Your Body (Chapter 3-END)

[Sequel of Operation Proposal]

yb2

Author: Kim Reika

Genre: Romance, School Life, Yadong NC-21

Cast:
-Do Kyungsoo a.k.a Dio
-Wu Yi Fan a.k.a Kris
-Wu Seo Jin (OC)
-Jung Shiyeon (OC)

Note: annyeong^^ ini chapter ending dari sequel Operation Proposal. Akhirnya ff ini selesai dengan berbekal ide yang menguap-nguap *nebar menyan bareng Kai*, buat para readers yang sudah menunggu gomawo T.T aku terharu loh. Oh iya. Di chapter ending aku banyak bikin Dio oppa sama SeoJin, tapi tenang KriShiyeon juga ada kok😉. Semoga suka. Mian kalau ff nya kurang memuaskan atau NC nya kurang, saya hanyalah manusia biasa huhu T.T *abaikan* oke buat sequel ff yang lainnya mohon ditunggu. Coment ya readersku sayang~ happy reading:)

Do not copas.

HORE!!! FF-NYA GAK DIPROTECT LOH <– Author dalam suasana hati yang…. ya intinya gak diprotect lah. Cuma mau bilang

Don’t be Silent Readers : )
ThanKyu;)


*******

Dio beranjak dari hadapan Seo Jin. Terlalu takut Seo Jin semakin membencinya. Terlalu takut menerima kenyataan bahwa Seo Jin menyesal dan tidak mencintainya.

‘Bodoh.. Kau memang pintar Dio-ssi. Tapi bisa-bisanya kau melakukan hal bejat seperti itu?’
~

Chapter 3

Setelah kejadian malam itu. Mereka kembali keaktivitas masing-masing. Hanya saja ada yang berbeda. Seo Jin dan Dio tidak saling tegur sapa. Seo Jin sebenarnya masih ada yang ingin dijelaskannya pagi itu, akan tetapi Dio sudah pergi duluan. Seo Jin ingin mencegah saat itu.. Tapi Seo Jin juga takut. Seo Jin merasa memang dicintai oleh Dio, akan tetapi kenapa Dio berubah terhadapnya?

Dio juga tidak mengajarkan Seo Jin lagi dirumah. Kata Kris, Dio meminta cuti untuk mengajari Seo Jin.

-Flashback-

 Setelah malam itu..

Ddrrtt.. Ddrrtt..

“Yahh.. K-krish.. Disanah.. Aahhh.. Aahh”

Kris melirik handphonenya yang bergetar diatas meja nakas.

Waktu yang tidak tepat.

Sangat tidak tepat.

Kris tidak menghiraukan panggilan telpon itu.

Kris mempercepat gerakan pinggulnya didalam vagina Shiyeon.

“Chagih.. Inih.. Sempithh sekalih.. Oohh”

Kris merasakan juniornya semakin digenggam kuat. Merasakan vagina Shiyeon yang berkedut hebat.

Ddrrtt.. Ddrrtt..

Lagi-lagi handphone Kris bergetar. Kris mencoba mengambil handphonenya masih sambil menggenjot miliknya didalam vagina Shiyeon.

Kris menyerngitkan dahi melihat siapa penelponnya.

“Nuguyahh?” Shiyeon melirik Kris yang berada diatasnya. Pinggulnya ikut bergerak menyeimbangi permainan Kris.

“Dio.. Hhh”

“K-kris aahh.. Aahh.. A-akuh”

“T-tunggu sebentar babyh.. Oohh”

Ddrrtt.. Drrtt..

Lagi-lagi handphone Kris bergetar. Akhirnya Kris memutuskan saja untuk mengangkatnya.

“K-rishh akuh.. Aaahhh~~”

“S-sabarh chagihh.. Akuhh.. Sebentar lagih.. Oohh”

Kris masih menggerakkan pinggulnya, semakin cepat. Shiyeon juga mempercepat gerakan pinggulnya agar suaminya juga orgasme.

“Yobo..seyo.. Ooh?”

Yang mengangkat telpon diseberang sana menggigit bibirnya.

“Maaf tuan, aku mengganggu”

“Yahh.. Gwaencana. Jangan panggil aku tuanh.. Oohh.. Nanti kutelpon balik”

Klik

“Chagi.. Ooh.. Aahhh~~”

Tubuh Kris ambruk diatas tubuh Shiyeon. Mereka menetralkan nafas hingga Shiyeon memegang lembut bahu Kris.

“Ada apa bocah itu menelpon?”

Kris hanya mengangkat bahu dan memainkan jarinya di nipple Shiyeon.

“K-kris.. Oohh.. Hubungi dia..”

Kris tidak menghiraukannya. Kris malah memasukkan nipple Shiyeon kemulutnya. Semampu mungkin Shiyeon mendorong tubuh Kris. Akan tetapi tangannya menahan kepala Kris.

“Wufan.. Cepathh hubungi bocah itu aahh..”

“Hmm. Sebentar” gumam Kris masih mengulum nipple Shiyeon. Kris menjilati nipple Shiyeon didalam mulutnya.

“Krish.. Oohh..”

Ciuman Kris mulai naik kedada paling atas Shiyeon hingga kelehernya. Kris lagi-lagi meninggalkan jejak disana. Sebelah tangannya meremas lembut payudara Shiyeon. Ciuman Kris naik lagi hingga kebibir Shiyeon. Bibir Shiyeon yang tebal, merah nan menggoda. Kris tak pernah bosan untuk mencium bibir Shiyeon.

Bibir Kris bergerak mengulum bibir atas bawah Shiyeon bergantian. Lidah Kris masuk kedalam rongga mulut Shiyeon, saling membelit dan bertukar saliva. Hingga Shiyeon mendorong bahu Kris merasa kehabisan nafas. Kris melepaskan ciumannya, dan lagi-lagi bibirnya mengecup perpotongan leher Shiyeon.

“K-kris cukup.. Hubungi Dio. Itu pasti mengenai Seo Jin”

Kris tak menghiraukan perkataan Shiyeon. Kris masih saja menjilati bekas kissmark dileher Shiyeon tanpa henti. Bibir Kris turun lagi untuk menciumi dada Shiyeon. Kris sangat senang berlama-lama mencumbu payudara kenyal milik Shiyeon. Bibir Kris mulai mengulum lagi nipple Shiyeon.

“Wufan!”

“Arra” Kris melepaskan kulumannya dari payudara Shiyeon dan mempoutkan bibirnya. Kris beranjak dari atas tubuh Shiyeon dan menghubungi kembali Dio. Kris sengaja agak menjauh dari istrinya untuk berbicara dengan Dio

“Yoboseyo?”

“Ada apa? Kau berhasil?”

Hening.
Hanya terdengar helaan nafas dari Dio.

“Aku ingin mengambil cuti les untuk mengajari Seo Jin tuan..”

“Yak! Mana ada cuti seperti itu. Dan jangan panggil aku tuan. Panggil aku..-”

“Aku merasa tidak pantas memanggilmu appa, tuan”

Kris terdiam. Merasa ada yang aneh pada Dio.

‘Pasti mereka lagi ada masalah’

Kris menghela nafas pelan. Dan akhirnya menyetujui saja Dio mengambil cuti untuk mengajari Seo Jin dirumah. Kris merasa mereka memerlukan waktu untuk saling berpikir.

Sambungan telpon terputus.

-Flashback end-
***

“Yak, Seo Jin cepat. Appa sudah terlambat kekantor” Kris mengklakson mobil berkali-kali menunggu putrinya yang luar biasa lelet. Hari ini Shiyeon tidak pergi kekantor karena masih cukup lelah sehabis pulang berbulan madu dengan Kris.

“Kau membuat ribut appa” Seo Jin masuk kemobil dan mendapat jitakan gratis dari appanya.

“Argh. Appo. Kau memang appa jahat”

“Tapi appamu tampan” bela Kris ke Seo Jin.

Beginilah mereka. Mereka memang terkadang akur terkadang tidak. Benar-benar appa dan anak yang aneh. Tapi Kris tentu menyayangi anaknya ini meskipun betapa nakalnya kelakuan putrinya ini.

Diperjalanan keduanya hanya diam. Hanya terdengar lantunan lagu Move on dari Bruno Mars di tape mobil. Segera saja Seo Jin mematikan tape mobil itu. Kris cukup terkejut namun tidak heran mengetahui anaknya galau belakangan ini.

“Kau ada masalah dengan Dio hm?”

Seo Jin melirik appanya. Menatap appanya dengan pandangan tidak-tau.

“Kau sudah tau Dio cuti untuk mengajarimu?”

Terlihat raut wajah Seo Jin terkejut. Seo Jin tidak tahu menahu bahwa Dio cuti untuk mengajarinya.

‘Apa Dio marah?’

‘Apa aku salah?’

Seo Jin akhirnya menggeleng pelan.

“Nah sudah sampai. Baik-baik disekolah ya sayang” Kris mencium pipi Seo Jin dan menyodorkan tangannya. Seo Jin dengan tidak bersemangat menyambut uluran tangan appanya dan berpamitan. Seo Jin juga mencium pelan pipi appanya.

“Baik-baik disekolah. Jangan membuat masalah.”

“Ne. Appa juga hati-hati dijalan”

Kris menancapkan mobilnya meninggalkan lingkungan sekolah Seo Jin.
~

Seo Jin berjalan dengan pelan dikoridor sekolah. Masih terlalu pagi sebenarnya. Kris memang pagi-pagi sekali hari ini kekantor karena pekerjaan menanti semenjak kantor ditinggalkan beberapa hari karena Kris berbulan madu. Sebenarnya direktur Han yang menangani urusan dikantor Kris, akan tetapi banyak dokumen yang harus ditandatangani oleh Kris.

Dengan malas Seo Jin masuk kedalam sekolah. Hanya ada beberapa siswa-siswi, termasuk Dio. Dio yang sedang asyik membaca buku menoleh sebentar kearah pintu. Hanya untuk melihat siapa yang baru datang. Pandangan keduanya bertemu. Namun, segera saja Dio mengalihkan pandangan kearah lain. Dio takut kalau Seo Jin yang akan mengalihkan pandangan darinya terlebih dahulu. Dio takut Seo Jin masih marah bahkan lebih parahnya Seo Jin membencinya. Dio mengingat-ngingat malam itu, malam dimana mereka bercinta. Dio tahu betul mereka berdua sangat menikmati itu, bahkan mereka melakukannya dalam keadaan sadar sepenuhnya. Harusnya Seo Jin mencegahnya malam itu. Ini sudah terjadi. Dio menghela nafas pelan.
***

7 hari sudah Seo Jin dan Dio saling diam-diaman. Tidak ada yang berubah. Bertemu pandang, mengalihkan pandangan. Tidak ada kemajuan. Tersenyum satu sama lain saja mereka seperti canggung.

“Dio, Seo Jin kekantin yuk” ajak salah satu teman sekelas mereka.

Sejenak Dio dan Seo Jin berpandangan. Malas menerima ajakannya karena tidak sanggup untuk berdekatan lebih lama. Dio dan Seo Jin saling merindukan. Tidak enak untuk menolak karena itu salah satu teman mereka yang cukup akrab dikelas.
~

[Kantin]

Akhirnya Dio dan Seo Jin menerima ajakan teman mereka itu. Mereka duduk berhadapan sekarang, karena teman mereka lagi memesan makanan. Seo Jin ingin sekali mengajak Dio berbicara, begitu juga dengan Dio. Karena memang mereka selalu berbincang bersama apabila dikantin seperti ini. Tetapi sekarang situasinya berbeda.
***

“Jadi.. Ada pertanyaan?” Tanya songsaenim Kang kepada murid-muridnya dikelas.

“Seo Jin-ssi. Apa kau mengerti?”

Seluruh penghuni kelas yang lain mengalihkan pandangannya kearah Seo Jin. Begitu juga dengan Dio. Seo Jin sedang melamun. Entahlah apa yang dipikirkannya. Yang jelas Seo Jin menjadi pusat perhatian sekarang.

Teman sebangku Seo Jin berinisiatif menyenggol-nyenggol siku Seo Jin. Namun tetap tak ada respon.

“Seo Jin-ssi apa yang kau pikirkan?”

Seo Jin menggeleng pelan mendengar pertanyaan itu. Songsaenim Kang melirik kewajah Seo Jin yang pandangannya kosong. Wajah Seo Jin pucat, dan itu sukses membuat songsaenim Kang panik.

“Seo Jin-ssi, apa kau sakit?” Songsaenim Kang meletakkan telapak tangannya didahi Seo Jin. Namun Seo Jin tak kunjung merespon. Tetapi kepala Seo Jin lagi-lagi menggeleng pelan. Ini aneh.

Siswa-siswi disekolah berjalan dengan penasaran kearah Seo Jin. Begitu juga dengan Dio.

“Apa dia kerasukan?” Celetuk salah seorang siswi pelan dan berhasil mendapat jitakan dari temannya.

“Seo Jin-ssi” Dio mulai bersuara. Mencolek bahu Seo Jin pelan, dan menjetikkan jarinya dihadapan Seo Jin.

Dio mulai mendekat dan berdiri dihadapan Seo Jin. Dio menatap mata Seo Jin lekat. Dan mengguncang bahunya sedikit.

“Seo Jin-ssi”

“Eh?” Seo Jin segera tersadar dari lamunannya. Mendadak kepala Seo Jin sedikit pusing dan matanya berkunang-kunang. Bibirnya masih pucat.

“Kau sakit sayang? Lebih baik kau pulang” songsaenim Kang menghampiri Seo Jin dan memusut rambut Seo Jin pelan. Guru adalah orangtua kedua setelah dirumah. Lagi-lagi Seo Jin hanya menggeleng pelan.

“Yasudah. Kalau begitu ke UKS saja ya?”

Seo Jin hanya diam. Pandangannya bertemu dengan Dio yang masih berada dihadapannya. Segera saja keduanya mengalihkan pandangan.

“Dio-ssi. Antarkan Seo Jin ke UKS” suruh songsaenim Kang. Dio hanya mengangguk dan mengulurkan tangannya. Mau tidak mau Seo Jin hanya menyambutnya pelan.

Langkah kaki Seo Jin terlihat lemah, Dio yang melihat itu juga tidak tega. Dengan gantlenya dia menggendong Seo Jin dipunggungnya. Dio tidak perduli lagi apa pikiran Seo Jin mengenai dirinya. Yang Dio tau dia hanya ingin mengantarkan Seo Jin ke UKS dan memastikan bahwa Seo Jin baik-baik saja.
~

[UKS]

“Seo Jin-ssi, kau hanya kelelahan. Pasti banyak pikiran yang mengganggumu akhir-akhir ini bukan?”

Seo Jin hanya tersenyum kikuk mendengar ucapan dokter remaja di UKS ini.

“Banyak-banyak istirahat, dan usahakan jangan terlalu banyak pikiran” saran dokter remaja itu dan berlalu keluar dari UKS.

Dio yang masih duduk disamping kasur dimana Seo Jin diperiksa tadi ingin berbicara, namun.. Entahlah, Dio merasa aneh jika dia harus berbicara lagi dengan Seo Jin. Dan apa yang harus dibicarakan?

“Apa yang kau pikirkan?” Seo Jin menoleh kearah Dio. Mengerutkan keningnya tanda tidak paham.

“Ngg.. apa yang kau pikirkan sampai kau menjadi kelelahan seperti ini?” Dio memperjelas pertanyaannya.

‘Aku memikirkanmu, babo!’ Batin Seo Jin merutuki namja yang sekarang berada dihadapannya.

“Tidak ada. Hehe” jawab Seo Jin berbohong.

“Gotjimal” ucap Dio pelan.

“Mw-”

Chu~~

Seo Jin terkejut. Lagi-lagi Seo Jin dibuat terkejut dengan perlakuan Dio.

“Aku tau kau berbohong. Yasudah aku balik ke kelas dulu. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang berat” nasehat Dio sebelum dia keluar dari ruang kesehatan. Sebenarnya Seo Jin bisa saja menahan Dio dan menghajarnya karena berbuat lancang seperti tadi. Namun bukan ini yang dikehendaki Seo Jin. Seo Jin ingin menjelaskan semuanya, dan mungkin membalas pernyataan cinta Dio jauh-jauh hari.
***

[Pulang Sekolah]

“Nomor yang anda tuju sedang sibuk.. Cobalah-”

Seo Jin menekan tombol merah dihandphonenya. Sudah hampir puluhan kali Seo Jin menghubungi appanya, Kris. Namun nomornya sibuk. Seo Jin menatap layar handphonenya dengan kesal.

‘Aish. Sudah hampir jam 5. Dasar ayah durhaka!’ Maki Seo Jin dalam hati.

Bisa saja kan Seo Jin pulang naik taksi atau nebeng temannya. Oke. Seo Jin mengira hari ini Kris menjemputnya, dan ini sudah jam 5 sore dan sudah dipastikan sekolah sudah kosong. Taksi, tidak ada yang lewat. Kalau saja Kris bilang tidak bisa menjemput pasti sudah daritadi Seo Jin pulang. Jalan kaki? OhhellNo! Jarak dari sekolah ke rumah sangatlah jauh. Bisa-bisa ketika Seo Jin sampai rumah dia sudah tidak mempunyai kaki lagi. Oke ini lebay.

Seo Jin menatap kearah sekolah dengan horror.
‘Kalau saja aku artis. Cocok banget menjadi pemeran utama film horror’ batin Seo Jin.

Seo Jin menimang-nimang ingin kembali masuk kesekolah atau menunggu appanya disini. Setelah sekian lama berpikir akhirnya Seo Jin memutuskan untuk masuk, dan mungkin akan menunggu dipos satpam.

Seo Jin melirik pos satpam yang kosong. TV dipos itu juga tidak menyala. Dan Seo Jin berpikir pasti satpam sekolah juga sudah pulang kerumah. Akan tetapi gerbang masih belum ditutup. Biasanya pasti masih ada murid disekolah, kegiatan ekstrakurikuler atau semacamnya. Kunci gerbang dititipkan kesalah satu murid yang berada disekolah dan akan disuruh menguncinya nanti. Setelah itu kunci gerbang sekolah diantar kerumah satpam sekolah yang rumahnya memang disekitar sini. Ribet memang. Namun inilah resikonya.

Seo Jin terpikir ingin keluar gerbang sekolah lagi. Namun langkah kakinya terhenti ketika mendengar suara dribblean bola basket. Seo Jin melirik sebentar kelapangan basket. Ada orang. Seketika itu juga bulu kuduk Seo Jin merinding.

‘Jam5. Dilapangan? Setankah? Ohmy.. Kalau sampai aku dimakan setan, aku akan menghantuimu lebih dulu appa!’ Rutuk Seo Jin lagi.

Perlahan Seo Jin melangkahkan kakinya kearah lapangan basket. Seo Jin juga manusia, dan mempunyai rasa penasaran yang tinggi. Seo Jin melihat sosok itu memasukkan bola ke ring basket. Seo Jin melihat sosok itu dari atas sampai bawah.

‘Kakinya nginjek tanah. Syukurlah..’ Batin Seo Jin lega.

Seo Jin mengamati lagi orang itu. Sepertinya sosok namja. Dan Seo Jin mengenal itu.

‘Dio!’

Kehadiran Seo Jin tidak diketahui oleh Dio. Dio sedang asyik mendribble bola dan sesekali memasukkannya ke ring. Keringat sudah mengucur dipelipis Dio, bahkan rambutnya sudah sangat basah seperti mandi keramas.

Seo Jin duduk disalah satu kursi penonton dan terus mengamati Dio.

10 menit~

Dio berhenti bermain basket. Posisi Dio yang membelakangi bangku penonton membuat Dio masih belum mengetahui bahwa setadian ada yang mengamatinya.

“Hey! Sudah sore. Tidak pulang?” Ujar Dio tanpa melihat kebelakangnya.

Seo Jin melongo dan buru-buru ingin turun dari bangku penonton.

“Seo Jin-ssi. Tolong ambilkan minumanku” kali ini Dio berbalik dan tersenyum.

Seo Jin memandang Dio tanpa kedip. Tampan. Sangat tampan. Seketika otak Seo Jin seperti diperalat, Seo Jin menuruti saja apa kata Dio. Bahkan sekarang Seo Jin sudah berada dihadapan Dio dan melihat Dio meneguk airputihnya.

Setelah setengah botol dihabiskan Dio, ia duduk disamping Seo Jin.

“Kau ada kegiatan ekstrakurikuler?” Tanya Dio memandang lapangan kosong bekas tempatnya bermain.

Seo Jin menggeleng pelan.

“Lalu?”

“Appa belum menjemputku”

“Yasudah, kau tunggu disini dulu aku ingin ganti baju setelah itu kau- mmpph”

Mata Dio sukses membulat. Yang benar saja, saat ini Seo Jin menciumnya! ‘Astaga! Kendalikan dirimu Dio’

Seo Jin hanya menempelkan bibirnya saja dibibir Dio. Tidak berani bertindak lebih lanjut. Sampai akhirnya Seo Jin melepaskan ciumannya. Seo Jin tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang pasti sekarang sangat memerah.

“Mianhae” lirih Seo Jin.

“Hey.” Dio mengangkat dagu Seo Jin dan membiarkan pandangan keduanya bertemu.
“Kau minta maaf untuk apa hm? Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Aku tau kau sekarang-”

Lagi-lagi omongan Dio terhenti. Jari telunjuk Seo Jin menempel dibibir Dio.

“Aku. Mencintai. Mu. Dio. -ssi”

Seo Jin menundukkan kepalanya lagi tapi kepalanya ditahan tangan Dio, agar mereka terus bertatapan. Dio tersenyum. Dio mulai mendekatkan wajahnya kearah Seo Jin. Seo Jin memejamkan matanya erat.

Chu~

Dio menempelkan bibirnya dibibir Seo Jin. Lama. Cukup lama. Hingga salah satu diantara mereka mulai melumat bibir pasangannya. Rasanya hangat. Manis. Lembut. Dan juga basah. Mereka begitu menikmati ciuman lembut yang terkesan liar dan juga cukup panjang.

Tangan Seo Jin melingkar dileher Dio. Keduanya mencoba mendominasi ciuman mereka, hingga Seo Jin menjambak pelan rambut Dio ketika dia merasa kehabisan nafas. Seo Jin tersadar. Keduanya sekarang sudah terbaring dikursi penonton lapangan basket, tentunya dengan posisi Dio yang menindih tubuh Seo Jin. Seo Jin terpaku melihat wajah manis Dio yang bagaikan malaikat dan sedang tersenyum hangat padanya. Tanpa sadar tangan Seo Jin yang memang masih memeluk leher Dio, menarik tengkuknya dan mempertemukan bibir mereka lagi. Dio tersenyum disela-sela ciuman mereka. Dio menarik tubuh Seo Jin dan mendudukannya dipangkuannya membuat kaki Seo Jin melingkar erat dipinggang Dio. Mereka masih terhanyut dalam ciuman yang semakin lama semakin panas.

Merasa kehabisan oksigen lagi, keduanya melepaskan pagutan bibir mereka. Dahi keduanya saling menempel dan mereka tersenyum.

“Kenapa kau meninggalkanku saat itu?”

“Aku takut kau marah, dan kau membenciku” Dio mengecup kilat bibir Seo Jin.

Seo Jin mengerucutkan bibirnya.

“Huh! Kekanakan”

Dio hanya terkekeh. Ya dia memang pengecut karena meninggalkan Seo Jin saat itu.

“Ya.. Aku bodoh, aku pengecut, aku-”

“Sshhtt. Kenapa kau merendahkan dirimu hah?” Lagi-lagi Dio hanya terkekeh.

“Mianhae, jeongmal mianhae. Aku-”

“Aku memaafkanmu” Seo Jin menyela perkataan Dio. Dio mengerucutkan bibirnya kesal.

“Kau hobi sekali ya menyela pembicaraan orang? Aku belum selesai, chagi.”

“Mwo? Chagi?” Seo Jin membelalakan matanya.

“Wae? Tidak boleh? Haha kau mengalahkan mataku ketika terbelalak seperti itu” Dio mencubit kedua pipi Seo Jin gemas.

“Aku mencintaimu” Dio menenggelamkan wajahnya diceruk leher Seo Jin. Dio malu. Sungguh. Bisa saja sekarang wajahnya Dio memerah. Padahal bukan hanya Dio saja yang malu. Seo Jin lebih malu lagi, bahkan kedua pipinya memanas. Seo Jin merasakan nafas Dio mendera kulit lehernya membuat nafas Seo Jin terengah.

“Na-do” susah payah Seo Jin mengucapkan kata itu. Dapat dirasakan Seo Jin, Dio tersenyum dilehernya. Bibir tebal Dio mulai mengecupi inchi demi inchi leher putih Seo Jin membuat tanda kepemilikannya disana, membuat darah Seo Jin berdesir dan jantungnya berdetak 2x lebih kencang dari sebelumnya.

Perlahan jari jemari Dio membuka kancing seragam yang dikenakan Seo Jin. Sampai baju Seo Jin hendak dilepaskan oleh Dio yang membuat dada dan bahunya sudah terekspos. Baru saja Seo Jin hendak berkata, bibir Dio sudah mengecupi dada bagian atas Seo Jin hingga kebahunya dan itu membuat desahan pelan keluar dari bibir Seo Jin.

Tangan Dio mengeluarkan 2 gundukan kenyal milik Seo Jin, namun tangan Seo Jin menahannya.

“Apa harus disini?” Tanya Seo Jin ragu.

“Apa salahnya mencoba ‘hal’ yang baru?” Dio menyeringai.

Pletak.

“Aw. Appo”

“Yak! Kau itu murid teladan disekolah ini. Kalau sampai ada yang melihat apa yang kita lakukan, kau mau dicap seperti ‘Kyungsoo murid si murid teladan bercinta disore hari dengan murid nakal-” ucapan Seo Jin terputus ketika bibirnya dibungkam oleh Dio.

“Kau itu tidak nakal, kau sudah berubah kok”

Dio tersenyum manis. Tangannya perlahan membelai dua gundukan yang sudah keluar dari ‘rumah’nya. Jemari Dio mulai menekan-nekan nipple Seo Jin. Bibirnya mengulum dada kanan Seo Jin dengan lembut. Dijilatinya nipple Seo Jin hingga mengeras. Dio mendudukkan Seo Jin dibangku dan berlutut diantara pahanya. Tangan Dio menyingkap rok sekolah Seo Jin dan menurunkan underwarenya hingga lutut. Dio melihat sebentar ‘harta’ Seo Jin dan menenggelamkan wajahnya disana.

Kepala Seo Jin mendongak keatas, matanya terpejam, bibir bawahnya digigit, dan tangannya terus menekan kepala Dio yang sedang asyik mengecup bibir vagina Seo Jin. Lidah Dio menelusup masuk dan meliuk-liukkannya didalam.

Seo Jin serasa terbang kelangit ketujuh ketika benda tak bertulang itu berhasil menyodokkan tepat di g-spotnya.

“Dio-ahh.. Disanahh.. Ooh”

Dio yang mengerti terus menyodokkan lidahnya dititik yang dimaksud. Desahan kenikmatan tak berhenti keluar dari bibir Seo Jin. Hingga Seo Jin merasakan ada sensasi menggelitik diperutnya.

“Dio.. Aahhh~”

Dio membersihkan cairan yang dikeluarkan Seo Jin tadi. Dan menyisakannya sedikit agar mempermudah kegiatan inti mereka nanti. Oh ayolah. Saat ini mereka masih disekolah, dan hari sudah hampir gelap. Tanggung kalau mereka menyudahinya dan melanjutkannya nanti. Yang jelas ‘adik soo’ sudah meronta-ronta ingin dibebaskan.

Dio beranjak dan mencium bibir Seo Jin singkat. Dio membawa tubuh Seo Jin berdiri dan membawanya kebawah ring Basket. Disandarkannya tubuh Seo Jin disana dan mulai memasukkan juniornya. Tangan kanan Seo Jin memegang erat tiang ring Basket dan sebelah tangannya menekan tengkuk Dio dan kembali memagut bibirnya panas.

Seo Jin menggigit lidah Dio pelan ketika junior Dio berhasil masuk. Dio mendiamkan juniornya sebentar dan membalas ciuman Seo Jin untuk membuat Seo Jin terbiasa dengan adanya benda asing didalam miliknya. Seo Jin melepaskan ciumannya dan mengangguk lemah.

Dio mengelus pipi Seo Jin lembut dan membawa helaian rambut Seo Jin kebelakang telinganya. Dio mulai bergerak perlahan. Tangan Dio bergerak lagi memegang dada Seo Jin yang memang sengaja tidak dibuka Dio kaitan branya. Dio bahkan hanya mengeluarkan juniornya saja. Seo Jin yang tak terima juga membuka kancing baju Dio dan mengelus nipple Dio lembut, membuat Dio melenguh pelan dan kembali membawa Seo Jin keciuman panasnya.

Tubuh Dio terus bergerak dengan cepat. Bahkan sesekali pinggul Seo Jin juga ikut bergerak menyeimbangi gerakan Dio dibawah. Lagi-lagi junior Dio menghentak keras ke g-spot Seo Jin membuat Seo Jin mendesah nikmat.

“Dio.. Aahh. Terushh.. There”

Gerakan Dio dan Seo Jin semakin brutal hingga Seo Jin merasakan klimaksnya hampir sampai.

“Dio..”

“Bersama.. Hhh”

Dio semakin menghujam vagina Seo Jin dan tangannya masih meremas dengan lembut dada Seo Jin.

“Aaahhh~”

Dio mengeluarkan cairannya didalam rahim Seo Jin. Cairan keduanya menjadi satu didalam sana. Dio dan Seo Jin tersenyum.

“Saranghae”

“Nado”

Keduanya kembali mempertemukan bibir mereka. Ciuman lembut penuh cinta.
***

Meanwhile

Kris melirik jam tangannya. Jam 5 sore. Kris mencoba menghubungi ponsel Seo Jin, namun tak ada jawaban. Kris hanya memastikan Seo Jin sudah pulang atau masih menunggunya.

Kris menelpon ke ponsel Shiyeon.

“Yobo-”

“Seo Jin sudah pulang?”

“Belum. Bukankah pulang denganmu?” Suara Shiyeon mulai cemas.

“Tadi ada rapat dadakan. Aku tak sempat menghubungi Seo Jin, dan sepertinya handphonenya tidak aktif”

“Yak! Dimana Seo Jin sekarang? Kalau sampai terjadi apa-apa dengannya kau akan mati Wufan!” Shiyeon mulai emosi mendengar keteledoran suaminya yang membiarkan anaknya menunggu disekolah hingga sore sekarang.

“Kenapa menyalahkanku? Dia sudah besar, pasti dia bisa jaga diri. Dan aku yakin dia pasti bersama Dio sekarang” Kris mencoba membela diri.

“Nde, nde. Jangan diperpanjang lagi. Jemput Seo Jin sekarang.”

“Ne. Saranghae”

“Nado”

Sambungan telponpun terputus.

Mobil Kris sampai disekolah Seo Jin. Sunyi. Kris turun dari mobilnya dan melihat-lihat kearah dalam sekolah. Kris memasuki gerbang sekolah berniat menanyakan Seo Jin kesatpam sekolah. Namun, baru saja Kris berada didepan pos satpam, satpam sekolah itu menganga. Kris menyentil bahu si satpam. Si satpam pun terkejut.

“Apa masih ada murid disekolah ini?”

“N-ne.” Satpam itu menunjuk kearah lapangan basket.

“Aahh. Dio.. Akuhh.. Aahh~~”

“Sejak kapan anda berada disini pak?”

“Baru saja. Saya hanya ingin mengecek apakah nak Dio sudah pulang, ternyata dia masih ada disini”

Kris menyodorkan beberapa lembar uang, sebagai uang tutup mulut.

“Pulanglah sekarang pak. Jangan ganggu mereka, maklum anak muda zaman sekarang. Dan anggaplah bapak tidak pernah melihat kejadian ini” Kris berbicara kepada satpam itu. Bermaksud ‘mengusir secara lembut’ satpam itu hanya mengangguk, dan wajahnya memerah. Kris melihat kearah bawah pak satpam itu. Daerah pribadi milik pak satpam menyembul. Kris hanya menyeringai.

Kris melihat kearah lapangan lagi. Dia hanya tersenyum akhirnya hubungan Dio dan Seo Jin sepertinya mulai membaik.

Kris yang melihat ‘kegiatan’ anaknya dan calon menantunya berdecak kagum.

‘Woho! Ditempat umum. Mereka memang hebat’

Segera saja Kris mengirimkan pesan singkat ke handphone Dio agar Seo Jin malam ini tidur diapatermentnya saja. Kebetulan besok juga weekend.

Malam ini Kris akan ada kegiatan besar-besaran dengan Shiyeon. Oh ayolah. Dia melihat anaknya sendiri sedang ehm. You know lah. Ehm. Dan itu membuat harta terbesar Kris dibawah sana turn on.

Kris segera melajukan mobilnya pulang kerumah. Dan sebelumnya dia menutup pintu pagar sekolah terlebih dahulu, kalau-kalau saja ada yang masuk gara-gara mendengar suara desahan yang menggema itu.
***

Wu family’s house

BRAK!!!

“Yeobo. Yeobo!” Kris berlari masuk kerumah. Kebetulan Shiyeon baru saja keluar dari kamar mandi ketika mendengar teriakan suaminya yang sepertinya panik. Shiyeon juga ikutan panik dan segera keluar kamar.

“Ada apa yeobo?!”

Langkah Kris terhenti. Begitu juga dengan Shiyeon. Kris memandang tubuh Shiyeon dari atas sampai bawah, tanpa sadar Kris menjilat bibir atasnya. Tatapannya berubah. Uhuk. Mesum. Sontak saja Shiyeon juga memandangi tubuhnya yang hanya dibalut kimono yang cukup terbuka untuk ukuran tubuhnya.

‘Astaga. Aku. Membangunkan. Macan’

Shiyeon bersiap-siap mengambil ancang-ancang untuk kabur, namun terlambat ketika tubuhnya sudah diterjang oleh ‘macan kelaparan’ itu.

“Mari kita memberi Seo Jin adik, yeobo”
***

Mari kita tinggalkan pasangan itu. Saat ini suara-suara ‘menyeramkan’ menghiasi rumah keluarga Wu.

“Yah kris.. Oohh. Aaah”

“Yeonhh.. Oohh.. Nikmathh”

Ya kira-kira seperti itulah pemirsah. Mungkin para tetangga akan menyumpal telinganya semalaman ini.
***

Epilog~

To: Do Kyungsoo

Dio. Setelah kalian selesai dengan ‘kegiatan’ kalian bawa Seo Jin pulang ke apatermentmu saja. Aku akan ada kegiatan malam ini. Have fun! ^^

PS: aku ingin cucu laki-laki ya.. Eh, perempuan juga boleh. Eh. Kembar lebih baik.

From: Kris Ahjussi._.V
~

Dio tersenyum membaca pesan singkat diponselnya.

“Kajja, kita pulang. Orangtuamu sepertinya ingin memberimu adik. Dan mari kita lanjutkan di apatermentku” Dio berbisik dan menyeringai kearah Seo Jin yang terbaring lemas dibangku penonton.

Jujur. Seo Jin ingin kabur detik ini juga. Namun, terlambat…..
END

About teenagerfanficindo

Fanfiction all rating and all fandoms especially for Kpop-Lovers in Bahasa^^.

Posted on July 30, 2013, in NC-21, Romance, School Life and tagged , , , . Bookmark the permalink. 120 Comments.

  1. Cacat bgt bapaknya ( si Kris)! Wkakakak apa-apaan anaknya malah dibebasin gitu😄
    Hot + lucu thor, baru sekali ini tau ada orang tua kyk gitu hahaha

  2. Egelo.. itu si Yifan somplak bener.. ahahaha

    kece bgt thor!

  3. Ahahaha anjirrr lucu bgt ceritanya. Kris appa durhaka. LOLOLOL kalo udah gini mah, “your body” juga butuh sequel. Kkk~

  4. Hhhh…ayah, menantu, pembaca dan terutama authornya sama sama pervert. ╠╣ªªª=D ╠╣ªªª:D ╠╣ªªª =))

  5. Bah.. bapaknya sarap.. ==’
    Ngga bisa bayangin wajahnya si Diyo.. dengan wajahnya yang ‘terlihat’ polos dan ‘terlihat’ pendiam.. ckck.. WUPAN..!!! DASAR BAPAK DURHAKA.. !!! :V

    NICE..!! ^^

  6. Wkwwk wufan wufan sng bnget

  7. Somplakkk~~ ff nya Hot+Lucu baru nemu ff begini yang appa nya nyerahin putri nya dan malah suruh di bawa ke apart*geleng”*
    Ekstrim man d.o n seo jin di lap terbuka loh bahahaha
    Sebenernya pengen baca hal ekstrim lg mereka bercinta nya tapi udah end -,,-
    Appa n Eomma sifat nya turun kan dasar keluarga yadong hehehehe

  8. Waaaa daebak ff nya, aku udah baca dari operation proposal sampai part ini. Please buat sequel your body dong._. Hehehehehe
    Fighting^^

  9. hhhaha gila itu s kriss…masa ada ortu kyk gtu..kkkk wow d.o sma seojin jga lakuin ny dtempat umum hebat…. ini emg keluarga yadong….
    sequel plissssssssss……

  10. Ini gila! 2 pasangan yg aneh.

  11. Kerreen thorr!! Sequel dong yg d.o sm seo jin nya… 😃

  12. Bahh bapaknya sarap–” ngebebasin anaknya kek gitu😀

  13. Sarappp bener dah si Kris,,, wkk masa anak’y lagi begituan di biarin ajah,kalo bunting gimana tuh wkkk,,

    AuthorNim bikin NC’y si Dio lagi dong,,
    soalnya jarang ada ff NC dengan Cast Kyungsoo.
    Kebanyakan ff yaoi😦

  14. ya ampun ternyata dio polos-polos gitu bisa juga wkwk😂😂

  15. Keren banget thor, Your body sepertinya juga butuh sequel nih. Ditunggu ya thorr

  16. SUMPAH NGAKAK se ngakak-ngakaknya, btw aku tau ff ini dr adik aku yg ktnya ff nya hot bgt , stlh pnsrn eh nemu jg trnyta emg iye hot parah :v

  17. hah,, boa edan,, kalo semua appa kaya wufan.. entahlah apa yang akan terjadi
    dio ouh ah.. kau begitu sesuatu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: