True Love (Chapter 11)

tl2

Author             : Jellokey

Main Cast        :

Kim Jong In (Kai of EXO-K)

Oh Sehoon (Se Hun of EXO-K)

Luhan (Lu Han of EXO-M)

Kim Joon Myun (Suho of EXO-K)

Kang Jeo Rin (OC)

Shin Min Young (OC)

Support Cast   :

Wu Fan (Kris EXO-M)

Park Chanyeol (Chanyeol EXO-K)

Kim Min Ra (OC)

Jang Mi Sun (OC)

and others

Special Cameo: Byun Baekhyun (Baek Hyun of EXO-K)

Length             : Chaptered

Genre              : Romance, Family, School Life

Rating             : PG-17

 

Aku bawa hubby pertamaku di EXO!!! Byun Baekhyun, mian aku gak bisa buat ff dengan dirimu sebagai main cast. Gak tega menodai wajah polosmu*abaikan* Happy Reading^^

“Rin-ah..” Aku berhenti memanggil Jeo Rin begitu melihat seorang namja merangkulnya. Jeo Rin tertawa padanya. Siapa namja itu? Apa dia namja yang Jeo Rin katakan dekat dengannya.

DEG!

Baekhyun? Apa benar itu Baekhyun?

“Rin-ah..” Aku segera menghampiri mereka. Sama sepertiku. Baekhyun juga terkejut melihatku. Sedangkan Jeo Rin dia tidak mau melihatku.

“Kai?” Jeo Rin langsung menoleh ke Baekhyun yang menyebut namaku.

“Kau mengenalnya?” Tanya Jeo Rin.

“Ne. Dia temanku saat di JHS, Jeo.”

“Ayo pulang, Rin-ah.” Ajakku. Jeo Rin harus memberiku penjelasan tentang ini.

“Kalian saling kenal?”

“Dia..”

“Dia sunbaeku saat sekolah di Seoul.” Jeo Rin menyela ucapanku yang ingin mengatakan dia calon tunanganku.

“Kita jadi jalan kan, Baekki?” Jalan? Mereka kencan?

“Kai, kau mau ikut dengan kami?”

“Kenapa mengajaknya?” Jeo Rin tidak suka.

“Tidak apa. Aku sudah lama tidak bertemu dengan temanku ini. Lagipula dia sunbaemu. Aku rasa itu tidak mengganggu.”

“Aku tidak mau kalau dia ikut.”

“Ayolah, Jeo.” Baekhyun mengeluarkan aegyonya.

“Kau jalan saja dengannya. Aku mau pulang.” Jeo Rin menjauh dari gerbang sekolah.

“Rin-ah!” Dia terus berjalan tanpa mempedulikan panggilanku.

“Kai.” Baekhyun menepuk pundakku karena aku terus memandang tempat di mana Jeo Rin menyetop taksi.

“Aku ingin mendengar ceritamu tentang Seoul.” Kata Baekhyun.

“Baiklah.” Aku juga ingin mendengar penjelasanmu tentang Jeo Rin.

“Tunggu sebentar. Aku mengambil mobilku. Kau ikuti mobil porsche silver nanti.”

 

———————–

 

Baekhyun menghentikan mobilnya di sebuah parkiran restoran. Ia turun dari mobilnya, begitu juga Kai.

“Aku pikir kau akan mengajakku ke kafe.” Mereka berjalan memasuki restoran.

“Aku belum makan siang.” Kai menggelengkan kepalanya karena tingkah temannya itu. Baekhyun pun memesan makanannya.

“Kau tidak pesan?”

“Aku orange juice saja.” Pesanan mereka datang. Kai menunggu Baekhyun selesai makan sambil meminum orange juicenya.

“Aah.. Kenyang. Apa kabarmu?” Lagi. Kai dibuat geleng-geleng kepala.

“Seharusnya kau menanyakan itu tadi. Aku baik.”

“Lu Han? Apa kalian masih seperti saat aku pergi dulu?”

“Dia juga baik. Kami sudah berteman lagi.” Baekhyun menganggukkan kepalanya.

“Baguslah. Aku tidak mau saat kita berkumpul nanti ada suasana tidak enak.”

“Apa kau tau D.O? Aku kehilangan kontak dengannya sejak dua tahun yang lalu.” Kai teringat dengan temannya yang satu lagi. “Dia sudah kuliah di Harvard.”

“Si jenius itu..” Di antara mereka berempat hanya D.O yang paling pintar.

“Kenapa kau bisa di New York? Bukankah sebentar lagi ujian akhir?”

“Aku harus mengurus sesuatu di sini, jadi aku izin dari sekolah selama lima hari.”

“Kau masih seperti dulu? ‘Playboy’?”

“Aku tidak tahu harus menjawab apa. Tapi aku sedang berusaha untuk berubah.”

“Berubah? Siapa yeoja yang bisa membuatmu berpikir seperti itu?” Tanya Baekhyun antusias. Baekhyun senang temannya tidak mempermainkan yeoja lagi.

“Jeo Rin. Kang Jeo Rin.” Wajah Baekhyun langsung muram.

“Aku ke New York karena dia. Dia calon tunanganku.” Hampir saja Baekhyun memuncratkan jus yang sedang ia minum.

“Calon.. Tunangan?” Ulang Baekhyun.

“Kami dijodohkan.”

“Jadi, kau mau berubah karena dijodohkan.”

“Aku sudah menyukainya, ani, mencintainya sejak pertama kali melihat Jeo Rin, jauh sebelum dijodohkan.”

“Tapi dia seperti tidak menganggapmu.”

“Masalahku itu. Dia mau membatalkan perjodohan kami.”

“Membatalkan perjodohan?”

“Aku menyia-nyiakan kesempatan yang ia berikan padaku. Kebiasaanku kembali saat ia pergi. Sulit bagiku untuk berubah kalau tidak ada Jeo Rin di sampingku.”

“Kau mencintainya?”

“Aku sangat mencintainya. Eem.. Bacon, apa kau punya hubungan dengan Jeo Rin? Kalian dekat sekali. Baekhyun tersenyum.

“Kami memang dekat. Aku menyukainya.” Kai membulatkan matanya.

“Lupakan perasaanmu, Bacon. Jebal. Aku tidak mau kita menjadi musuh karena ini.”

“Mian, Kai. Aku tidak bisa.”

“Jadi kau lebih memilih kita bermusuhan?”

“Aku menyukainya. Aku pikir kita tidak akan menjadi musuh. Jeo Rin akan membatalkan perjodohan kalian. Aku tidak merebut Jeo Rin darimu.” Hening.

“Buahahaha..”

“Kenapa kau tertawa?” Kai bingung melihat Baekhyun.

“Hahaha.. Aku tidak menyangka kau bisa panik hanya karena seorang yeoja. Jeo Rin hebat bisa mengubahmu. Aku bercanda.”

“Kau mengerjaiku?”

Aku hanya ingin memastikan kau benar-benar mencintai Jeo Rin atau tidak. Aku berteman dengannya. Kau harus berterima kasih padaku. Karena aku, tidak ada namja yang berani mendekatinya.”

“Aku kesal tapi, gomawo.”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku sedang berusaha agar Jeo Rin tidak membatalkan perjodohan kami. Kalau tidak ada perjodohan ini, aku tidak akan bisa dekat dengannya.”

“Good luck, Kai!”

 

———————

 

“Harabeoji?”

“Ne. Kau cucuku, Sehun.” Sehun tersenyum sinis.

“Jangan bercanda. Aku tidak punya keluarga selain appa, eomma, dan Hayoon!”

“Aku harabeojimu. Kau boleh bertanya pada Se Joon siapa aku. Tinggallah bersama harabeoji.”

“Kenapa? Kenapa baru muncul sekarang?” Mata Sehun berkaca-kaca.

“Maafkan harabeoji, Sehun. Harabeoji salah di masa lalu. Harabeoji ingin memperbaiki semuanya. Tinggallah dengan harabeoji. Harabeoji ingin berkumpul dengan anak dan cucu-cucuku.” Sehun berdiri dari duduknya.

“Saya tidak mengenal anda.” Sehun berjalan cepat keluar dari kafe. Pria itu mendesah berat.

“Sudah kuduga pasti seperti ini.”

 

——————–

 

Sehun berjalan tanpa tujuan. Dia belum berniat pulang walau hari mulai gelap. ‘Aku punya harabeoji?’ Sehun tertawa getir. ‘Benarkah dia harabeojiku? Kenapa appa tidak pernah bercerita kalau kami masih punya keluarga. Dan kenapa dia harus muncul sekarang?’ Pikir Sehun. Sehun mengambil handphonenya. Menekan angka yang sudah ia hapal luar kepala.

“Ne, oppa?”

“Youngie..” Sehun terdiam sebentar.

“Aku ingin bertemu denganmu.” Min Young menangkap ada yang aneh di balik suara Sehun.

“Oppa, gwenchana?”

“Gwenchana? Aku menunggumu di bukit.”

 

——————–

 

Sehun memandangi suasana malam kota Seoul dari bukit. Indah, tapi pikirannya entah ke mana. Sehun punya harabeoji. Dan dilihat dari penampilannya, harabeoji orang kaya. Tapi kenapa dia membiarkan anak dan cucunya hidup susah? Kehidupan keluarga Sehun mulai mencukupi setelah Hayoon lahir. Saat itu Appanya yang pelayan kafe diterima bekerja di perusahaan besar. ‘Benarkah dia kakekku?’ Sehun masih tidak percaya.

“Oppa..” Sehun langsung berbalik begitu mendengar suara kekasihnya. Min Young berjalan mendekati Sehun.

“Oppa belum pulang ke rumah?” Tanya Min Young karena melihat Sehun masih memakai seragamnya. Sehun langsung memeluk Min Young. Min Young yang bingung hanya membalas pelukan Sehun. Mereka dalam posisi itu cukup lama sampai Min Young buka suara.

“Ada apa? Oppa sedang punya masalah?” Min Young mengelus punggung Sehun. Sehun menggelengkan kepalanya. Ia belum siap menceritakan masalahnya pada Min Young. Sehun masih terkejut dengan apa yang terjadi padanya.

“Aku merindukanmu..”

“Benarkah? Kita selalu bertemu setiap hari.”

“Aku selalu merindukanmu setiap saat walaupun kita tidak bertemu.” Min Young berjinjit lalu mencium pipi Sehun.

“Apa rindunya sudah hilang.” Min Young tahu ada yang mengganggu pikiran Sehun. Sehun tersenyum. Hanya melihat Min Young bisa menenangkannya. Sehun mencium bibir Min Young. Melumat bibirnya sebentar.

“Sekarang sudah.”

“Oppa masih mau di sini? Eomma pasti mengkhawatirkanmu.”

“Sebentar lagi. Kita menikmati pemandangan ini dulu.”

 

——————–

 

Kai langsung menuju kamar Jeo Rin begitu sampai di rumah Jeo Rin. Ia mengetuk pintu kamar Jeo Rin beberapa kali, karena tidak ada jawaban, Kai langsung membuka pintu kamar Jeo Rin. Kosong. Kai melihat jamnya. Jam enam sore. ‘Apa Jeo Rin belum pulang?’ Pikir Kai. Kai pun turun ke lantai bawah hendak bertanya pada Han ahjumma.

“Jeo Rin belum pulang, ahjumma?”

“Tadi nona pulang sebentar lalu pergi lagi.” ‘Dia pergi ke mana?’ Batin Kai. Ia pun menuju kamarnya. Kai langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Dia berpikir lalu mengambil handphonenya, menelepon Baekhyun.

“Hello..” Kai berdecak mendengar sahutan Baekhyun.

“Kau bersama Jeo Rin, Bacon?”

“Ani. Aku baru sampai di rumah dan mau memulai ritual mandiku tapi kau menelepon. Wae?

“Jeo Rin tidak ada di rumah.”

“Mungkin dia pergi dengan Ji Yoo, yeojachinguku. Atau mungkin ke club.”

“Club?”

“Ne. Terkadang di pergi ke klub. Tapi ini masih jam enam sore. Biasanya dia pergi jam delapan malam.” Kai terdiam.

“Tenang saja, Kai. Dia pasti dengan Ji Yoo-ku. Jeo Rin ke club dua minggu sekali. Minggu depan dia baru ke club.” Kai kesal mendengar penjelasan Baekhyun.

“Kenapa kau bisa tahu sampai sedetail itu?”

“Aku menyukai Jeo Rin sebelum akhirnya jadian dengan yeojachinguku.”

“Kau masih berharap, Bacon?”

“Ne. Hehe.. Ani. Aku sudah punya Ji Yoo. Kami berteman, Kai. Dont be jealous, okay.”

“Aku meragukanmu.”

“Hahaha.. Sudahlah. Sebentar lagi Jeo Rin pasti pulang. Sudah ya, aku mau mandi.” Baekhyun memutuskan sambungan telepon. Club. Kai berpikir kalau Jeo Rin ke tempat itu karena mengingat pertama kali ia mencium Jeo Rin di club. Mungkin Kai akan menyamakan Jeo Rin seperti Min Young kalau Jeo Rin tidak pernah ke club.

“Arrgh..” Kai pusing dengan pemikirannya. Ia memutuskan untuk mandi.

 

————–

 

Hampir jam sebelas malam tapi Jeo Rin belum pulang juga. Han ahjumma mengatakan pada Kai kalau Jeo Rin menyetir sendiri. Kai gelisah di kamarnya. Baru merebahkan diri di tempat tidur, ia bangun lalu berjalan mondar-mandir. Hal itu berlangsung cukup lama. Ia berhenti begitu mendengar deru mesin mobil. ‘Jeo Rin sudah pulang.’ Pikirnya. Kai keluar dari kamar begitu Jeo Rin masuk ke kamarnya. Ia melangkah ke kamar Jeo Rin dan masuk ke dalamnya. Bisa Kai lihat Jeo Rin yang duduk di sofa sambil melepas heelsnya.

“Darimana kau? Kenapa baru pulang? Kau tahu jam berapa sekarang.” Tanya Kai bertubi-tubi sedangkan yang ditanya diam tidak mempedulikan Kai. Kai berjalan menuju sofa.

“Jawab aku!!” Kai emosi.

“Bukan urusanmu.” Jawab Jeo Rin sinis. Melihat Jeo Rin dengan pakaian sexy, semakin meyakinkan Kai kalau Jeo Rin ke club. Jeo Rin bangkit dari duduknya hendak berjalan menuju lemari tapi dengan cepat Kai menariknya.

“Urusanku, karena kau jodohku.”

“Jodoh? Kau beruntung karena eomma sibuk. Aku jadi tidak bisa membatalkan perjodohan ini. Aku akan pulang ke Seoul untuk memberitahu eomma.” Jeo Rin menghempaskan tangan Kai kasar. Baru Jeo Rin berbalik, Kai menariknya lagi dan langsung mencium bibir Jeo Rin. Melumat bibir Jeo Rin kasar sebagai wujud emosinya.

“Mmph..” Jeo Rin berusaha melepas ciuman Kai yang kasar. Bahkan Kai berusaha untuk membuka mulut Jeo Rin. Ia menggigit bibir Jeo Rin. Dengan sekuat tenaga Jeo Rin mendorong Kai, membuat Kai terduduk di sofa.

“Namja brengsek!” Jeo Rin mengusap bibirnya kasar.

“Pergi! Aku tidak mau melihatmu.” Kai memeluk Jeo Rin.

“Mianhae. Berikan aku kesempatan sekali lagi. Jebal. Aku akan benar-benar berusaha untuk berubah.” Kai memeluk pinggang Jeo Rin erat. Jeo Rin menangis. Ia tidak tahu kenapa. Hati dan pikirannya tidak sejalan. Pikirannya berkata membatalkan perjodohan. Buat apa dia mau dijodohkan dengan namja playboy seperti Kai. Tapi hatinya berkata untuk memberi Kai kesempatan. Tangannya bergerak untuk mengelus rambut Kai.

“Jangan kecewakan aku.” Kai mendongakkan kepalanya. Ia sangat bahagia.

“Gomawo, Rin-ah. Aku tidak akan mengecewakanmu.”

“Ne. Sekarang lepaskan aku.” Bukannya melepaskan, Kai malah membuat Jeo Rin duduk di pangkuannya.

“Aku menginginkan jawabanmu.” Kai mengusap bibir Jeo Rin dengan ibu jarinya.

“Ne?”

“Apa sakit? Mian, tadi aku kasar.”

“Gwenchana, jawaban apa?”

“Kau dari mana?” Kai menempelkan dahinya di dahi Jeo Rin.

“Aku dari rumah temanku.”

“Jeongmal? Kenapa kau baru pulang jam sebelas malam? Dan pakaianmu.. sexy, ani, kau sexy.” Kai mengelus punggung Jeo Rin yang terbuka.

“Aku pulang malam karena ada kau di rumah. Tadinya aku berniat ke club, tapi Baekhyun dan Ji Yoo mencegahku.”

“Jangan pergi ke club lagi. Bahaya, baby.”

“Aku yakin setiap malam kau pasti ke club. Kenapa aku tidak?”

“Aku juga tidak akan pergi ke club lagi.”

“Baiklah. Pegang ucapanmu, Kai.” Kai menatap Jeo Rin tajam.

“Jongin..” Ralat Jeo Rin. Kai tersenyum. Tangannya bergerak mengelus pipi Jeo Rin, lalu ke bibir, dan turun ke leher Jeo Rin. Jeo Rin memejamkan matanya. Entah kenapa ia tidak menolak ciuman atau sentuhan Kai. Kai menempelkan bibirnya di bibir Jeo Rin. Melumat bibir Jeo Rin lembut. Jeo Rin balas melumat bibir kai. Kai menekan tengkuk Jeo Rin memperdalam ciuman mereka. Saling memiringkan kepala menikmati ciuman mereka yang cukup lama. Jeo Rin mendorong Kai pelan. Nafasnya tersengal. Kai malah beralih menciumi leher Jeo Rin.

“Jongin-ah…” Kai tidak mempedulikan panggilan Jeo Rin. Ia menghisap leher Jeo Rin membuat kissmark di sana.

“Jongin, stop it!” Kai terus asyik membuat kissmark di leher Jeo Rin terkadang ia juga menggigit leher Jeo Rin.

“Jongin-ah….” Kai berhenti lalu mencium dagu Jeo Rin. Jeo Rin meletakkan kepalanya di bahu Kai.

“Eum?”

“Kau membuatku dalam masalah.” Kai mencium bahu Jeo Rin.

“Bagaimana aku sekolah besok? Kau membuat leherku merah.”

“Biarkan saja. Aku rasa di sini itu sudah wajar.”

“Aku malu.”

“Kenapa harus malu? Itu tanda kau milikku.”

“Aku bukan milikmu.”

“You’re mine baby. Thats the fact.”

Aku mau mau ganti baju dulu.” ‘Aku tidak akan mengecewakanmu, Rin-ah.’

 

———————–

 

Sehun sedikit berubah. Ia menjadi pendiam. Hayoon yang sering mengganggunya tidak ia gubris seperti biasa. Dan ini membuat keluarganya khawatir.

“Kau ada masalah, Sehun?” Tanya Tuan Oh begitu selesai makan. Sehun diam. ‘Mungkin ini saatnya aku bertanya pada appa.’ Pikirnya.

“Appa, apa kami masih punya keluarga?” Sontak semua orang menatap padanya. Hayoon menatap bingung oppanya. Kenapa Sehun bertanya seperti itu? Jelas-jelas ia tahu kalau mereka tidak punya keluarga lagi. Mereka tidak punya keluarga dari pihak ibunya karena ibunya yatim piatu. Appa mereka mengatakan kalau dia tidak punya keluarga karena orang tuanya sudah meninggal. Setiap tahun mereka juga berziarah ke makan halmeoni mereka. Tapi kalau harabeoji Appa tidak pernah memberitahu mereka. Hayoon pun ikut menatap appanya seperti Sehun.

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Keluarga kalian hanya appa dan eomma.

“Beberapa hari yang lalu seorang pria tua bernama Oh Sang Hun menemuiku.” Appa dan eomma Sehun terkejut.

“Dia berkata kalau ia adalah harabeojiku dan Hayoon. Apa itu benar?”

“Aku punya harabeoji?” Hayoon terkejut. Nyonya Oh memandang suaminya.

“Benar. Dia harabeoji kalian.”

“Kenapa appa tidak memberitahu kami?!” Sehun mengeluarkan emosinya.

“Maafkan appa. Appa punya alasan sendiri untuk itu. Lagipula selama ini kita hidup bahagia kan?”

“Kami juga ingin punya harabeoji, appa.” Kata Hayoon.

“Wae?” Ucap Sehun datar.

“Harabeoji kalian tidak merestui hubungan appa dan eomma. Karena perbedaan status sosial dan eommamu yatim piatu. Bahkan harabeoji menjodohkan appa dengan anak rekan bisnisnya. Appa memutuskan kabur dari rumah dan menikahi eomma tanpa restu dari harabeoji. Saat eomma mengandung Sehun, harabeoji meminta appa kembali ke rumah dan menceraikan eomma kalian. Appa tidak mau. Dan karena itu harabeoji tidak menganggap appa sebagai anak lagi.” Entah apa yang Sehun pikirkan setelah mendengar penjelasan appanya. Itu berarti harabeoji tidak menginginkan dia ada di dunia. Sehun meninggalkan ruang makan. Tidak ia pedulikan panggilan orang tuanya. ‘Lebih baik dia tidak muncul sama sekali.’ Batin Sehun.

 

—————-

 

“Kapan kau pulang?” Jeo Rin menggerakkan kakinya di dalam air. Ia dan Kai sedang duduk di pinggiran kolam renang.

“Kau tidak suka aku di sini?”

“Bukan begitu. Sebentar lagi ujian akhir. Tapi kau malah tidak sekolah.”

“Aku pulang besok. Setelah lulus nanti aku akan kuliah di sini.”

“Kuliah di sini? Kenapa?” Kai gemas pada Jeo Rin. ‘Kenapa Jeo Rin menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya?’ Batin Kai.

“Supaya aku bisa dekat denganmu. Kalau kau mau, kita menikah setelah aku lulus.”

“Neo micheosseo. Aku masih mau sekolah. Dan lagi tidak semudah itu. Aku masih meragukanmu.”

“Baiklah. Aku akan membuktikan padamu kalau aku bisa jadi namja baik-baik. Tunggu sampai aku lulus nanti. Kita akan bersama.”

“Kau benar-benar mau kuliah di sini?”

“Ne.”

“Kalau begitu, aku akan pindah ke Seoul saat kau ke New York.”

“Kenapa begitu?”

“Aku tidak yakin kau bisa berubah hanya dalam waktu dua bulan. Aku tidak mau kau menjadikanku pertahanananmu untuk mengabaikan yeoja yang mendekatimu.” Kai muram. Yang dikatakan Jeo Rin benar.

“Jadi aku harus bagaimana?” Kai menatap Jeo Rin.

“Kau tahu? Sangat sulit bagiku untuk berubah jika kau tidak di sampingku.” Kai frustasi. Jeo Rin menangkupkan tangannya di wajah Kai.

“Berusahalah. Aku akan kembali ke Seoul setelah sekolahku selesai.” Jeo Rin berdiri lalu mengulurkan tangannya

“ Ayo masuk!” Kai menerima uluran tangan Jeo Rin dan masuk ke dalam rumah.

 

——————–

 

Hayoon membuka pintu rumahnya dan mendapati pria tua tersenyum padanya.

“Apa benar ini rumahnya Oh Se Joon?”

“Benar.”

“ Boleh saya bertemu dengannya?”

“Ne, silahkan masuk. Saya panggilkan appa saya dulu.” Oh Sang Hun duduk di sofa ruang tamu. Ia memperhatikan ruangan itu. Ia melihat ada foto keluarga Se Joon. ‘Dia hidup bahagia.’ Pikir Sang Hun. “Appa..” Sang Hun langsung berdiri begitu melihat Se Joon. Dua puluh tahun sudah ia tidak bertemu anaknya. Ia langsung memeluk Se Joon. Se Joon terkejut karena Appanya memeluknya.

“Mianhae, Joon-ah. Appa benar-benar bersalah padamu. Maafkan appa yang mengusirmu dari rumah.” Se Joon balas memeluk appanya

“ Tidak, appa. Aku yang minta maaf. Aku tidak bisa memenuhi keinginan appa.”

“Pulanglah ke rumah. Kita berkumpul lagi. Appa benar-benar menyesal. Kalau saja appa merestui hubungan kalian, pasti appa bisa menimang Sehun dan Hayoon saat masih bayi. Di mana Hee Seul dan cucuku?”

“Sebentar, appa. Aku akan memanggil mereka.” Tak lama Se Joon kembali ke ruang tamu bersama istri dan anak-anaknya. Hee Seul terkejut melihat orang yang ada di rumah mereka saat ini. Sedangkan Sehun entah seperti apa ekspresinya saat ini.

“Harabeoji….” Ha Yoon menangis. Ia tidak menyangka kalau dia benar-benar mempunyai harabeoji. Ia langsung memeluk harabeoji.

“Maafkan, harabeoji.”

“Ani. Aku senang karena aku masih punya harabeoji.”

“Hee Seul, maafkan appa. Appa benar-benar menyesal.”

“Itu sudah menjadi masa lalu, appa.”

“Buat apa anda kemari?” Kata-kata itu keluar dari mulut Sehun.

“Sehun-ah, kenapa bicara seperti itu pada harabeoji, nak?” Kata Hee Seul pada Sehun.

“Selama ini aku tidak punya harabeoji, buat apa dia muncul!!!”

“Maafkan harabeoji, Sehun-ah. Harabeoji benar-benar menyesal.” Sang Hun bisa memaklumi kalau Sehun tidak bisa menerimanya.

“Apa anda tahu bagaimana aku dulu? Apa semua orang kaya memandang rendah orang miskin? Aku selalu iri setiap kali melihat temanku yang dimanja dan disayang oleh harabeojinya!” Sehun tidak tahan. Air matanya mengalir.

“Mianhae, Sehun-ah. Harabeoji akan memberikan apa yang tidak kau dapatkan dulu. Biarkan harabeoji memulai dari awal.” Sang Hun memeluk Sehun.

“Harabeoji…” Sehun membalas pelukan harabeoji. Pelukan yang baru ia dapatkan setelah 18 tahun.

“Pulanglah ke rumah, Joon-ah. Kita berkumpul lagi.”

“Mianhae, appa. Kami tetap tinggal di sini. Rumah ini kubangun dengan jerih payahku. Kami akan mengunjungi appa.”

“Kalau begitu kembalilah ke perusahaan. Appa sudah tua, Joon-ah.”

“Ne, appa.”

 

—————–

 

Sehari sebelum hari kelulusan, Eun Na menemui Suho. Ia ingin melakukan apa yang dikatakan Kai padanya.

“Suho, apa Jeo Rin pernah mengatakan padamu kalau dia dijebak?” Tanyanya.

“Jangan bicarakan masalah itu.” Suho tidak suka.

“Jeo Rin memang dijebak.”

“Apa maksudmu?” Suho menatap Eun Na.

“Yang menjebak dia Kai. Dan Kai tidak melakukan apapun pada Jeo Rin.” Suho semakin bingung.

“Kenapa kau bisa berkata seperti itu?”

“Karena aku yang membantu Kai menjebak Jeo Rin.”

 

TBC

About teenagerfanficindo

Fanfiction all rating and all fandoms especially for Kpop-Lovers in Bahasa^^.

Posted on July 9, 2013, in PG, Romance and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. Ya ampun thorrr makin penasaran, lanjut ya thor next chapternya<33333

  2. Lanjut.lanjut chingu😀

  3. Omo!!! Jeorin sama kai mesra bgt, jdi iri >,< #plak
    Aku jdi mkin suka dehh sama ff ini. \(^,^)/
    Ok next chap di tunggu.
    Lebih cepat, lebih baik😉

  4. kyuwonhae's wife

    Kai berusahalah untuk merubah dirimu yg playboy itu😀 figthing
    Akhirnya Sehun oppa tdak dianggap sebelah mata lagi sma eommanya Min Young🙂 , senang rasanya😉
    Jeo Rin bkal kembli keseoul , dan pasti akan bertemu dengan Suho oppa😮 , gmna reaksinya y ? Dia akn udh tw klo Jeo Rin dijebak sma
    Kai + Na Eun:/ . Lanjuuutttt thoorrrr😉

  5. princesssparkyujewelself

    lanjut dong tor sama kai aj jgn sama suho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: