My Lady (Chapter 2)

[SEQUEL OF ‘PARTY IN YOUR CONDOMINIUM’]

20130726-165905.jpg

Author : JS
Genre : Romance, Straight, Yadong.

Main Cast :
-Park Eunra
-Kris Wu
-Do Kyungsoo

Ps : Cast lain akan muncul di chapter ini dan chapter berikutnya ^^

Note : Annyeong : ) naah lama banget yaah lanjutan dari chapter satunya hihi. Mian~~~ hehehe. Maaf yaa kalau ada typo bertebaran hehe : )

Happy Reading^^
Don’t bash~
Don’t be silent readers~
Gamsa~

____________________________

4 months later~

Author POV

“Ya! Eunra! Sudah kubilang kan makan sayurnya!”

Kyungsoo dengan berat hati mengangkat piring kotor bekas makan Eunra dan membuang sisanya di bak sampah. Ia melirik ke arah Eunra yang sama sekali tak menjawab katanya dan malah asik melihat drama di tv. Do menghela nafas.

“Eunra! Minum susunya!”

“Arraseo arraseo. Kris saja tak pernah memaksaku”

“Yah!”

Lagi-lagi. Kyungsoo hanya bisa sabar menghadapi adik sepupunya. Kalau saja Eunra bukan adik sepupunya, mungkin ia tak mau disuruh menungguinya.

Ya, Kris sedang pergi keluar negri karena pekerjaannya. Dan tentu saja umma Eunra tak ingin anaknya tinggal sendirian di rumah yang sebesar ini. Jadi? Mau tak mau Kyungsoo lah yang kena.

Kyungsoo menghela nafas. Kalau bukan karena Eunra adalah adik sepupunya dan ia sedang hamil, pasti Kyungsoo menolak untuk menunggui selama 4 bulan nonstop. Haah.. Ia lebih memilih bersama teman-teman se-geng nya pergi ke klub dan bersenang-senang.

Careless Careless
Shoot anymous anymous
Heartless Mindless
No one care about me

Eunra mengambil handphone nya. Berharap kalau itu Kris yang menelponnya. Tapi senyum Eunra langsung memudar begitu melihat caller id.

Umma calling

Hah.. Bahkan sudah seminggu ini Kris tak menelponku. Ah, rupanya pekerjaan lebih penting daripada istri nya sendiri yang sedang hamil 4 bulan ya. Awas saja kau Tuan Wu

“Yeobseo?”

“Eunra-yah, ada teman umma yang datang. Kau yang jemput ke bandara ya. Ajak Kyungsoo juga”

“Mwo? Teman umma yang mana? Siapa?”

“Teman umma. Dia dari China”

“Umma. Bagaimana aku tau yang mana orangnya. Kenal saja tidak”

“Eunra-yah. Kau pasti tau orangnya yang mana. Begitu melihat orangnya kau pasti ingat”

“Mwo? Apa maksud umma?”

Kyungsoo yang habis mencuci semua piring mengambil beberapa buah apel dan mencucinya. Ia menyusul Eunra yang masih di depan tv.

“Yah, Eunra-”

Ia buru-buru menutup mulutnya saat Eunra berbalik dan menaruh telunjuk di bibirnya, menyuruhnya diam. Eunra menunjuk ke arah handphonenya. Oh, rupanya ia sedang menelpon.

“Siapa?.” Ucap Kyungsoo lirih

“Umma”

“Ne, umma?”

“Apa itu Kyungsoo? Berikan teleponnya pada Kyungsoo”

“Oh, baiklah”

Eunra memberikan teleponnya pada Kyungsoo yang disambut bingung oleh namja itu. Tumben sekali umma Eunra menelpon Kyungsoo.

“Yeobseo? Oh, ne imo”

Kyungsoo beranjak menjauh dari Eunra. Ia menjawab telepon itu di halaman belakang, jadi Eunra tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Bibir Eunra mengerut kesal. Bisa-bisanya Kyungsoo dan umma nya berahasiaan seperti itu.

“Eunra, kajja”

“Kemana? Ke bandara?”

“Tentu saja memang kemana lagi”

“Oppa. Aku saja tak tau siapa dan yang mana orangnya. Apa kau tau yang mana?”

Kyungsoo mengendikkan bahunya. Ia mengambil jaket dan memakainya.

“Tapi kita akan tau nanti. Tenang saja. Kajja”

*****

Eunra PoV

Aku melipat tanganku di dada. Bibirku mengerucut kesal. Sudah hampir 2 jam aku menunggu di gerbang kedatangan dengan Kyungsoo oppa. Tapi mana? Tak ada tanda-tanda. Kakiku sudah pegal.

“Oppa! Yang mana orangnya? Aku mau pulang”

“Tunggu sebentar lagi”

Selalu saja. Pasti itu jawaban yang keluar dari Kyungsoo oppa. Berkali-kali aku melihatnya berjinjit dan mencari seseorang di tengah kerumunan pengunjung. Aku tak tau siapa yang ia cari.

Pesawat boeing xx-xxx dari China berhasil mendarat dengan sempurna

Seulas senyum tercetak di bibirnya. Ah ya, tadi umma bilang kalau tamunya dari China. Pantas saja. Tak lama aku melihat Kyungsoo oppa melambai pada seseorang. Pandanganku menelisik orang-orang di sana. Yang mana yaa..

Tiba-tiba seorang namja telah berdiri di depan kami. Rambutnya warna merah. Tinggi. Sosoknya terlihat familiar di otakku. Tapi siapa?

Namja itu tersenyum manis sekali ke arahku. Senyum itu.. Tunggu! Bukannya namja ini adalah namja yang sama dengan yang di foto waktu itu?

“Argh”

Aku memegang kepalaku. Rasa ini lagi. Sakit kepala yang amat sangat. Aku merasa sekitarku berputar.

Flashback

RING.. RING…

Seorang namja kecil berlari dengan tergesa ke kelas di sebelahnya. Untung saja ia belum terlambat. Namja itu menunggu seseorang dengan sabar di depan pintu.

“Tao-yah”

Senyum namja kecil yang bernama Tao itu mengembang. Melihat temannya melambai padanya.

“Eunra. Kajja”

Temannya, yang ternyata seorang yeoja sekitar berumur 7 tahun. Mereka seumuran. Eunra melambai pada songsaenimnya sebelum menyusul Tao dan menggenggam tangannya.

Seperti biasanya, Tao dan Eunra pulang bersama. Dari kecil mereka sudah berteman. Bermain dan sekolah di sekolah yang sama. Karena kedua orangtua mereka yang sama-sama sibuk.

Brug!

“Huwaaaaa~”

Tidak sengaja kaki Eunra menginjak sendiri tali sepatunya yang lepas. Membuatnya jatuh terjungkal ke depan. Badan Eunra jatuh ke trotoar. Kedua lututnya berdarah. Tao yang melihat itu segera panik. Ia berusaha menghibur Eunra tapi gagal.

“Eunra~ jangan menangis lagi. Ne?”

“Hiks hiks~ huwaaa~”

Eunra terus saja menangis. Tao akhirnya menggendong Eunra di punggungnya. Ia tak kuat kalau harus menggendong yeoja ini sampai rumah. Jaraknya masih jauh. Tao akhirnya membawa Eunra ke taman. Ia mendudukkan Eunra di bangku taman dan ikut duduk di sebelah yeoja itu. Eunra masih menangis sesunggukan.

“Hiks hiks. Tao-yah~ sakit..”

Tao benar benar tak tau harus melakukan apa. Ia akhirnya menghapus air mata di pipi Eunra. Tapi lagi-lagi Eunra tak berhenti menangis. Akhirnya wajah Tao mendekat dan mengecup pipi Eunra. Yeoja itu jelas kaget dan tangisnya berhenti.

“Nah. Akhirnya kau berhenti menangis juga”

Tao tersenyum dan menghapus lagi air mata Eunra. Ia menggandeng tangan Eunra dan menyuruhnya naik lagi ke punggungnya.

“Kajja. Aku akan menggendongmu sampai rumah”

Eunra hanya menurut. Ia mengalungkan tangannya dengan erat di leher Tao. Ia tau kalau Tao keberatan, tapi namja itu tak mau Eunra jalan sendiri karena lututnya terluka. Dalam hati Eunra tersenyum. Tao sangat perhatian padanya.

“Tao-yah, kita beli lolipop ne”

“Ehm”

Kedua namja dan yeoja kecil itu berhenti di toko permen. Mereka membeli masing-masing satu lolipop dan memakannya di bangku depan toko permen itu.

“Tao-yah. Ini pertama kalinya aku makan permen ini. Rasanya strawberry. Punyamu rasa apa?”

“Hm. Bluberry”

“Boleh aku coba?”

Tao mendekatkan lolipopnya ke arah mulut Eunra. Dan Eunra langsung mengemut permen itu. Begitu juga dengan Tao yang mencoba permen Eunra.

“Hm~ manis~”

“Ah-hm, Eunra-yah”

Yeoja itu kembali menoleh ke arah Tao. Mulutnya masih sibuk mengemut lolipopnya.

“Tadi itu.. Namanya..”

Awalnya Tao ingin bilang ke Eunra. Tapi ia tak tau bagaimana mengungkapkannya. Jadi ia malah terdiam. Dan itu membuat Eunra jadi penasaran. Ia menggeser duduknya ke arah Tao. Wajahnya di tolehkan hingga hanya beberapa senti saja jarak wajah mereka. Tao langsung terkaget.

“Namanya apa?”

Pipi Tao merona merah. Ia tak tau harus bilang atau tidak. Tao akhirnya memberanikan dirinya. Ia mencium bibir kecil Eunra. Membuat yeoja itu menarik kembali wajahnya dan pipinya menghangat. Keduanya terdiam.

“Ka-kajja. Kita harus segera pulang. Nanti ahjumma akan khawatir”

Tao kembali berlutut di depan Eunra. Ia menggendong kembali yeoja itu hingga sampai rumah. Dalam hati Eunra ia tersenyum senang sekaligus malu. Tao baru saja menciumnya. Eunra tak bisa menahan senyumnya. Ia terlalu bahagia.

“Tao-yah”

“Hm?”

“Ani”

Eunra semakin erat memeluk Tao. Ia memejamkan matanya yang ternyata membuatnya terlelap. Tao akhirnya berhasil mengantar Eunra sampai rumahnya. Seperti biasa ia mengantar Eunra sampai ke kamar.

“Omona. Tao-yah. Ada apa dengan Eunra?.” Ahjumma, salah satu pelayan Eunra langsung kaget saat melihat Tao menggendong Eunra dan lutut Eunra yang berdarah.

“Dia terjatuh tadi. Menginjak tali sepatunya sendiri. Kami ke toko lolipop. Lalu ia tertidur saat pulang”

“Aigoo. Sudah Tao-yah biar ahjumma saja yang menggendong Eunra ke kamar. Kau sudah lelah menggendongnya dari sekolah ke rumah”

“Ani. Tidak apa, ahjumma”

Tao terus bersikeras tetap menggendong Eunra ke kamarnya. Tao lalu menaruh Eunra di kasurnya. Ia mengambil obat dan membersihkan luka Eunra dan memperbannya. Ia menarik selimut Eunra. Ia sudah ingin pergi sampai tiba-tiba tidak sadar tangan Eunra memegang lengannya.

“Tao-yah. Aku menyukaimu”

Pipi Tao terasa menghangat. Ia senang sekali. Sampai rasanya ia ingin berteriak dan melompat sekarang. Tao melepaskan tangan Eunra dan mendekatkan wajahnya. Ia mencium kedua pipi Eunra dan menutup pintu Eunra.

Setidaknya, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.

Flashback off

****

“Eunra-yah”

Namja itu masih tersenyum hangat ke Eunra. Dan Eunra membalasnya dengan canggung. Apa benar namja ini adalah namja yang itu? Yang bernama Tao?

“Tao-ssi?”

Bukannya senang, namja itu malah kaget Eunra memanggilnya seperti itu. Eunra malah menangkap rasa sedih di matanya. Kenapa? Apa ia salah memanggilnya begitu?

“Ah, ne. Tao-yah. Kau dulu memanggilku seperti itu, Eunra”

Kali ini gantian Eunra yang kaget. Namja yang namanya Tao di pikirannya tadi juga memanggilnya Eunra-yah. Tapi apa ia orang yang sama dengan namja yang ada di depannya ini?

Eunra tersadar saat tiba-tiba tangan Tao mengacak gemas rambut Eunra.

“Kau benar-benar tak berubah, Eunra-yah”

Namja itu tertawa. Tawa itu.. Eunra merasa tawa itu sangat familiar di telinganya. Sekali lagi, kepalanya terasa pusing sekali. Sakit. Ia merasa seperti kepalanya terantai dengan kuat. Eunra harus meluruskan ini semua. Ia yakin, ia pernah mengalami ini semua, tapi ia tak ingat.

“Arggh”

Flashback

“Umma~ kenapa rambutku seperti ini? Huwaaa~ aku tak mau sekolah. Hiks hiks”

Terlihat seorang yeoja memakai seragam SMP tengah menangis di depan umma dan appanya yang sedang menyantap sarapan. Sepertinya rambutnya habis di potong bob dan terlalu pendek. Ia malah terlihat seperti cleopatra dengan poni lurusnya.

“Astaga, Eunra. Potongan itu sangat pas di wajahmu. Lihat kau terlihat sangat cute”

Umma yeoja yang bernama Eunra itu membela. Appa nya hanya mengangguk mengiyakan.

“Eunra tak mau dibilang cute. Eunra mau dibilang cantik. Huwaa~ Eunra mau rambut panjang Eunra kembali~”

“Dulu kau bilang tak suka rambut panjang. Kau bilang ingin potong pendek, bob atau semacamnya. Sekarang habis potong malah ingin rambut panjang. Yang benar saja, Eunra. Kau sudah besar. Bukan anak umur 7 tahun lagi”

“Ta-tapi bukan sependek ini. Hiks hiks”

Umma tak tahan lagi. Ia mendekat ke arah Eunra dan memakaikan bando ke putri semata wayangnya itu.

“Nah, sudah. Setidaknya tidak seburuk yang tadi”

Bibir Eunra masih mengerucut kesal. Ia meraih kacanya dan melihat pantulan dirinya. Lumayan lah, dari pada yang tadi.

“Cepat, makan. Kita bisa terlambat upacara hari pertama kau sekolah”

Eunra melipat kembali kacanya dan duduk bersama orang tuanya di meja makan. Senyumnya mengembang.

Apa kata Tao nanti ya?

Sebenarnya Eunra punya rambut yang panjang sepunggung. Lurus dan warna hitam lebat. Lalu kenapa ia memotongnya? Alasannya hanya satu. Dan itu karena namja itu. Namja itu? Tao.

Kemarin waktu Eunra pergi ke rumah Tao, ia melihat namja itu melihat tv dengan serius. Tak biasanya. Paling ia cuman nonton film atau main PS. Dan waktu Eunra tanya rupanya ia sedang menonton channel model dan tren tahun itu.

“Wae? Tak biasanya kau menonton channel tv ini”

“Hanya iseng. Ah kau tau? Ku kira yeoja dengan rambut pendek sangat cantik”

Eunra mengerucutkan bibirnya kesal. Ia melipat tangannya di dada. Eunra tak lagi memandang Tao. Ia memandang ke arah lain. Pura-pura sedang marah, padahal sebenarnya ia memang sedang marah dengan Tao. Bukan marah. Lebih tepatnya cemburu. Tao lebih menyukai yeoja di tv dari pada dirinya.

“Ah, aku hanya bercanda”

Tao memegang kedua pipinya. Membuat yeoja itu kembali memandang mata coklat Tao.

“Kau tetap yang tercantik di mataku, Eunra”

/Bluushhh/

Eunra tak tau harus bilang apa. Ia kembali mengalihkan wajahnya. Wajahnya menghangat.

~~

Mengingat itu ia merona lagi. Tao suka dengan yeoja yang punya rambut pendek. Dan sekarang rambutnya sudah pendek. Tao pasti akan lebih menyukainya. Lagi-lagi wajah Eunra kembali merona.

“Eunra, kau kenapa? Apa kau sakit?”

“Ha? Oh. A-ani, umma”

Umma Eunra hanya mengangguk dan kembali berjalan ke arah aula besar sekolah barunya. Eunra memegang erat ujung blazer umma nya. Ini adalah sekolah baru dan lingkungan baru baginya. Beberapa sunbae yang ia temui lebih tinggi darinya membuatnya takut. Bisa saja ia di bully benar?

Banyaknya siswa di aula membuat Eunra pusing. Ia berjinjit berusaha mencari sosok Tao. Tapi seperti nya gagal. Eunra menggenggam semakin erat blazer umma nya.

“Ah, Mrs. Huang”

Eunra bisa bernafas lega sekarang. Setidaknya bertemu dengan umma Tao berarti bertemu dengan Tao juga. Tapi sejenak Eunra takut. Bagaimana jika Tao melihatnya dengan potongan rambut seperti ini? Apa ia akan senang dan semakin menyukainya? Atau malah Tao bisa saja tertawa terpingkal saat melihat dia. Atau mungkin.. Tao ilfeel dan malah membenci Eunra?

Semoga tidak. Semoga tidak. Semoga tidak.

Beribu pertanyaan semakin muncul di pikiran Eunra. Tapi ia terus mengulang-ulang kata-kata itu di hatinya.

“Aigoo, apa itu Eunra?”

Pikiran Eunra buyar. Ia tak lagi sembunyi di balik tubuh umma nya. Ia memandang ke arah Mrs. Huang, umma Tao. Eunra membungkuk sopan dan menyapa. Ia jarang bertemu dengan umma Tao karena beliau terlalu sibuk.

“Aigoo, yeppoda”

Lagi-lagi Eunra tersenyum malu. Pipinya kembali merona. Ia membalas ‘gamsahabnida’ ke umma Tao sebelum umma Tao menunjuk dimana Tao berada.

Eunra ragu apa ia harus menyusul Tao atau tidak. Ia tak kenal siapapun disini selain Tao. Semua sahabatnya dulu pergi ke sekolah berbeda. Eunra menghela nafas. Ia baru saja hendak berbalik kembali ke tempat ummanya tadi.

“Kenapa kau tak menyusulku, Eunra-yah?”

Yeoja itu terhenyak. Ia menoleh dengan horor ke arah itu. Oh, Tao. Eunra tertawa canggung.

“Ah, ya, uhm, itu. Aku baru saja akan menyusulmu. Ahaha”

Alis Tao mengernyit bingung. Ia menarik tangan Eunra menjauh dari keramaian di aula. Ia menarik yeoja itu hingga sampai di atap sekolah.

Sebenarnya dari tadi sejak menginjakkan kakinya di sekolah ini, Tao mencari-cari sosok Eunra. Ia bernafas lega saat tau umma Eunra sedang berbincang dengam ummanya. Ia tak perlu khawatir lagi kalau Eunra ada apa-apa. Tapi ada yang berbeda dengan yeoja itu.

Ah, Eunra memotong rambutnya! Sebenarnya juga tak pendek-pendek juga. Sebahu. Tapi dulu rambut Eunra panjangnya sepunggung. Pasti berat harus memotong sebanyak itu.

Tao tak bisa menahan senyumnya. Rupanya Eunra memang cemburu soal kemarin dan memotong rambutnya. Tao malah menilai itu sangat manis. Dan bahkan Eunra berkali lipat lebih cantik di matanya.

Ah, lagi-lagi Tao jatuh cinta pada Eunra.

~~

“Tao-yah? Ada apa? Kenapa mengajakku kesini?”

Pikiran Tao buyar. Ia memandang ke arah yeoja itu yang hanya beberapa langkah di depannya. Tao tersenyum dan menarik tangan Eunra mendekat. Ia mengenggam tangan Eunra erat. Pipi yeoja itu merona.

“Di aula terlalu ramai”

Yeoja itu hanya mengangguk setuju. Ia terus menunduk. Merasa malu dengan penampilannya. Ia belum siap menunjukkan dirinya yang baru pada namja yang ditaksirnya dari dulu.

“Kau potong rambut?.” Tao masih menggenggam tangannya. Enggan melepaskannya. Eunra mengangguk dan menyisir rambut pendeknya.

“Kenapa? Aneh ya?”

Namja itu tertawa. Eunra sedikit sedih. Matanya memanas. Tao baru saja menertawakannya. Benar kan dugaannya. Wajahnya makin aneh sekarang. Eunra melepaskan paksa tangannya. Namja itu kaget saat melihat Eunra mengusap matanya. Astaga! Ia baru saja membuat yeoja nya menangis!

“E-Eunra-yah, bukan maksudku seperti itu. Tapi..”

“Ani, Tao. Tak apa..”

Eunra berusaha pergi dari sana, tapi Tao menariknya lagi dan memeluknya. Astag. Eunra seperti meleleh. Hangat dan nyaman. Eunra tak menolak pelukan Tao dan malah membalas pelukan namja itu.

“Mianhae. Bukan begitu maksudku. Maksudku kenapa kau bilang dirimu aneh. Padahal aku.. Aku sangat menyukainya”

Kata terakhir itu dikatan lirih. Tapi cukup bagi Eunra mendengar itu. Eunra melepaskan pelukan Tao dan memandang namja itu. Ia tersenyum saat melihat wajah namja itu yang merona. Tao benar-benar sungguh mengatakan itu.

“Kau benar-benar cantik. Dan selalu cantik di mataku, Eunra”

Eunra gelagapan. Tao memang sering berkata itu padanya. Tapi Tao tak pernah bilang dengan menyebut nama lengkap Eunra. Seperti biasanya wajah Tao mendekat. Eunra tau Tao suka sekali mencium puncak kepalanya. Yeoja itu menutup kedua matanya.

Tapi ia membuka matanya kaget saat ternyata Tao tidak mencium puncak kepalanya, seperti biasa, melainkan di bibirnya. Eunra tak bisa menahan rona yang muncul di pipinya. Bibir Tao terus menyapu bibirnya. Menjadikannya miliknya. Kedua mata Eunra kembali terpejam. Menikmati bibir Tao yang melumat bibirnya.

Manis, hangat. Eunra memegang erat lengan Tao sampai akhirnya namja itu menarik lepas ciumannya. Padahal Eunra masih ingin mencicipi bibir Tao. Eunra masih ingin bibir Tao melumat bibirnya. Entah kenapa tapi ia suka saat bibir Tao menempel di bibirnya.

Keduanya sama-sama mengatur nafas. Akhirnya Tao kembali meraih tangan Eunra.

“Sebaiknya kita kembali ke Aula. Kajja”

Flashback off

********

Eunra masih memandang namja itu. Ia menunduk dan meraih bibirnya. Ia ingat bagaimana namja itu melumat bibirnya. Ia ingin merasakan itu lagi. Merasakan manis dan lembutnya bibir namja bernama Tao itu melumat bibirnya. Sejenak ia lupa kalau ia sudah punya Kris di tambah dengan ia yang sedang hamil.

“Eunra-yah. Jeongmal Bogoshippo”

Tao memengang pundaknya. Sebelah tangannya memegang dagu Eunra membuat yeoja itu mengangkat kepalanya. Dan saat itulah, Tao kembali merasakan bibir Eunra di bibirnya entah berapa tahun ia tak pernah merasa kan ini lagi.

Mata Eunra membulat hebat. Rasa ini lagi. Perasaan ini lagi.

Flashback

Seorang yeoja meletakkan kepalanya di meja. Ia melirik ke arah jam dinding di nakas. Sudah hampir empat jam ia mengerjakan pr matematika mematikan ini. Tapi ia tak bisa menyelesaikannya.

“Eunra, cepat kerjakan pr nya. Jangan bermain-main”

Eunra mendengus kesal. Ya, ia sedang mengerjakan pr bersama Tao. Jadi murid di tahun akhir SMP memang menyebalkan. Pr yang semakin menumpuk, pelajaran semakin susah, ditambah lagi ujian akhir. Dan yang paling menyebalkan adalah Eunra harus belajar setiap hari dengan namja pintar yang sayangnya adalah tetangganya ini.

“Tsk. Kau tak seru lagi”

“Mworago?”

“Kau selalu belajar, belajar, belajar. Memarahi ku kalau aku mau main. Lalu kapan aku bisa istirahat? Aku bosan belajar, Tao”

“Yah, ini tahun terakhir. Kau mau lulus tidak? Ya terserahmu”

Tangan Eunra mengepal. Selalu saja. Tao pasti marah kalau ditanya seperti itu. Eunra merasa akhir-akhir ini Tao berubah. Sikapnya semakin dingin, cuek, tempramen. Ah, menyebalkan!

Eunra berdiri dan pergi dari sana. Ia turun dan memilih pergi ke dapur. Mengambil beberapa snack dan duduk di depan tv, menonton film. Tak lama ia mendengar langkah seseorang menuruni tangga. Ia tau kalau itu Tao. Dan Eunra tak mau repot-repot menengok kalau itu benar Tao. Ia kesal dengan namja itu. Kesal, kesal, kesal!

“Eunra”

Yeoja itu tak menoleh sedikitpun. Ia masih memandang tv walau tak tau apa yang ia tonton. Ia terus memasukkan kripik kentang ke dalam mulutnya. Eunra merasa sofa yang didudukinya bergerak. Oh, rupanya namja tadi memilih duduk di sebelahnya.

“Eunra. Lihat aku, Eunra”

Eunra memandang mata Tao dingin dan sinis. Persis seperti Tao memandangnya seperti itu tadi, dan beberapa hari sebelumnya. Tapi apa yang Eunra temukan? Ia malah melihat Tao yang memandangnya sedih. Kenapa? Karena Eunra memandang Tao seperti itu. Ia saja tak pernah seperti itu. Ia tak pernah mengungkapkan kalau ia terluka saat Tao memandangnya sama seperti ia memandang Tao sekarang.

“Kenapa kau memandangku seperti itu, Eunra-yah?”

“Kenapa? Karena kau memandangku seperti ini tadi, dan kemarin, dan kemarinnya lagi. Ah, aku bahkan lupa sudah berapa tahun kau mulai memandangku seperti ini. Tak sadarkah kau berubah, Tao? Tak sadar kah kau?”

Air mata mulai mengalir di mata Eunra. Tangan Tao beranjak hendak menghapus itu. Ia benci melihat Eunra menangis. Apalagi karena dirinya. Tapi dengan tegas Eunra memukul jauh tangan Tao.

“Apa kau tau aku terluka Tao? Sakit. Disini.” Eunra menunjuk ke dada Tao. “Rasanya sakit sekali. Seperti tertusuk ribuan panah Tao. Apa kau pernah menyangka bagaimana rasanya?”

Eunra tak bisa menbendung lagi air matanya. Ia membiarkan itu mengalir deras di pipinya.

“Kau berubah. Kau bukan Tao yang sama. Siapa kau? Kembalikan Tao-ku yang dulu. Tao yang selalu menyayangiku, menghibur saat aku menangis, memandangku dengan hangat. Kembalikan dia. Kembalikan Tao yang kucintai”

Saat ini gantian Tao yang menangis. Ternyata ia tak tau kalau dirinya telah berubah. Tao menarik tangan Eunra dan memeluknya erat.

“Mian.. Mianhae”

Tao memegang kedua pipi Eunra dan mencium pipinya. Sama seperti saat dulu ia menghentikan tangis Eunra. Dan benar saja. Yeoja itu menatap Tao sendu.

“Mianhae. Jeongmal mianhae”

Dan dengan itu Tao menempelkan bibirnya. Masih sama seperti dulu rasanya. Manis dan lembut. Tao masih melumat bibir Eunra dengan lembut. Sangat lembut. Ia masih berharap ini bisa membalas semua perlakuannya pada Eunra dulu. Dan ia tau kalau Eunra memaafkannya saat yeoja itu membalas ciumannya.

Masih sama. Semuanya masih sama dengan yang dulu. Tak ada yang berbeda. Begitu juga dengan perasaan mereka. Masih sama. Masih mencintai satu sama lain.

Flashback off

******

Tao tersenyum bangga saat menarik kembali bibirnya. Ia tau kalau Eunra sudah menikah. Tapi tentu saja itu hanya pernikahan kecelakaan. Begitu kata umma Eunra dan ia tak tau kenapa.

Eunra masih dalam keadaan tadi. Diam tak berkutik. Ia tak tau harus bagaimana. Sekarang semuanya jelas. Namja ini adalah Tao. Huang ZiTao. Yang temannya sejak kecil. Yang rupanya dulu adalah orang yang ia sukai. Ani. Dia cintai. Tapi Eunra bingung bagaimana ia melupakan semua itu? Bagaimana dengan Kris? Ia merasa masih ada memori yang ia lupa.

Eunra kembali merasa kehangatan. Tao tengah memeluknya. Tangan kekar Tao mengalung di pinggangnya dan memeluknya erat. Ia meletakkan kepalanya di leher Eunra dan mencium lehernya.

“Saranghae”

Kepala Eunra kembali sakit. Ia menggenggam erat baju Tao. Ingatannya kembali melayang.

Flashback

Ting.. Tong…

“Eunra, tolong buka pintunya”

“Nde, umma”

Hari ini adalah hari bahagia bagi Eunra. Mungkin ini cuman hari minggu biasa. Tapi bagi Eunra, ini adalah hari yang menentukan masa depannya. Masa depan hubungannya dengan Tao. Eunra langsung tersenyum sumringah saat mengingat itu.

Dengan dress warna hijau kesukannya yang di atas lutut, rambut bob nya sudah panjang dan kembali ke panjang normal dulu. Ah tak terasa sudah lebih dari 6 tahun sejak Eunra masuk SMP dan memotong pendek rambutnya. Ia telah duduk di tahun akhir bangku SMA. Dan bulan depan ia telah lulus dan masuk universitas.

Langkah Eunra terasa ringan. Ia membuka pintu dengan semangat dan disambut dengan sosok namja yang sangat familiar di wajahnya.

“Tao-yah!”

Namja itu tersenyum saat tau yeoja yang ia cinta setengah mati itu berdiri dengan cantik di hadapannya. Ia malah suka rambut Eunra panjang dan dibiarkan tergerai bebas seperti ini. Membuatnya bebas mencium aroma rambut Eunra kapan saja.

“Apa itu di balik badanmu?”

Eunra berjinjit ingin melihat. Tapi Tao jauh lebih tinggi, sekali, darinya.

“Rahasia.” Eunra mengerucut kesal. “Haha. Ani, ani. Tutup matamu.” Eunra menurut dan menutup erat matanya. Tao mengambil barang di belakangnya dan menaruh di depan wajah Eunra.

“Sekarang buka matamu”

“Uwaah~ cantiknya~”

Eunra mengambil buket bunga yang ternyata adalah barang yang tadi ada di belakang Tao. Ia mencium bunga-bunga itu. Wangi. Dan ia sangat suka. Eunra tak tau bunga apa saja itu, tapi yang ia tau ada tulip, bunga kesukaannya disana.

“Ah, tulip. Kesukaanku”

“Tentu saja. Aku tak pernah lupa apa yang kau suka, chagi”

“O-oppa…”

Pipi Eunra merona merah. Ia tak biasa saat Tao memanggilnya chagi atau ia memanggil Tao dengan sebutan oppa. Eunra langsung berbalik menghindar pura-pura masuk ke dalam dan meletakkan buket itu di sebelah tv.

“Kau sudah melihat bunganya?”

Eunra mengangguk. Masih mengagumi bunga-bunga cantik itu. Tiba-tiba ia merasa tangannya menyentuh sesuatu yang keras di bawah buket.

“Oh. Ada sesuatu di bawah sini”

Tao tersenyum. Rencananya berhasil. Ia mengira ini akan gagal. Tapi ternyata tidak. Eunra berhasil menarik benda itu. Kotak kecil beludru warna merah.

“Apa ini?”

Jemarinya membuka kotak itu. Dan, waah. Eunra dibuat terkaget. Sebuah cincin perak yang sederhana terletak disitu. Dan di dalam cincin itu terukir nama nya dan Tao. Eunra melihat tak percaya ke arah Tao. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.

“Ne. Itu untukmu. Dari ku”

Tao mengambil kotak itu dan menarik keluar cincin perak itu. Ia menyematkannya di jari manis kanan Eunra dan mencium tangan Eunra.

“Kau menyukainya?”

Yeoja itu mengangkat tangannya dan melihat lagi cincin itu. Matanya sedikit berair.

“Tentu saja. Oh, mana milikmu?”

“Punyaku menunggu disana”

“Dimana?”

“Disaat kita sama-sama mengucap janji suci di altar”

Eunra tertawa. Mereka memang masih pelajar. Tapi rasanya masa depan hubungan mereka sangat jelas. Eunra menelangkup kedua pipi Tao dan mencium bibirnya. Cukup lama keduanya memagut bibir masing-masing.

“Omo. Rasanya umma sudah ingin punya cucu saja”

Keduanya langsung melepas ciuman mereka. Eunra menyembunyikan kepalanya di dada Tao. Mengingat wajahnya yang berubah merah padam karena orang tua mereka yang memergoki mereka berdua sedang berciuman. Tao tertawa canggung dan mengusap leher belakangnya.

~~

“Eunra-yah~”

Greepp..

Tangan Tao melingkar erat di pinggang Eunra. Eunra sedang berdiri di balkon kamar dan Tao yang memeluknya dari belakang. Tao menaruh kepalanya di leher Eunra dan mencium lehernya. Dress yang dikenakan Eunra hanya seperti kemben. Itu memudahkan Tao untuk menjamah tubuh Eunra.

“Tubuhmu wangi sekali, chagi. Aku jadi ingin menghirup aroma ini lagi dan lagi”

Eunra hanya diam. Ia menggigit bibir bawahnya. Menahan suara aneh yang ingin keluar dari mulutnya saat Tao menghisap bahu dan lehernya.

“Mmhhh.. Oppa~”

Tao menggendong segera tubuh Eunra dan meletakkannya di kasur. Ia memandang Eunra penuh makna.

“Kau tau seharusnya kita tak melakukan ini. Tapi, kurasa aku harus melakukannya sebelum malam pertama kita. Aku sudah tak tahan”

“D-dasar pervert!”

Tao menyeringai evil dan mencium bibir Eunra. Keduanya berciuman panas sampai tak sadar mereka berdua sedang menelanjangi masing-masing. Bibir keduanya terlepas saat mereka kehabisan oksigen. Tao memandang takjub ke badan Eunra. Ternyata selama ini Eunra punya tubuh yang sangat indah. Dengan semua lekukan. Ah, Tao tak tau lagi harus berkomentar apa.

“Kenapa kau memandangku begitu? Tubuhku jelek ya? Ah, aku sudah menduga-.” Belum Eunra menyelesaikan kalimatnya tapi Tao duluan mencium bibirnya membuat kata-kata yeoja itu putus.

“Tak bisakah kau tidak merendahkan dirimu? Sudah kubilang kan. Kau selalu cantik di mataku. Kau apa adanya”

Eunra bernafas lega. Tao kembali mencium bibirnya tak lama lalu beralih ke lehernya.

“Mmhhh.. Aahh”

Eunra menarik pelan rambut Tao saat namja itu menghisap kuat lehernya hingga menimbulkan tanda kebiruan. Tangan Tao meraih dada Eunra dan meremasnya. Jarinya memilin nipple Eunra dan menekan-nekannya.

“T-Tao-yah~ aaahhh”

“Oppa. Tao oppa”

Ciuman Tao pindah menciumi dada Eunra. Ia menjilat ujung nipple Eunra dengan lidahnya. Menyelimuti nipple Eunra dengan salivanya. Membuat yeoja itu bergerak gelisah. Tao mengigit pelan nipple Eunra bergantian.

“Aahh.. Tao oppa.. Oohh”

Tao menghisap kuat nipple Eunra hingga memerah. Tao mengangkat badannya dan melihat ke arah badan Eunra yang penuh kissmarknya. Tao tersenyum bangga. Ciumannya semakin turun. Ke perut datar Eunra hingga sampai di depan vagina Eunra.

Tao sedikit ragu. Ia takut kalau Eunra akan menolaknya.

“Tak apa, oppa. Teruskan saja”

Tao tersenyum dan mencium singkat bibir Eunra. Tao mulai mencium vagina Eunra dan memasukkan lidahnya ke dalam sana.

“Aaahh.. Oppa~ aahh”

Eunra menarik pelan rambut Tao. Ia bergerak gelisah merasa benda tak bertulang itu meliuk dan masuk semakin dalam mengeksplor vaginanya. Rasa baru baginya.

“Oppa!! Aaahh”

Eunra merasa perasaannya meledak-ledak saat ia merasa suatu cairan keluar dari sana. Nafasnya memburu. Tao kembali memandang wajahnya dan mencium bibirnya, membagi cairannya sendiri.

“Mmmhhh!!!!”

Eunra merintih di sela ciuman itu. Ia memegang bahu Tao erat sebagai pegangan. Sakit. Ia menoleh kebawah dan melihat tiga jari besar Tao yang tiba-tiba masuk ke dalam vaginanya. Tapi rasa sakitnya terganti dengan nikmat yang berlipat saat Tao menggerakkan jarinya keluar masuk.

Karena vagina Eunra yang sudah becek membuat jari Tao bisa bergerak dengan mudah disana. Tao menggetar-getarkan jarinya menimbulkan sensasi tersendiri dari Eunra. Yeoja itu semakin membuka lebar kakinya agar jari Tao semakin leluasa bergerak disana.

“Aahh.. Oohh… O-oppa.. Mmmhh”

“AAHH!!”

Eunra merasa tenaganya habis. Ia lemas. Badannya terkulai di kasur.

“Apa kau lelah?.” Tao menyingkirkan helaian rambut yang menutupi rambut Eunra. Eunra mengangguk lemah. Ia memeluk leher Tao.

“Belum saatnya, chagi. Kita baru akan masuk ke inti kegiatan kita”

“Arra…”

Tao mengecup puncak kepala Eunra. Ia sudah bersiap-siap memposisikan juniornya di vagina Eunra. Baru saja ia akan memasukkan juniornya, ia malah mendengar suara deru mobil. Langsung saja Tao -dan juga Eunra- panik bukan main. Tao mengambil baju Eunra dan memberikannya padanya. Ia juga memakai kembali pakaiannya. Eunra terlalu lemas, ia memakai pakaiannya dengan sangat lambat.

Mau tak mau, Tao membantu Eunra memakai pakaiannya.

“Oppa, aku lelah sekali. Aku tidur saja, ne?”

Tao mengangguk dan membaringkan Eunra. Yah, ini adalah kali pertamanya. Pantas saja ia sudah lelah padahal baru permulaan. Tao tersenyum dan mengecup singkat bibir Eunra. Memakaikan selimut ke tubuh yeoja itu dan berjalan keluar.

“Oh, Tao-yah mana Eunra?”

“Dia tertidur di depan tv tadi. Jadi aku menggendongnya ke kamar”

Umma Eunra mengangguk paham. Ia berjalan melewati Tao dan saat itu ia mencium bau aneh dari menantunya. Umma Eunra menggeleng tak percaya.

“Dasar anak muda”

Flashback off

********

Eunra ingat. Semuanya. Ia ingat siapa Tao, bagaimana ia dulu, dan apa hubungan mereka. Kembali, jantungnya berdetak tak normal. Sama seperti dulu saat Tao memeluknya, semua masih sama.

Tapi Eunra kembali teringat dengan Kris, dan kehamilannya. Bagaimana dengan Kris? Dan anaknya? Haruskah ia melepaskan Kris dan bahagia bersama Tao? Haruskah?

Mata Eunra membuka. Tao masih memeluknya. Sepertinya enggan melepaskan. Sedikit lagi. Masih ada satu potongan puzzle memori nya yang belum terkumpul. Bagaimana ia bisa melupakan Tao kalau namja ini adalah namja terpenting di hidupnya?

Matanya bertukar pandang dengan Kyungsoo, kakak sepupunya. Kyungsoo berdiri tak jauh dari sana dan melihat scene demi scene. Ia tersenyum. Akhirnya Eunra telah ingat semuanya. Ia memandang Eunra dan berkata isyarat dari mulutnya.

“Kau sudah ingat? Syukurlah. Setidaknya aku merasa lega karena diriku sudah termaafkan”

Eunra menutup matanya kuat. Sakit kepala melandanya lagi. Kali ini lebih kuat dan berkali lipat sakitnya.

Apa ini? Tempat nya sekarang berpijak terasa berputar. Ia masih sama di bandara tapi bangunan ini lebih kuno. Ah, patung itu. Bukannya ini bandara 6 tahun yang lalu?

“Kyungsoo oppa!”

Eunra mendengar seseorang memanggil Kyungsoo dengan suara cempreng.

Apa? Bukannya itu aku?

Ya, Eunra yang sekarang masuk ke masa lalu nya sendiri. Ia melihat ‘Eunra dulu’ sedang menjemput Kyungsoo. Kentara sekali wajah Kyungsoo yang masih muda dan imut. Eunra kecil lantas memeluk oppa nya itu.

Eunra mendekat ke arah sana. Ia ingat. Ini adalah hari dimana Kyungsoo baru saja datang dari Kanada. Ia baru lulus universitas di sana dan kembali ke Korea.

‘Eunra kecil’ memeluk Kyungsoo erat.

“Eunra, aku punya kado untukmu.” Kyungsoo mencari-cari di tas nya dan mengeluarkan teddy bear.

“Uwaah~ imutnya~ gomawo oppa”

“Aigoo. Kau sudah umur 18 tahun dan masih suka dengan boneka? Ckckck”

Eunra kecil tertawa dan melihat boneka barunya. Asli dari Kanada. Ia mengelus teddy bear itu dan tak sengaja Kyungsoo menangkap sesuatu kemerlap di jari ‘Eunra kecil’. Kyungsoo memegang tangan Eunra dan melihat ada cincin melingkar disana.

“Cincin? Kau sudah menikah?!”

“Yah! Ini hanya pemberian. Aku belum cukup umur untuk menikah. Tapi umma sudah setuju. Hehe”

Kyungsoo mengacak gemas rambut ‘Eunra kecil.

“Aigoo. Uri Eunra sudah besar rupanya”

Oh, Eunra akhirnya ingat scene ini. Tapi.. Kenapa? Tidak ada yang salah dengan ingatan ini. Ia berbalik dan melihat seseorang memegang koper besar tengah melihat ke arahnya. Ke arahnya? Eunra berbalik lagi. Tidak. Orang itu melihat ke arah ‘Eunra kecil’ dan Kyungsoo yang tampaknya yeoja itu sedang bercerita seru tentang cincin dan namja yang memberinya benda perak itu.

Kepala Eunra terasa sakit. Badannya terhuyung dan hampir mengenai Kyungsoo muda dan ‘Eunra kecil’. Seberusaha apapun Eunra menahan tapi ia jatuh juga.

Zzup!

Badan Eunra serasa menembus kedua badan Kyungsoo dan Eunra kecil.

Apa? Kenapa?

“Oh, Tao oppa!”

Eunra mendengar si Eunra kecil memanggil sosok tadi. Ia melambai dan menyuruh orang itu mendekat. Tapi tidak. Eunra baru tau kalau sosok tadi adalah Tao. Tao yang dulu.

Eunra kecil dengam panik semakin memanggil Tao semakin keras. Tapi Tao tak menoleh dan malah berjalan semakin cepat. Eunra kecil jelas panik. Ia menangkap rasa salah paham disini.

“Aarrgggh”

Eunra memegang kepalanya erat. Sakit. Tolong aku.. Sakit. Eunra terduduk. Ia melihat Eunra kecil yang langsung mengejar Tao di belantara kerumunan orang.

Eunra ingat. Hari ini. Hari Kyungsoo oppa pulang dari study nya di Kanada dan hari saat Tao pulang dari mengunjungi neneknya di China. Hari ini seharusnya Eunra menjemput kedua orang yang disayanginya. Tapi Tao malah menangkap itu salah paham. Ia berpikir bahwa Eunra berselingkuh darinya. Ya. Eunra ingat sekarang. Tapi, apa hubungannya dengan bagaimana ia bisa melupakan Tao?

“Eunra!!!” Teriakan Kyungsoo dulu membuat Eunra menegak. Betul. Ia harus segera menyusul kemana larinya Eunra kecil tadi agar ia ingat semuanya. Ia harus tau kenapa ini semua terjadi.

Eunra melihat Eunra kecil yang berlari mengejar Tao. Beberapa kali ia terjatuh dan bertabrakan dengan orang. Tapi ia tak peduli. Yang ia takutkan hanya Tao yang meninggalkannya. Tidak. Ia tak pernah menduakan cinta Tao. Ia hanya mencintainya seorang.

Eunra kecil tetap belari menyusul Tao. Sedikit lagi. Sedikit lagi ia akan bisa menjapai jaket namja itu. Eunra melihat rambu yang berubah merah. Ia terus berlari.

Dan saat itulah ‘Eunra asli’ melihat mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Eunra berteriak awas, tapi lidahnya kelu. Ia mencari Kyungsoo yang tak tau dimana. Badan Eunra bergerak. Ia berlari ke arah jalan dan menarik tubuh Eunra kecil bersamanya, ke seberang.

TIN.. TINNN…

Eunra membuka matanya. Ia berhasil menyelamatkan Eunra Kecil. Tapi saat ia membuka mata, tangannya kosong. Ia teringat. Baginya di dunia ini, ia hanyalah arwah, debu. Eunra berbalik dan melihat tepat saat mobil itu menabrak tubuh Eunra kecil. Tubuh itu terpelanting beberapa meter. Beberapa orang berteriak histeris. Sang pengemudi langsung melarikan diri.

Disitu, Eunra sekarang berdiri. Di seberang trotoar melihat bagaimana dirinya sendiri dihantam. Ia bahkan mendengar bagaimana tulang Eunra kecil itu retak, dan patah. Darah mengalir hampir di semua sudut tubuhnya. Di sampingnya, jarak beberapa langkah, berdiri Tao dulu, yang sama dengan ‘Eunra asli’ melihat kejadian itu dengan mata kepala mereka sendiri.

‘Tao’ melihat dengan tatapan tak percaya. Air matanya mengalir. Ia melihat sosok yang dicintainya dengan sangat tergeletak sekarat di jalan. Bersimbah darah.

“EUNRAAAAAAAAAAAAAA!!!!”

Mendengar itu membuat Eunra sekarang tersadar. Kepalanya kembali sakit yang amat sangat. Ia terbaring di trotoar. Tepat beberapa meter dari tubuh dulunya yang sekarat. Ia ingat. Kecelakaan ini. Ia ingat betul.

“Sa..kit..”

Eunra bergerak kesakitan. Kepalanya sakit. Sungguh sakit. Tiba-tiba semua scene berganti. Eunra terbaring di lantai suatu tempat. Semuanya putih. Eunra bangkit dan melihat ke arah jendela besar di depannya. Dari situ ia bisa melihat pantulan kata ‘ICU’. Oh, ia sedang berada di ruang ICU rumah sakit. Tapi, siapa yang sakit? Tunggu. Bagaimana dengan ‘ia yang dulu’ ?

Tut… Tut… Tut….

Mendengar suara itu. Eunra membalikkan badannya dan melihat sosok yang hampir tak ia kenali terbaring lemah di kasur rumah sakit.

Hampir semua bagian tubuhnya di perban. Kaki, tangan, leher, bahkan kepalanya diperban. Ia memakai bantuan oksigen. Dadanya juga dipasang selang pendeteksi detak jantung. Eunra mendekat kesana. Tapi ia segera berjalan menjauh saat tau itu siapa.

Itu… Diriku… Andwae… Andwae!!!!

Cklek…

Eunra sekarang masih menutup mulutnya tak percaya. Ia melihat umma, appa, umma Tao, appa Tao, dan Tao masuk ke sini. Air matanya menitik. Ia jelas tak ingat ini, dirinya koma.

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Tak ada yang bisa kita lakukan selain menunggunya sadar, dan berharap ia tak melupakan salah satu diantara kita”

Melupakan? Apa maksud mereka?

Cklek…

Kyungsoo oppa…

“Oh, jeongmal mianhaeyo. I-ini.. Ini semua salahku”

Mereka semua tampak kaget. Tapi tidak dengan Tao. Ia malah mengepal tangannya kesal. Ia seperti ingin memukul wajah Kyungsoo saat itu juga.

“Aku tak seharusnya meminta Eunra menjemputku di bandara kalau akhirnya akan jadi salah paham dan begini akhirnya. Aku oppa yang buruk baginya”

“Oppa?”

“Tao-ssi, ah, Kyungsoo imnida. Aku kakak sepupu Eunra”

Tao bagaikan disambar petir. Ini bukan salah Kyungsoo. Ini semua salahnya tidak mendengar penjelasan dari Eunra dulu. Tao menangis. Ia tak bisa melakukan apa-apa selain menangis.

“Mianhae Tao-ssi. Mian-”

“Ani. Aku yang seharusnya meminta maaf. Pabo. Aku sebenarnya mendengar dulu penjelasan Eunra. Pabo”

“Sudah. Tak ada yang salah, dan disalahkan. Ini semua takdir Tuhan. Kita hanya perlu bersabar”

Eunra sekarang akhirnya tau apa maksud semua ini. Dirinya kecelakaan. Karena masalah kesalahpahaman Tao akan hubungannya dengan Kyungsoo. Tapi.. Melupakan? Apa maksud umma tadi?

Tiba-tiba Eunra merasa tubuhnya melayang. Ia kembali berganti scene. Kali ini ia di ruang rawat. Ia melihat sekumpulan orang yang memenuhi ranjang. Eunra menelusup diantara orang-orang itu.

Ah, itu dirinya. Telah bangun dan sepertinya sehat.

“Eunra-yah. Umma khawatir sekali. Untung kau sudah sadar”

“Ne. Appa juga. Oh ya, Tao akan sampai sebentar lagi”

“Tao? Tao siapa? Teman Kyungsoo oppa?”

Semua orang itu kaget. Mereka memandang ke arah masing-masing.

“Eunra-yah, kau bercanda bukan?”

“Ani, iomonim. Tao yang mana?”

“Ah, kau pasti ingat kalau ia sudah datang. Oh, ini dia. Kami tinggal kalian berdua dulu ya”

Semua orang tak terkecuali Kyungsoo dan kedua orang tua Tao dan Eunra kecil pergi ke luar.

“Eunra. Kau sudah sadar. Syukurlah”

“Mian. Tapi kau siapa?”

Tao seperti tertusuk. Jadi apa yang dikatakan dokter itu benar? Bahwa Eunra akan mengalami amnesia? Tapi kenapa dirinya? Apa karena Tao mendominasi hampir seluruh kenangan di otak Eunra?

“Ka-kau tak mengingatku? Cobalah untuk mengingatku, Eunra. Ini. Ini adalah cincin yang kuberikan padamu. Kita akan menikah nanti”

Tao menaruh cincin perak itu di tangan Eunra. Yeoja itu melihat sebentar cincin itu. Di beberapa sudut cincin tercetak noda darah yang tak bisa hilang.

“Menikah? Kau calon suamiku? Ini cincin apa? Apa kita mengenal? Atau ini hanya pernikahan yang direncanakan umma?”

Tao tak bisa bilang apa-apa lagi. Harapannya pupus sudah. Hatinya hancur berkeping-keping. Satu-satunya yeoja yang dicintainya, malah melupakannya? Bagaimana ia bisa menahan beban itu? Rasanya ia ingin lenyap dari dunia ini sekarang.

“Ah, ani. Bukan apa-apa. Istirahatlah. Kau butuh istirahat. Kita bertemu lagi”

“Ah, tunggu. Tao-ssi! Tao-ssi!”

Blaaammm..

Tao tak sedikitpun menoleh balik ke Eunra kecil. Ia ragu ia akan menangis dan melakukan sesatu yang diluar pikirannya. Tao menarik nafasnya dalam.

“Bagaimana? Apa ia ingat?.” Tao menggeleng.

“Aku.. Ingin pergi, umma, iomonim. Aku ingin melanjutkan studiku di luar negri”

“Mworago? Yah, keadaan Eunra saja-”

“Ne. Aku tau. Dan keadaan Eunra seperti ini membuatku sakit, umma. Ia sama sekali tak mengenalku”

“Tapi bukan berarti kau menyerah atas ini, Tao. Iomonim dan umma akan selalu mendukungmu”

“Aku tidak menyerah. Tapi biarkan aku sendiri untuk sementara waktu ini. Aku ingin menata kembali hatiku. Aku akan kembali saat aku siap dan membantu Eunra mengembalikan ingatannya”

“Tapi, bagaimana jika Eunra sudah mengingatmu sebelum kau kembali?.” Kyungsoo ikut buka suara.

“Maka dari itu, aku akan kembali secepatnya. Aku tak akan pernah meninggalkannya. Aku berjanji. Aku hanya butuh waktu. Kalau sekarang aku tak sanggup, umma. Tolong mengertilah”

Eunra yang sekarang melihat scene itu. Sekarang ia paham. Benar-benar paham apa maksud semua ini. Bagaimana ini terjadi. Siapa dirinya sebenarnya.

Tubuh Eunra kembali ringan. Ia kembali ke tempatnya tadi. Bandara. 6 tahun kemudian. Dan Tao masih memeluknya.

Eunra melihat Kyungsoo dan tersenyum. Ia mengingat semuanya. Dan ia tau Kyungsoo tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Eunra berkata lirih ke Kyungsoo.

“Aku ingat oppa. Kau tidak salah. Tidak ada yang salah dan disalahkan”

Sekarang satu masalah telah selesai. Masalah berikutnya hanya ia dan Tao. Apa Tao bermaksud kembali kepadanya?

“T-Tao-yah. Mianhae”

Tao melepas pelukannya dan mencium pipi Eunra.

“Tak ada salah dan disalahkan, Eunra-yah”

Mereka berdua tertawa. Dan Kyungsoo ikut bahagia melihat itu. Setidaknya ia merasa dirinya sudah termaafkan. Badannya berbalik dan melihat bayangan familiar itu.

Oh tidak. Apa itu Kris?, batin Kyungsoo

De javu. Ia melihat Kris berdiri tak jauh dari mereka bertiga. Sedang memandang Tao dengan tatapan membunuh. Sekelebat bayangan kata umma Eunra tadi teringat,

Flashback

“Tapi, Kyungsoo. Hari ini rencananya Kris juga akan pulang. Dia bilang akan memberi surprise ke Eunra soalnya hari ini tepat 4 bulan kehamilannya”

“Mwo? Tapi, imo, bukannya-”

“Ne. Aku tau. Kyungsoo-yah, boleh aku minta tolong sesuatu padamu?”

“Tentu saja, imo”

“Pokoknya jangan sampai Kris tau tentang ini. Aku tak mau Eunra atau Kris terluka. Dan jangan sampai Kris tau siapa Tao sebenarnya. Biar imo yang nanti bilang padanya”

“Nde, imo”

Flashback off

Kris menarik kopernya mendekat ke arah figur itu. Matanya benar tak salah lihat. Itu adalah Eunra. Eunra nya. Istrinya. Dan seorang namja tengah berpelukan dan wajah namja itu mendekat dan hampir memagut bibir Eunra.

Tak ada yang boleh menciumnya. Eunra milikku. Hanya milikku.

Kris menarik paksa tangan Eunra membuat badan yeoja itu kembali jatuh ke pelukannya. Namja itu sepertinya juga kaget. Tapi mungkin ia segera tersadar karena Kris melihat nya dengan death glare menakutkan. Kris bahkan memeluk Eunra erat.

“Siapa kau?”

“Oh, annyeong. Tao imnida. Kau siapa? Sepertinya akrab sekali dengan Eunra-ku”

“Eunramu? Tsk. Bermimpilah. Aku Kris. Dan aku adalah suaminya. Kau dengar? Su-a-mi-nya.” Kris membalikkan badan Eunra hingga yeoja itu berhadapan dengan Tao.

“Dan, Eunra sedang mengandung anakku.” Kris mengelus perut Eunra yang sedikit membuncit walau tak kelihatan dari luar.

“Kris…” Eunra berusaha menyingkirkan tangan Kris tapi namja itu tak bergerak dan semakin mengelus perut Eunra.

Kris memandang Tao dengan tatapan kemenangan. Ia menang. Pada akhirnya. Tak ada yang berani mendekati yeoja hamil yang telah bersuami seperti Eunra begini. Kecuali ia adalah namja gila.

“Tsk. Mwo? Kupikir kau yang mengambil Eunra dariku. Kau tau pernikahan kalian hanya kecelakaan. Dan pernikahan ku dan Eunra lah yang disetujui dan direncanakan”

“Apa?”

“Ne. Aku adalah calon suaminya. Kalau kau tak sembrono hingga membuatnya hamil mungkin kami sudah menikah sekarang”

“Mworago?”

“Apa kau tak tau? Istrimu tak pernah cerita padamu? Oh, aku ingat. Eunra mengalami amnesia padaku”

Kris masih terdiam. Ia tak tau harus bilang apa.

“Mungkin kau yakin Eunra benar-benar mencintaimu. Tapi sekarang, ingatannya telah kembali. Kau boleh meragukan cintanya. Oh, apa kau mau bertanya padanya apa ia masih mencintaimu atau tidak, Kris-ssi”

Mata Kris membulat. Meragukan cinta Eunra? Jadi sekarang ingatan Eunra sudah kembali?

“Eunra-yah, apa kau ingat siapa first kissmu?.” Eunra mengangguk pelan.

“Siapa?”

“Kau. T-Tao”

Tao tersenyum bangga sekarang. Ia memandang Kris dengan tatapan remeh.

“Tapi aku namja yang mengambil keperawanannya!”

“Benarkan? Apa itu atas dasar cinta atau apa?”

Lidah Kris seakan kelu. Semua apa yang dikatan Tao itu benar. Apa mereka sama-sama mencintai satu sama lain waktu itu? Tidak.

“Tidak bukan? Itu hanya kecelakaan, Kris-ssi. Kalian melakukan itu karena hawa nafsu. Dan pengaruh alkohol. Kalian mabuk”

Tangan Kris terlepas. Tak lagi memeluk pinggang Eunra. Ia terlalu syok. Semua ini benar. Tao mengambil kesempatan itu untuk menarik tubuh Eunra ke arahnya. Sekarang gantian Tao yang memeluk pinggang Eunra.

“Kau boleh meninggalkan Eunra. Atau kau mau bertahan mempertahankan cintamu? Boleh”

Tao menyisir rambut Eunra. Ia menunduk dan mengecup bibir Eunra tepat di depan Kris.

“Tapi kau harus menerima kalau nanti akhirnya Eunra berpaling dan mencintaiku”

Kris bimbang. Sungguh. Ia sangat bimbang. Ia tak tahu harus bilang apa lagi. Di dalam otaknya pikirannya sedang berkecamuk sengit.

Haruskah aku melepaskan Eunra? Haruskah?

-TBC-

Ps : waah pasti pada kesel begitu ketemu sama kata tbc kan? Hehe :p eh author mau tanya niih. Awalnya ff ini jalan ceritanya udah pas. Endingnya juga udah dibuat. Tapi pas bikin chapter ini malah jadi gak yakin deh._.

Menurut readers enaknya Eunra jadinya sama siapa? Kris atau Tao? Vote vote vote!!

About teenagerfanficindo

Fanfiction all rating and all fandoms especially for Kpop-Lovers in Bahasa^^.

Posted on July 26, 2013, in NC-17, NC-21, Romance, Tragedy and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 69 Comments.

  1. huh, part ini sumpah bikin esmosi bgt yya, aku sii lebih suka eunra sama kris, daripada sama tao, kan eunra lagi hamil anak’a kris.
    daebak deh author’a kalo aku punya 4 jempol tangan aku bakal kasih semua buat author hhehe🙂

  2. Hwaaaa poor kris sini sama aku ja *plakkk
    sumapah pas tao sama eunra lucu keren jugaaa

  3. daebak ceritanya😀

  4. Mending eunra ama tao aja deh …. first love susah buat dihapus soalnya

  5. Waah mulai konflik nih. Eunra sama tao ajaaaah :3 biar kris sama aku waks

  6. huweee… rumit

  7. Lbh suka eunra sma kris siiii, ccok soalx

  8. Ooooohhh trnyata gituu toohhh ,, smua ada d tngan eunra , dia lebih mlih kriss atau tao. ,

  9. asli tu anehdot, eunra eunra, pusing2 deh

  10. huahh ceritanya tambah rumit >,<
    smoga aja eunra sama kris bukan sama tao😐

  11. Bukanx
    Eunra
    lagI hamil anakx Kris?
    Ma kris saja lah

  12. whoaa~~ love this ff! apalagi konfliknya:D seru bgt, feelnya jg dapet bgt. Jjang!!

  13. woahh…keren banget daebak thor..! konfliknya rumit , feel.a dapet banget !!!

  14. Ampun deh ceritanya rumit banget… buruan bikin lagi min!! Ditunggu!!! :))

  15. Keren keren keren

  16. hoho…situasi yg sngat sulit
    pensran siapa yg bkal dipilih eunra, tao msa lalunya atau suaminya kris??

  17. woahh tao jahat bnget 😭😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: