eh?

Tidak. Ia akan baik-baik saja.

Sungkyu membuka pintu rumahnya. Sepi. Sekali. Ia menghela nafas. Kemana para pelayan? Ini baru jam 12 siang. Oh, mungkin mereka sedang istirahat.

Perut Sungkyu berbunyi. Astaga ia merasa sangat kelaparan sekarang. Ia melangkah ke arah dapur. Tapi lagi-lagi ia tak melihat satupun pelayan disana. Biasanya Jung Ahjumma sudah sibuk dengan apronnya.

“Ahjumma?”

Hening. Sungkyu mengendikkan bahunya. Apa hari ini pelayannya begitu sibuk? Mungkin mereka sedang bekerja di halam belakang. Sungkyu mengeluarkan roti bakar yang ada di dalam toast. Sudah dingin. Apa ini bekasnya makan pagi tadi? Apa Jung ahjumma tak menggantinya?

Pikirannya berkecamuk, tapi ia mengindahkan semua itu. Sungkyu mengangkat piring berisi roti dingin tadi dan segelas susu, ingin membawanya ke kamar. Seperti biasa. Tapi setelah ia berbalik, bukannya ia bertemu dengan Jung ahjumma, tapi…

“Well, lihat siapa yang kita temui?”

“Lee Sungkyu-ssi… Senang melihat anda lagi”

Piring dan gelas yang dibawahnya seketika jatuh ke lantai. Membuat suara dentangan barang kaca pecah dan pecahannya tersebar di seluruh lantai. Muka Sungkyu memucat. Ia berjalan mundur menghindari dua orang yang memakai baju hitam. Mata mereka seperti ingin menyerang Sungkyu kapan saja.

“A..apa yang kalian lakukan disini? Bagaimana kalian bisa masuk?”

Smirk tercetak di kedua bibir mereka.

“Yah, ternyata menyadap dan menculik semua pelayan dan melenyapkan satpam pekerjaan yang terlalu mudah”

Badan Sungkyu bergetar. Itu artinya.. Dia sendirian disini? Tangan Sungkyu perlahan masuk ke dalam sakunya dan menekan speed dial nomor 1, Luhan.

Dengan malas Luhan bangkit dari kasur dan mengambil handphonenya. Sialan. Siapa yang berani mengganggunya saat tidur?

“Yeobseo?”

Tak ada jawaban. Alis Luhan mengernyit. Ia melihat hp nya dan tertera nama Sungkyu disana.

Sungkyu?

“Sungkyu? Ada apa? Halo?”

Sayup-sayup ia mendengar suara orang di seberang sana.

“Pilihanmu hanya dua, Sungkyu. Kau bisa menunjukkan kita dimana letak brangkas ayahmu dan serahkan semua surat perusahaannya, atau kamu ingin mati”

“Bodoh! Bos menyuruh kita membawa gadis ini padanya hidup-hidup!”

“Diam, kau yang bodoh! Bos kita itu pelit! Mana mau dia membagi hasil pada kita? Kita harus ubah rencana! Merampoknya, baru membawanya pada bos!”

Mata Luhan membulat. Siapa yang berbicara di seberang sana? Suaranya terlihat berat. Seperti suara namja.

Luhan bangkit dan memakai celana jeans dan jaketnya.

“Sungkyu? Sungkyu?”

“Luhan. Ada dua orang masuk ke rumahku. Dia ingin menculikku. Dia bilang akan membunuhku. Tolong.. Luhan. Cepat kesini, aku takut. Cepatlah..”

“Hei! Apa yang kau lakukan? Kau sedang menelpon ya!”

“Beraninya!!!”

“Kyaaaaa–!!!!!”

“Sungkyu? Sungkyu?”

Tut… Tut… Tut….

“Shit!”

~~

~~

Luhan menggeleng tak percaya. Rumah Sungkyu sangat berantakan. Hati-hati ia berjalan diantara pecahan kaca di lantai. Matanya tak menangkap sedikitpun bayangan Sungkyu. Ia mengacak rambutnya frustasi. Ia tak punya ide dimana Sungkyu sekarang.

“Aku tak punya pilihan lain”

Luhan kembali pada sosoknya. Bajunya berwarna putih dan tak ada seorangpun yang melihatnya. Luhan mengepakkan sayapnya dan terbang di antara awan. Ia berusaha mencari sosok Sungkyu. Telinganya juga dipasang lebar-lebar mendengar semua pembicaraan orang yang dilaluinya.

“Sial! Terlalu banyak manusia disini! Aku tak tau yang mana suara Sungkyu!”

Luhan berhenti di sebuah taman. Cukup sepi disini. Luhan menutup matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam.

Konsentrasi Luhan. Kau ingin mencari Sungkyu. Dengarkan… Kau bisa menemukannya. Dia dalam bahaya… Kau harus menyelamatkannya…

“Luhan… Aku takut”

Gotcha!

Luhan membuka kedua matanya. Sekarang ia tahu dimana Sungkyu. Ia mengepakkan sayapnya lagi dan memilih terbang. Angin dari kepakan sayapnya membuat daun daun pepohonan di taman bergerak dan berguguran.

“Sungkyu.. Aku pasti akan menyelamatkanmu”

~~

~~

“Hahaha.. Bagus.. Bagus sekali, anak-anak”

Bau alkohol murahan menyeruak di hidung Sungkyu. Ia mengendus kesal. Ia sangat benci bau alkohol! Seorang namja tampak bangkit dari kursinya dan berdiri tepat di depan Sungkyu yang kedua tangan dan kakinya terikat. Mulutnya juga di plester rapat. Namja itu membungkuk. Ia menghisap rokoknya dan menghembuskannya tepat di depan wajah Sungkyu. Membuat Sungkyu terbatuk tertahan dan memandang namja itu dengan tatapan membunuh.

Gelak tawa terdengar lagi. Sungkyu bersumpah ingin menonjok namja ini tepat di wajahnya hingga ia mimisan.

“Yah, tak akan ada yang menyelamatkanmu lagi, sayang”

Sungkyu terlihat jijik dengan kata-kata itu. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Well, apa my lil’ Sungkyu marah, ha?”

Namja itu dan anak buahnya lagi-lagi tertawa. Tak ada yang lucu! Teriak Sungkyu dalam hati. Namja itu meraih plester di mulutnya dan melepasnya kasar membuat Sungkyu merintih perih.

Namja itu mencengkeram dagu Sungkyu kuat. Pandangannya mirip seperti pembunuh yang tak tau siapa korbannya.

“Apa kau siap untuk mati, Sungkyu?”

Mata Sungkyu membulat. Ia meludahi wajah namja itu membuat nya mundur ke belakang dan mengelap wajahnya jijik.

“Wanita tak berguna!”

PLAK!

Air mata mengalir di pipi Sungkyu. Pipinya terasa panas. Ia menggigit bibir bawahnya.

“Kau mau kekayaan keluargaku, kenapa kau tak mengambil uang appa saja? Apa alasanmu ingin membunuhku?”

“Gadis pintar. Pertama, aku akan membunuhmu. Dan yang kedua, aku akan membuat appa mu seolah-olah dialah yang membunuhmu. Dan aku akan datang, membantunya, dengan upah yang mahal hingga ia setengah bangkrut. Dan, yang terakhir..”

Namja itu mengeluarkan pistolnya dari balik jasnya dan mengarahkannya ke kepala Sungkyu.

“Aku akan membunuhnya. Tepat dengan cara yang sama dengan aku membunuhmu, sekarang”

“Bajingn… Dasar licik!”

“Memang. Aku memang licik. Terimakasig sudah memujiku, nona cantik. Terakhir, ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?”

“Kau bajingan. Kau seharusnya lenyap dari kehidupan ini. Kau.. Sampah”

“Berbicaralah sesukamu. Karena perlu ku ingatkan bahwa kau lah yang akan lenyap dari kehidupan ini, bukannya aku”

BRAK!

“Kau salah. Kau lah yang akan lenyap dari dunia ini. Pada detik ini”

DOR!

Namja itu langsung tersungkur dengan darah mengucur dari kepalanya. Sungkyu menoleh horor sekaligus lega pada Luhan. Ia mendengar sirene polisi di luar gedung reyot ini.

Luhan mendesah lega. Ia melangkah menghampiri Sungkyu dan melepas ikatannya. Langsung saja Sungkyu memeluk erat Luhan. Tangisannya pecah.

“Aku.. Takut…”

“Ssst. Tenanglah aku sudah disini”

Sungkyu melepas pelukannya. Ia memandang Luhan dalam. Tangannya meraih bibir Luhan dan menyentuh bibir Luhan.

“Aku mencintaimu, Luhan”

Mata Luhan membulat saat tiba-tiba Sungkyu menciumnya, duluan. Luhan tak bisa membalas. Ia tak pantas. Sungkyu tak bisa memendam sakit hatinya. Dadanya sesak. Luhan tak mencintainya. Ia bahkan tak membalas ciumannya. Air matanya menetes. Seharusnya ia tau dari awal tentang ini.

“Ah, mian. Aku tau.. Kau.. Haha. Bodohnya aku. Kau tak mencintaiku bukan? Astaga. Lancangnya aku sudah menciummu begitu saja. Kupikir kau mencintaiku juga, haha”

Sungkyu mendorong kuat tubuh Luhan menjauh darinya dan berdiri. Luhan membeku di tempatnya apa yang harus ia lakukan?

Aku tak bisa membohongi perasanku…

Luhan berdiri dan menarik Sungkyu kembali dalam pelukannya.

“Saranghae. Saranghae, Lee Sungkyu”

Jantung Sungkyu berdetak cepat. Saranghae… Sungkyu masih tak percata dengan apa yang didengarnya. Sampai ia merasa bibir Luhan mendarat di bibirnya. Ia bagaikan terbang ke langit. Sungkyu menggenggam kaos Luhan erat. Tak ingin Luhan melepaskan ciuman itu.

“Kenapa.. Kau?”

“Aku tak bisa”

“Apa?”

“Aku tak- Argh!”

Badan Luhan limbrung ke arah Sungkyu. Luhan memegang erat tangan Sungkyu. Tapi sayang yeoja itu tak cukup kuat menahan badan Luhan hingga badan Luhan terjatuh ke lantai.

“Luhan.. Ada apa?”

“Punggungku…”

Tangan Sungkyu mengusap punggung Luhan. Tangannya terasa basah. Bau zat besi menyeruak di hidung Sungkyu. Ia segera menoleh ke arah pintu. Ada seseorang disana. Bayangannya terlihat, ia tampak berlari. Sialan.. Seseorang menembak Luhan.

“Luhan.. Bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit”

“Tidak…”

“Apa?”

“Tidak, hyung. Jangan.. Biarkan aku disini sebentar lagi..”

“Luhan? Apa yang sedang kau bicarakan? Hei. Kau baik-baik saja? Luhan?”

“Hyung… Tolonglah. Aku memohon padamu”

“Hyung? Luhan.. Sadarlah! Luhan!”

Tiba-tiba Sungkyu merasa ada angin kencang menerpanya membuat rambutnya berantakan. Ia menoleh ke belakang. Dan langsung saja mulutnya terbuka lebar. Siapa namja ini?

Dia tersenyum manis ke arah Sungkyu. Rambutnya dipotong cepak dan berwarna hitam. Matanya sipit dengan senyum khas yang sangat memabukkan. Badannya tinggi, bahkan lebih tinggi dari Luhan dengan Tangan kekarnya. Ditambah lagi… Dia bersayap. Sayapnya warna emas dan terbuka lebar. Terlihat kokoh dan.. Entahlah. Sungkyu belum pernah melihat begitu.

Namja itu duduk di sebelah Sungkyu. Tangannya terulur menyentuh Luhan.

“Bertahanlah, Luhan”

Sungkyu dibuat semakin bingung. Apalagi sekarang, namja itu telah membawa Luhan di tangannya. Menggendongnya dan ingin membawanya ke suatu tempat.

“Tunggu, ahjussi!”

Namja itu seketika menoleh. Langkahnya terhenti. Tenggorokan Sungkyu seakan tercekat.

“Kris”

“Ah, mianhae. Maksudku, Kris-ssi. Jangan bawa Luhan pergi. Dia butuh pertolongan”

Kris tersenyum. Ia melihat ke arah Luhan yang matanya tampak terpejam. Dahinya sudah dipenuhi keringat. Pasti peluru itu bersarang di punggungnya. Dan ia sekuat tenaga sedang melawan rasa itu.

“Aku akan menolongnya”

“Tunggu! Kau akan membawanya kemana?”

“Ke tempat kami”

“Tunggu! Jangan.. Jangan pisahkan kami. Aku.. Aku membutuhkannya. Aku… Mencintainya”

Baru kali ini Sungkyu merasa dadanya kesak. Seluruh emosi berkecamuk di dadanya. Ia memegang dadanya. Jantungnya berdetak cepat sekali. Ia mendongak dan melihat Kris yang masih menatapnya dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya.

“Aku tau. Aku akan mengembalikan Luhan padamu. Jika waktunya tiba”

“Tapi kapan?”

Kris tampak berpikir. Ia lalu meraih bajunya. Mengeluarkan kalung berbentuk sayap dari sana dan memberikannya pada Sungkyu.

“Berusahalah untuk maju, Sungkyu. Kau bisa melakukan ini seorang diri. Jadilah orang yang berhasil. Dan saat kau bangga akan dirimu sendiri, saat itulah Luhan akan kembali. Kembali disisimu, selamanya”

“Selamanya?”

“Ya. Selamanya. Dia diciptakan untukmu, Sungkyu. Aku hanya meminjamnya. Dan kau tau, dengan dia selamanya kau akan manja dan bergantung padanya. Karena itu aku harus membawanya kembali hingga kau benar-benar bisa belajar mandiri”

Sungkyu tampak berpikir. Ia memasang kalung itu di lehernya.

“Kau berjanji akan mengembalikan Luhan padaku?”

“Tentu saja. Aku tak akan menyalahi takdir”

Pipi Sungkyu tampak memerah. Ia mendongak dan melihat ke arah Kris masih dengan wajah merah-padamnya.

“Boleh aku, hm, memberinya ciuman perpisahan?”

Kris mengangguk. Ia menurunkan sedikit badan Luhan. Perlahan Sungkyu berjalan mendekat. Wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Luhan.

“Kembalilah. Kau harus berjanji padaku kalau kau akan kembali kepadaku, Luhan. Berjanjilah”

Dengan itu Sungkyu mengecup bibir Luhan. Membiarkan dirinya mengingat bagaimana halusnya bibir Luhan dan bagaimana rasa serta bahagianya saat bibir mereka bertemu. Sungkyu akhirnya melepaskan tautan bibirnya.

“Aku akan menjaganya dan mengembalikan Luhan padamu, Sungkyu. Aku berjanji, dan aku tak akan pernah mengingkari janjiku”

Sungkyu tersenyum. Ia berjalan mundur.

“Ah, sebenarnya kalian ini apa?”

“Malaikat. Malaikat pelindung”

*******

EPILOG

5 years later….

Sudah berapa kali dalam sehari Sungkyu memegang kalung itu. Ia tak bisa menahan tangannya untuk menggapai kalung itu dan memainkannya atau hanya mengenali teksturnya.

*ting!*

Sungkyu meraih hpnya dan melihat ada pesan disana. Ia membukanya. Ah, rupanya dari salah satu teman lama.

From : Cho Jaehoon

Sungkyu-yah. Apa kau free malam ini? Bagaimana jika kita pergi makan malam bersama?😉

Sungkyu menghela nafas. Entah sudah namja ke berapa yang mengirim pesan begini padanya. Sungkyu sudah menolaknya secara halus. Apakah ia harus menolak mereka dengan cara yang lebih kasar?

From : Lee Sungkyu

Terimakasih. Aku sudah makan malam. Sudah terlalu larut untuk membalas pesan. Aku ingin tidur. Kbye

Sungkyu memasukkan hpnya di tas. Sebenarnya tak baik juga kebanyakan berbohong. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Sungkyu mengepak barangnya dan meletakkan tasnya di sebelah bahunya. High heels 5 cm dan seragam kantornya sangat pas di tubuhnya. Apalagi sekarang ia bukan yeoja sma yang takut berteman.

Banyak namja yang dekat dengannya. Tapi apa yang ditunggunya? Saat sampai lift, dan pintu tertutup, Sungkyu memegang kalungnya. Ia sangat memegang perkataan Kris. Apa mereka apa benar tak akan mengingkari janji mereka?

Semua kenangan itu terekam jelas di otak Sungkyu. Mereka bilang akan mengembalikan Luhan saat hidupnya sudah mapan. Hidupnya sudah mapan sekarang. Ia menjadi kepala perusahaan appanya. Lantas apa lagi? Sungkyu menghela nafasnya.

Ia berjalan ke luar kantor dan berhenti di teras. Langit sudah mulai meredup. Mobilnya tadi pagi baru saja masuk bengkel gara-gara paku sialan yang menusuk ke dalam ban nya. Mungkin hari ini Sungkyu terpaksa harus naik bus.

*ting!*

Sungkyu meraih tasnya dan mengeluarkan hp nya. Berharap pesan penting dari appa atau umma nya. Tapi yang didapatnya adalah, ajakan dinner lagi.

From : Choi Siwon

Makan malam denganku, milady? Aku akan menjemputmu di rumah bagaimana ?😉 atau aku menjemputmu ke kantor? Kau dimana? Aku khawatir😦

Sungkyu tertawa. Dari sekian banyak namja yang dekat dengannya, mungkin ia lebih memilih bersama cowok satu ini. Tapi lagi-lagi Sungkyu teringat. Ia harus bagaimana? Berapa lama lagi ia harus menunggu hingga Luhan kembali? Atau ia harus menyerah dan menerima tawaran namja ini?

“Tidak, Sungkyu. Kau memang di takdirkan bersamaku. Oh ya, asal kau tau, aku selalu cemburu saat tau namja-namja genit itu mengirimmu pesan. Kau tak memberitau mereka kalau kau adalah milikku, ya?”

Deg!

Jantung Sungkyu berdetak dua kali lebih cepat. Ia bahkan takut jika tiba-tiba ia terkena serangan jantung. Suara ini, harum ini, perasaan ini.. Sungkyu berbalik dan mendapati seorang namja dengan rambut pirang, jangkung berada di depannya. Berjarak tak jauh darinya. Bibir namja itu mengerucut kesal. Persis seperti apa di kenangannya dulu. Sungkyu merasa pandangannya mulai memudar tertutup air mata.

“Kau kembali…” Bisik Sungkyu lirih.

“Tentu saja. Bukannya kau memintaku untuk berjanji padamu waktu itu?”

Sungkyu tak tau harus bagaimana. Ia senang. Terlalu senang malah. Ia menutup wajahnya dengan tangan dan terisak disana.

“Hei. Kenapa kau menangis?”

Tangan Luhan meraih tangan Sungkyu dan melepaskannya dari sana. Ia memegang dagu Sungkyu membuat yeoja itu mendongak menatapnya.

Wajah Luhan mendekat dan mengecup pelan bibir Sungkyu.

“Bogoshippo, Sungkyu-yah”

“Nado bogoshippo, Luhan”

Setelah itu, Luhan memeluk Sungkyu erat. Sungkyu masih terisak di dada Luhan. Membiarkan semua luapan emosinya mengalir bersama air matanya. Senang, bahagia, penantian selama ini, semua campur aduk. Tangan Luhan mengelus punggung Sungkyu.

Matanya memandang ke arah langit malam, ia tak tau siapa yang ia ajak bicara. Yang jelas ia tau mereka bisa mendengarnya.

Hyung, aku tak tau harus berkata apa atau bagaimana, hyung. Kau mengijinkanku memilikinya. Terimakasih, hyung. Terimakasih.

– THE END –

About teenagerfanficindo

Fanfiction all rating and all fandoms especially for Kpop-Lovers in Bahasa^^.

Posted on September 7, 2013, in NC-17, NC-21, PG, Romance, School Life, Sci-fi, Tragedy and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 39 Comments.

  1. Wah FF nya bagus!!😉
    Cast nya Luhan lagi ;p, jadi makin bagus😀
    Bikin versi lainnya dong thor…. O:)
    Fighting!!! ;D

  2. kyaaaa bogoshipoooo author!!:*
    akhirnya kau kembali… hahahahah
    aduh romantisnya ff mu…ditungggu ver selanjutnya ya thor:D

  3. thor kok ngga sampe nikah? Tp tetep bagus kok🙂 tp kalo bisa dilanjut sampe nikah😀
    lanjut versi selanjutnya thor🙂 kalo bisa cast.nya sehun

  4. wah… keren, chingu…
    sequel lagi dong…😀

  5. Bagus kok. Lanjuut versi lain yaa…

  6. Yaaaaaaaaaaa
    Ayo du Lanjut yaaaaaaaaa version yang lain

  7. Aku mewek T^T keren bingitzzzzzz next castnya ganti ya thor ^^

    coba deh si suami saya *lirikKris* yang dibuatin FF. Kan asik tuh. Si big bos (?) nya jadi ngerasain cinta juga kaya Luhan sama Suho =.=”

  8. wah bagus ffnya bagus ! ditunggu ff selanjutnya ya thor🙂 semoga castnya si kai :3 haha

  9. yg kris ma sehun cepet dong,
    klo bisa d pasangin ama aku
    #hehehe_itumah mau nya

  10. Kyaaaa ikut terbang sama luhannn❤
    Ditunggu kris sehun ver nya nih😄

  11. hwaaaaaaa buagus buangeth thorrrr
    buat versi lainya donk……!
    gomawo …..:-)

  12. aku suka ffnya…

  13. ah bagus ceritanya~
    versi sehun atau kai dong thor ..

  14. aaaa sweet!!!
    aku suka banget sama ceritanya..
    ditunggu ya cerita yg lainnya dgn cast yg lain juga thor kekeeke

  15. gak papa kris emang pantes dipanggil Ajusshi

  16. whoaaaaa uri luhan ^^ jadi pengen jadi sungkyu deh..

    lanjut thor

  17. Good job thor.. Luhan-ssi jd angel.kyaaaa..daebak

  18. Woahh kerennnn *o*

    Ditunggu ver. Yg lainnya thor😀

  19. huaaaaaaa so sweettttttt

    Bkin ver lg dong.. Si sehun tow ga D.O

  20. hoyee happy ending lagi \(^o^)/
    ditunggu versi member yg lain. . .
    oh iya, apa lg ver. Kris, aku paling nunggu yg itu soalnya ak penasaran gimana kris polingin lope(?) ama manusia

  21. lagi dong thor kece banget sumpah:)

  22. hohoho…. aku suka jlan ceritanya. DAEBAK

  23. miiinnnn……… baekhyun atau D.O version juseyo…..

  24. happy ending. seru bangetttt

  25. Ah elah bikin sedih aja thor hahaha😀 bagus thorrrr

  26. Cetar bngt thorrr..
    Thor versi Kai donk.
    Pleaseu…..

  27. keren!!!!!!!!!!!

  28. Kyaaaaaa manis bgt, yaampun ceritanya keren bagus bgt author idenya ^0^
    ditunggu ff keren lainnya xD hihi

  29. kyaaaaaaaaaaaaa so sweet, buruan bikin yang kamjjong version dong thor….
    yah yah yah… jebal…🙂

  30. icha kyungsoosehunnie

    Waaw…ffnya keren thor…

    Ih..knp ada suami q d stu..pke genit2 segala…tk knci.d luar sukurin….haha

    D tnggu ver. Lainnua ya thor…keep writing

  31. cie cie,
    aku mau yg kris , gimana cerita tetua

  32. Wah romance nya bener bener bagus

  33. Wahhh daebak nih thor . Aku mau request guardian angel versi sehun atau kai dong thor, boleh ya !

  34. AAAAAAA!!!!! authooorr!!! speechless parah! daebak thorr!!! feel nya dapett bangettt.. romantisnya bikin meleleh… good job Thor! keep writing!!!!

  35. Thor aku new reader.. Ff disini bgs loh :3, oh iya maaf baru bisa komen disini. Thor ini ffnya bgs ga kebayang kalau semua mailaikatnya jatuh cinta entar hbs(?) Thor hiatusnya lama bener.. Tp keep writing ya thor :3

  36. thor aku baru liat ff yang ini,,sweet bngt…mian baru comment,,lanjut dong thor yang ver. chanyeol atau D.O😉

  37. aku seneng banget cast nya luhan. dan mereka bertemu lagi.hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: