I Love You To Infinity (Part II – END)

20130630-220904.jpg

[SEQUEL OF ‘THIS IS OUR FATE’]

Author : JS
Genre : romance, PG

Cast :
-Oh Jihun
-Oh Sehun

Note : annyeong : ) ini kelanjutan yang kemarin. Kayaknya author nggak kasih nc di sini deh hehe. Cuman yah.. Biasa aja, PG. Jangan kecewa yaah readers :p

Mian kalau banyak typo atau apapun atau alur kecepetan atau nggak nyambung atau adegan nggak ada kesinambungan(?) atau ngayal atau gj atau yah apapun itu. Maaf kalau readers agak nggak nyambung sama ceritanya : ( Soalnya bikinnya ngebut >< hehehee😀

Happy Reading!
Don't Bash Please : )

And,

PLEASE DON’T BE SILENT READERS

THANK YOU SO MUCH *big hug*

_______________

Author POV

Sehun seperti manusia tak bernyawa. Ia merasa separuh nyawanya menguap entah kemana. Sehun berjalan gontai ke arah tempat tidur Jihun. Tubuh Jihun dilengkapi selang-selang yang Sehun sendiri tak tau berguna untuk apa. Sehun menarik kursi ke arah tempat tidur Jihun dan duduk disana.

Sehun memandang ke arah Jihun yang masih koma. Matanya tertutup rapat. Dengan tangan bergetar, Sehun meraih tangan Jihun dan menciumnya. Tangan Sehun yang lain meraih pipi Jihun mengelusnya perlahan.

“Ji… Jihun-ah” ucap Sehun yang terdengar seperti lirihan. Sehun menahan dirinya agar tak menumpahkan air matanya di sini. Sekarang juga. Tapi sayangnya gagal. Sehun menyadari air mata sedikit demi sedikit mengalir di sudut matanya.

______________________________

FLASHBACK ON….

“Oh Sehun-ssi?”

Seorang dokter terlihat keluar dari ruang ICU. Sehun yang dari tadi menunggu dengan perasaan campur aduk langsung berdiri.

“Saya Oh Sehun”

Dokter tadi langsung menghela nafas lega saat tau Sehun sudah disana. Ia memberi isyarat pada Sehun untuk mengikutinya masuk ke ruangan dokter. Sehun duduk berseberangan dengan si dokter tadi.

“Bagaimana keadaan istri saya, dok?”

“Tak ada luka serius. Semuanya baik-baik saja”

Sehun sedikit rileks saat dokter berkata begitu padanya. Ia menyandarkan tubuhnya di kasur dan menghela nafas lega. Syukurlah kalau Jihun baik-baik saja. Tapi.. Sehun merasa ada yang kurang. Jihun baik-baik saja. Tunggu! Bagaimana dengan bayinya?!

“Ba-bagaimana dengan bayinya dok? Apa bayi nya selamat?”

“Syukurlah Oh Sehun. Bayi nya selamat dan tak ada luka serius juga. Semuanya baik-baik saja”

Sehun mengelus dada nya lega. Ia merasa beban berat yang di bawanya hilang seketika. Ia merasa dada nya ringan. Ia merasa… Bahagia. Saat mendengar bahwa orang yang terpenting di hidupnya baik-baik saja.

“Tapi…” Lanjut si Dokter. Entah kenapa Sehun mulai itu juga benar-benar membenci kata ‘tapi’ . Kenapa disaat bahagia seperti ini harus ada tapi yang mengganjal kebahagiaannya.

“Jihun-ssi belum sadar. Masih dalam keadaan koma. Itu berarti bayi yang dikandung Jihun-ssi tak akan dapat nutrisi karena Jihun-ssi masih koma. Walaupun kami memasukkan nutrisi melalui infus, tapi tentu saja bayinya tak akan bisa mendapatkan juga”

Sehun merasa bumi berhenti berputar. Waktu di dunia seakan berhenti. Tidak.. Jangan katakan kalau Sehun akan kehilangan bayinya. Tidak bukan? Tidak! Ia tak ingin kehilangan bayi nya! Sehun berteriak dalam hati.

“Kami para dokter sudah memikirkan baik-baik langkah yang harus kami ambil. Kita lihat dalam seminggu ini jika Jihun-ssi mengalami kemajuan, kami tak akan mengambil langkah itu. Tapi kalau dalam seminggu ini Jihun-ssi tak menampakkan kemajuan sekalipun dan masih dalam keadaan koma, maka kami, dengan berat hati akan melakukan itu. Ini semua demi keselamatan Jihun-ssi”

“Itu?” Ulang Sehun seolah tak mengerti

FLASHBACK OFF

_____________________________

Author POV

Sehun tak ingat berapa lama ia menangis yang ia tau ia tertidur dengan menggenggam erat tangan Jihun. Sehun melirik ke arah Jihun yang masih tertidur. Jihun terlihat lemah dan pucat. Yang dapat Sehun tau Jihun masih hidup hanya alat di samping tempat tidur Jihun yang menampakkan detak jantung Jihun. Lagi-lagi air mata mengalir dari sudut mata Sehun. Menampakkan betapa menyesalnya ia.

Kenapa?

Kenapa penyesalan selalu di belakang?

Bagaimana kalau waktu itu Sehun menemani Jihun ke supermarket?

Bagaimana jika Sehun yang membelikan Jihun es krim waktu itu?

Apa ia yang akan terbaring koma disini? Dan bukannya Jihun?

Sehun ingin sekali mengulang waktu kembali. Sehun berharap jika ia menutup mata dan saat membukanya, ini semua hanya mimpi. Tapi itu tak pernah terjadi.

“Bodoh… Kau sungguh bodoh Oh Sehun”

“Kau membunuh istrimu..”

“Kau hampir membunuh istrimu… Dan bayimu..”

Sehun menggenggam erat sprei kasur Jihun. Matanya memanas. Isakan demi isakan keluar dari mulutnya.

____________________________

FLASHBACK ON…

“Bagaimana keadaan istri saya, dok?”

“Masih tetap, Tuan Oh. Tak menunjukkan kemajuan sama sekali”

Sehun mendecak frustasi. Tiga hari ini. Jihun tak menampakkan kemajuan apa pun. Tiga hari ini Sehun menunggui Jihun tanpa repot-repot pergi bekerja. Sehun tak sekalipun menyentuh dokumen pekerjaannya. Semuanya ia serahkan pada sekertarisnya. Waktunya tinggal sedikit. Empat hari lagi dan Sehun harus segera memutuskan pilihannya.

“Waktu nya tinggal empat hari Tuan Oh. Empat hari itu waktu yang singkat. Sebaiknya Anda pikirkan baik-baik. Kehilangan seorang atau semuanya. Itu yang harus anda pikirkan”

FLASHBACK OFF

____________________________

Sehun POV

Braaaakkkkk!!!!!

Aku membanting semua barang yang ada di hadapanku. Aku marah. Aku bahkan bingung kepada siapa aku marah.

Hampir semua barang pecah. Aku menghampiri meja kerjaku dan menyingkirkan semua barang yang ada disana. Dokumen, vas, bingkai foto. Semuanya.

Kenapa?

Kenapa Tuhan memberikan cobaan yang begitu besar padaku?

Apa ia sudah tak mencintaiku lagi?

Aku ini pembunuh!

Aku membunuh istriku dan jabang bayiku!

Apa aku masih bisa disebut suami yang baik?

Apa aku pantas menjadi calon ayah?

PRAANGGG!!!

Aku meninju kaca yang melihatkan pantulan diriku. Darah mengalir dari telapak tanganku. Beberapa sisa kaca juga masih menempel di sela jari. Aku bahkan benci pada diriku sendiri. Benci!

Kenapa bukan aku saja yang kecelakaan?

Kenapa harus Jihun?

Kenapa?

Aku manusia tak berguna!

Dimana letak otakmu Sehun!

Kau bahkan tega membiarkan istrimu yang sedang mengandung pergi sendiri!

Suami macam apa kau!

“AARRRGGGHHH!!!!!!”

Praaannnggggg

Aku jatuh terduduk. Tak dapat lagi aku menahan air mata yang sedari tadi ingin mengalir keluar. Aku bodoh… Sangat bodoh… Aku tak pantas buatmu Jihun… Aku memang tak pantas untukmu…

__________________________

FLASHBACK ON….

“Oh Sehun-ssi, waktunya tinggal dua hari. Jadi… Bagaimana keputusan anda?”

Sehun hanya terdiam. Ia memainkan jari-jarinya. Pandangannya kosong menatap ke arah kalender yang terdapat di meja dokter.

“Oh Sehun?”

Sehun menyisir rambutnya dengan jemarinya. Ia menggeleng lemah.

“Sehun-ssi. Kami butuh kerja sama Anda. Kami tak dapat bertindak kalau Anda juga tak tau mana pilihan yang Anda ambil. Tapi saya minta, secepatnya putuskan. Waktunya tak akan lama. Keadaan Jihun-ssi juga semakin menurun. Tubuhnya semakin lemah. Anda tak mau kehilangan istri Anda bukan?”

FLASHBACK OFF

______________________________

Author POV

Hari ini Sehun kembali ke rumah sakit menjenguk Jihun. Orang-orang banyak melihatnya setengah mata. Bukan karena Sehun seperti orang gila atau tak berada, tapi lebih tepatnya seperti orang tak bernyawa. Sudah tak terhitung berapa kali ia menangisi Jihun. Tak terhitung berapa kali ia meninggalkan pekerjaannya hanya untuk Jihun. Tak terhitung berapa kali ia tak makan. Bahkan Sehun tak ingat kapan terakhir ia menyentuh makanan. Pipinya tirus, wajahnya memucat. Bahkan terkadang badan Sehun limbrung.

Sehun tak habis pikir kalau hidup tanpa Jihun, tanpa Jihun nya akan sesulit ini. Hatinya sakit setiap kali mengingat Jihun terbaring di rumah sakit adalah salahnya. Semua salahnya!

Sehun terus mengulang-ulang kalimat itu di otaknya. Dia pembunuh. Dia seharusnya tak termaafkan. Semua salahnya. Dan sekarang karena salahnya Jihun akan meninggalkan dirinya, dengan si calon bayinya, selamanya.

Sehun ingat betul perkataan dokter di hari itu. Hari ini adalah hari terakhir. Mau tak mau Sehun harus berpikir dengan bijak mana pilihan terbaik yang harus dipilihnya.

_______________________

FLASHBACK ON..

“Sehun-ssi, pilihan Anda hanya ada dua. Jihun-ssi sama sekali tak menunjukkan kemajuan sedikitpun. Ini demi keselamatan bayi nya dan istri Anda, Jihun-ssi sendiri”

Sehun mengangguk. Ia siap mendengar apa saja yang keluar dari mulut si dokter. Apapun. Ia sudah siap atas resiko akibat kesalahannya.

“Kalau dalam seminggu ini Jihun-ssi masih tidak sadar, kami dengan berat hati harus bilang ini. Jika Jihun-ssi tak sadar dalam waktu seminggu ini, ini sekaligus membahayakan bayinya. Jika bayinya terancam, maka sekaligus nyawa Jihun-ssi juga terancam”

Nafas Sehun tercekat. Nyawa Jihun.. Terancam? Apakah itu berarti ia akan kehilangan Jihun selamanya? Apakah itu berarti Jihun akan pergi dari hidupnya selamanya? Apakah itu berarti Sehun tak akan pernah melihat senyumnya lagi selamana? Apa artinya Sehun tak akan pernah lagi merasakan manisnya bibirnya, hangat nya pelukan Jihun, dan cerahnya senyum Jihun?

Air mata Sehun mengalir keluar. Ia akan kehilangan Jihun. Untuk selamanya. Selamanya. Sehun mengulang terus kata itu di otaknya.

Selamanya. Apa ia mampu bertahan tanpa Jihun? Jihun sudah seperti oksigennya. Jihun adalah matahari nya. Jihun yang selalu tersenyum padanya. Membuat hidupnya berwarna. Sehun menggelengkan kepalanya. Andwae… Ia tak ingin kehilangan Jihun. Tidak untuk yang kedua kalinya.

“Maka dari itu, Sehun-ssi” dokter melanjutkan.

“Anda punya dua pilihan. Yang pertama menggugurkan si calon bayi dan menyelamatkan nyawa Jihun-ssi”

Menggugurkan… Si calon bayi? Andwae! Sehun selalu memimpikan adanya anak di hidupnya dan Jihun. Andwae..

“Atau.. Menunggu hingga Jihun-ssi bangun. Tapi ada sedikit kendala. Kalau sampai ada apa-apa, itu malah membahayakan si ibu dan calon bayi. Keduanya bisa.. Terancam meninggal”

DEG!

Sehun tak dapat berkata apa-apa lagi. Lidahnya kelu. Ia tak tau harus berkata apa. Kehilangan keduanya. Mau jadi apa hidup Sehun? Hidupnya tanpa Jihun yang terbaring di rumah sakit saja sudah seperti ini. Apalagi kalau…

Sehun tak berani melanjutkan pikirannya. Ia bingung. Apakah mungkin jika berharap keajaiban akan terjadi?

FLASHBACK OFF…

___________________________

Author POV

Sehun tak sadar kalau ia sudah berada di depan kamar tempat Jihun di rawat. Sehun menyentuh knop pintu dan membukanya. Itu sontak membuat semua orang yang berada di kamar Jihun menoleh ke arah pintu.

“Astaga, Sehun! Apa yang terjadi denganmu! Ya Tuhan! Kapan terakhir kau makan?”

Umma Jihun berteriak histeris ke arah Sehun. Ia memegang kedua pundak Sehun, melihat wajah Sehun. Sehun hanya tersenyum miris dan berkata ‘aku baik-baik saja, omonim’. Umma Jihun akhirnya keluar membelikan Sehun makanan. Meninggalkan Sehun dan oppa Jihun, Kyuhyun di dalam.

Sehun berjalan gontai ke arah Jihun dan mengecup bibir Jihun seolah ia sadar. Sehun lalu duduk di kursi depan kasur Jihun dan menggenggam tangan Jihun erat.

“Hyung.. Mianhae” ucap Sehun lirih pada Kyuhyun yang sedang berdiri di sampingnya. Kyuhyun terlonjak kaget dengan apa yang di katakan Sehun. Mianhae? Untuk apa Sehun minta maaf padanya? Apa ia menyangka semua ini adalah sebabnya?

“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Sehun. Ini semua bukan salahmu. Kau hanya tertekan. Cobalah untuk berpikir lebih tenang. Ini hanya takdir Sehun. Takdir yang ditunjukan untuk Jihun, dan agar kau belajar”

Kyuhyun menepuk pundak Sehun pelan. Memberi semangat pada adik iparnya.

“Jangan terlalu memberatkan ini Sehun. Ingat kau masih punya kami yang selalu mendukungmu, Sehun. Jangan bertindak gegabah. Ini bukan salahmu, Sehun. Kau harus terus mengulang itu dalam otakmu”

Dan dengan itu, Kyuhyun meninggalkan Sehun sendirian lagi di kamar Jihun.

____________________

Author POV

Malam telah tiba. Esok pagi Sehun harus menentukan pilihannya. Sehun menghela nafas panjang. Jarinya menyisir rambut panjang hitam Jihun. Sehun mengecup kedua kelopak mata Jihun.

“Chagi… Ireona.. Ireona…”

Sehun mengguncang tubuh Jihun pelan. Ia juga menggenggam erat tangan Jihun. Percuma saja. Sudah berapa kali Sehun berkata seperti itu. Jihun belum sadar juga. Sehun berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah jendela rumah sakit. Sehun menyibakkan gorden dan melihat bulan purnama.

Jalanan masih ramai, tapi keadaan rumah sakit sudah sepi. Ditambah jendela kamar rawat Jihun yang menghadap ke taman belakang rumah sakit yang sudah sepi. Sehun melihat ke arah bulan purnama. Ia dapat merasa wajahnya yang terkena pantulan sinar bulan. Malam ini cuacanya cerah sekali. Banyak bintang di langit.

Sehun ingat sekali saat itu, saat dirinya dan Jihun di keadaan hari yang sama, melihat bintang.

_________________________

FLASHBACK ON…

Sehun melonggarkan dasinya dan memutar knop pintu rumah. Ia menghela nafas panjang. Lelah. Itu yang dirasanya setelah seharian penuh ia bekerja tanpa henti. Pekerjaannya benar-benar menumpuk. Ia bahkan tak sempat menelpon Jihun. Sehun melepas sepatunya dan melangkahkan kaki ke dalam rumah.

Langkahnya terhenti saat melihat makanan yang sangat banyak tersaji di meja makan. Semuanya adalah makanan kesukaannya dan Jihun. Baru saja Sehun ingin membuka suaranya memanggil Jihun saat ia merasa sebuah tangan kecil melingkar di pinggangnya, memeluknya erat.

“Jihun-ah… Ada apa? Tumben kau masak banyak sekali seperti ini” ucap Sehun

“Oppa…”

Sehun memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Jihun. Ia memeluk pinggang Jihun erat.

“Oppa.. Aku hamil”

Sehun mematung di tempatnya. Kata-kata Jihun sukses membuatnya speechless. Ia bahkan tak tau harus berkata apa. Ia ingin berteriak kencang sekali hingga semua tetangganya dengar bahwa istrinya hamil, tapi lidahnya kelu karena terlalu bahagia. Sehun ingin sekali memeluk Jihun erat tapi badannya seperti tak bisa bergerak.

Jihun dibuat heran. Ia memandang Sehun lama. Apa yang sedang dipikirkan suaminya? Ia melihat Sehun yang tengah memandangnya dengan mata membulat dan mulut setengah terbuka. Jihun melambaikan tangannya di wajah Sehun.

“Oppa? Kau baik-baik saja? Haloo?”

“A-astaga, Jihun. A-aku tak tau harus bilang apa. A-aku bahagia”

Jihun tertawa keras saat mendengar kata Sehun barusan. Benar-benar. Karena terlalu bahagianya Sehun sampai seperti orang linglung begini. Tak terasa Sehun juga ikut tertawa. Sehun memeluk Jihun, menyandarkan kepala Jihun di dadanya.

“Gomawo, chagi. Jeongmal gomawo.” Jihun tersenyum bahagia dan memeluk Sehun tambah erat.

“Ne oppa. Saranghae”

“Nado saranghae”

*******

Malam itu adalah malam bahagia bagi keduanya. Mereka menghabiskan makan malam sambil berandai seperti apa bayi mereka kelak. Apakah namja.. Atau yeoja. Apakah tampan seperti appa nya, atau cantik seperti umma nya. Mereka tak bosan-bosannya mengobrol tentang itu hingga semua makanan yang disajikan ludes. Sehun membereskan piring dan mencucinya. Sedang Jihun duduk di sofa memandang ke arah jendela besar yang menghadap ke taman.

“Oppa.. Langitnya cerah sekali. Lihatlah. Banyak bintang yang memunculkan dirinya. Bahkan ternyata hari ini bulan purnama. Ayo kita melihat bintang oppa”

Jihun melirik ke arah Sehun yang sedang mengelap tangannya. Sehun menggangguk dan mengambil mantel. Udara diluar sangatlah dingin. Ia ingin menolak permintaan Jihun tapi melihat Jihun yang sangat menggebu-gebu saat bilang itu membuat Sehun luluh.

Jihun meletakkan kepalanya di bahu Sehun. Matanya melihat ke atas, memandangi bintang yang sangat indah. Jihun tersenyum sumringah.

“Oppa, bintangnya indah sekali ya”

“Iya. Tapi, hei, apa kau tau dari sejuta bintang di langit hanya ada satu bintang yang paling cantik. Sinarnya tak pernah redup dan sangat terang. Kau tau bintang apa itu?”

Jihun terlihat berpikir. Belum pernah ja mendengar bintang yang bentuknya seperti itu. Alis matanya berkerut. Mana ada bintang seperti itu?

“Aku menyerah!”

“Kau”

“Hm?”

“Bintangnya awalnya namanya Cho Jihun. Tapi setelah itu namanya diganti menjadi Oh Jihun setelah resmi menjadi istri dari seorang namja tampan bernama Oh Sehun”

Sehun melirik ke arah Jihun yang masih diam berusaha mencerna perkataannya. Sehun tertawa dan mencubit pelan hidung Jihun. Jihun memang lama dalam berpikir. Ia susah mengerti akan sesuatu. Dan itu yang membuat Sehun jatuh cinta padanya.

Beberapa saat kemudian Jihun sadar. Ia memukul pelan dada Sehun, merasa dipermainkan.

“Ya!! Ya!!! Aisshhh”

Sehun masih tertawa dan menahan tangan Jihun. Sehun menarik tangan Jihun hingga wajah mereka berdekatan. Sehun mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.

“Kau adalah bintang chagi. Bintang dihidupku. Bintang datang di waktu malam. Dan aku adalah malam. Bagaimana jika malam tanpa bintang?”

“Hampa? Sunyi? Sepi?”

“Ya. Malam tanpa bintang akan sia-sia. Seperti ku. Aku tanpa mu bukan apa-apa. Aku tak bisa hidup tanpamu Jihun. Berjanjilah kau selalu bersamaku menemaniku hingga maut memisahkan”

Jihun meleleh mendengar perkataan Sehun. Memang bukan pertama kalinya ia mendengar ini. Tapi… Tetap saja.

“Aku berjanji. Oppa, saranghae”

“Nado saranghae”

Sehun meraup bibir Jihun dan menciumnya. Tidak mencium penuh nafsu. Hanya melumat bibir Jihun lembut. Sehun melepaskan ciumannya dan melihat wajah Jihun yang dihiasi rona merah. Mereka terdiam dan memandang intens ke arah mata masing-masing. Jihun mengalihkan pandangannya.

“Oh! Lihat oppa! Ada bintang jatuh! Ucapkan permintaan!”

Jihun langsung menutup matanya dan menghubungkan kedua tangannya seperti orang sedang berdoa. Bibirnya berkomat-kamit entah berapa permintaan yang di lontarkannya. Sehun awalnya tertawa tapi akhirnya malah mengikuti Jihun.

‘Aku berharap.. Jihun akan selalu ada di sisiku. Selamanya. Hingga maut memisahkan’

FLASHBACK OFF

_________________________

Author POV

Air mata Sehun tumpah saat mengingat betapa childish nya Jihun dan ia waktu itu. Permintaan itu.. Apa benar akan terkabul? Sehun melirik ke arah Jihun yang masih tidur. Ia lalu memandang ke arah langit lagi.

Tuhan… Apa kah kau akan mengabulkan permintaan ku?

Apa permintaan ku akan benar benar di kabulkan?

Tuhan.. Kabulkan permintaan ku

Kali ini saja…

Aku minta aku ingin Jihun bangun

Aku ingin Tuhan. Aku ingin melihatnya tersenyum padaku

Aku ingin mendengar suaranya

Aku ingin mendengar tawanya

Aku ingin Jihun ku kembali

Tolong Tuhan… Tolong…

Aku tersiksa tanpanya. Aku tak bisa hidup tanpa Jihun…

Dengan itu, Sehun lagi-lagi melihat bintang jatuh. Dengan reflek ia menutup kedua matanya dan berharap.

‘Aku ingin hidupku kembali normal. Aku, Jihun, dan calon bayiku. Tolong kabulkan permintaanku’

_______________________

Author POV

“Sehun…. oppa…”

Sehun masih enggan bangun. Ia pikir ia sedang bermimpi. Ia mendengar suara Jihun. Mengalun dengan merdu di telinganya.

“Oppa.. Oppa..”

Setetes air mata mengalir lagi di matanya. Bahkan ia lupa kapan terakhir ia mendengar suara Jihun. Seminggu terasa seperti bertahun-tahun lamanya. Air mata Sehun mengalir semakin deras. Ia masih tidur dengan tangan sebagai bantalnya.

“Sehun oppa.. Ireona..”

Sehun merasa sesuatu bergerak di tangannya. Ia mengingat-ingat. Dia tertidur dengan menggenggam tangan Jihun. Dan sekarang ia mendengar suara Jihun. Itu berarti… Jihun sadar?!

Sehun mendadak bangun dan disambut dengan senyum manis Jihun. Akhirnya.. Sehun dapat melihat senyum itu lagi. Ia hampir tak percaya dengan apa yang ia lihat. Apa ia sedang mimpi? Ia melihat Jihun bangun! Dan tengah tersenyum padanya! Bahkan Jihun memberinya ucapan selamat pagi!

Sehun mencubit keras pipinya. Jihun melihat itu dan tertawa. Sehun benar-benar tak percaya jika dirinya telah sadar? Dengan lemah Jihun menggerakkan tangannya dan mengelus pipi Sehun.

“Oppa. Ini aku. Kau tidak sedang mimpi. Aku telah sadar oppa”

Tangis kebahagiaan melanda Sehun. Ia tak tau harus bilang apa. Yang ia lakukan pertama kali adalah memeluk erat tubuh Jihun dan menangis di pundak Jihun. Jihun hanya dapat mengelus punggung Sehun menenangkannya. Sehun melepaskan pelukannya dan mencium bibir Jihun yang tentunya di balas oleh Jihun. Ooh.. Betapa ia merindukan bibir mungil ini.

“Kau kembali, Jihun. Kau kembali”

“Ne oppa. Aku kembali untukmu. Seperti apa yang aku janjikan padamu”

_______________________

FLASHBACK ON

Jihun menutup kedua matanya saat dirinya dan Sehun sedang melihat bintang di halaman belakang dan ia tak sengaja melihat bintang jatuh.

“Oh! Lihat oppa! Ada bintang jatuh! Ucapkan permintaan!”

Jihun menutup matanya dan menyusun permintaannya. Ia dapat mendengar Sehun tengah tertawa melihat tingkahnya.

‘Tuhan. Tolong kabulkan permohonanku. Tolong jaga Sehun dan calon bayiku. Jaga mereka agar mereka selalu bersama ku hingga aku menghembuskan nafas terakhirku. Tuhan. Aku telah berjanji pada Sehun. Berjanji akan bersama nya hingga maut memisahkan kami. Tolong beri aku kesempatan untuk memenuhi janjiku, Tuhan’

FLASHBACK OFF

_________________________

5 years later…..

“Donghyun!! Umma sedang masak. Main sama appa dulu sana”

Jihun mendorong pelan Donghyun ke luar dapur. Bibir Donghyun manyun saat ummanya, Jihun, menolak diajaknya bermain. Tapi mau bagaimana? Ia sedang masak untuk sarapan dan tiba-tiba Donghyun turun dari kamar dan langsung memeluk kaki Jihun mengajaknya bermain.

“Donghyun-ah. Kenapa kau tidak bangunkan appa saja, hm? Sarapan sudah hampir siap”

“Arraseo umma”

Dengan hati-hati Donghyun menaiki anak tangga yang mengarah ke kamar appa nya. Belum sampai di depan kamar Donghyun sudah berteriak keras memanggil appanya.

“APPA!!!! SEHUNNIE APPA!!! APPA IREONA!!!!!!”

Suara cempreng Donghyun membuat Jihun tertawa di dapur. Donghyun tak pernah tak berhasil membangunkan Sehun dari tidurnya. Siapa yang tahan dengan suara cempreng nan imut Donghyun? Jihun menggelengkan kepalanya dan mengincipi sup buatannya.

Hidup bersama dua orang yang di cintainya adalah kebahagiaan tersendiri bagi Jihun. Ia tersenyum saat mengulang memori-memori itu, sampai ia merasa tangan kekar melingkar di pinggangnya.

“Chagi~ kau tega sekali menyuruh Donghyun membangunkanku” ucap Sehun di leher Jihun. Jihun hanya terkekeh mendengarnya. Pelukan Sehun semakin erat. Sehun bahkan sudah mulai mengecup leher Jihun.

“Oppa~ hentikan! Nanti Donghyun bisa melihat”

Sehun bukan lah Sehun kalau menghentikan kegiatannya. Ia malah semakin gencar menciumi bahkan menghisap leher Jihun hingga terdengar bunyi decakan. Jihun bergerak gelisah dan menggigit bibir bawahnya menahan desahan yang akan keluar. Mereka benar-benar menikmati momen ini saat…

“APPA!! UMMA!!!”

Sehun berkata lirih, ‘aaiisshh’ dan menghentikan aktivitasnya. Ia berbisik tepat di telinga Jihun,

“Donghyun ternyata mewarisi suara cempreng mu ya”

Dan berbalik memandang ke arah Donghyun yang tengah duduk manis di kursi makan melihat kegiatan orangtuanya.

“APPA! UMMA! Kalian sedang membuatkan Donghyun yeodongsaeng kan?”

Jihun dan Sehun sama-sama terkejut saat mendengar kata-kata Donghyun. Yeodongsaeng ia bilang? Jadi.. Donghyun ingin punya dongsaeng? Astaga. Jihun merasa pipinya merona sekarang.

“Donghyun-ah~ kau ingin dongsaeng?”

Donghyun menganggukkan kepalanya mantap dan memandang ke arah Jihun dan Sehun puppy eyes sambil ber aegyo.

“Jebal.. Umma, appa, Donghyun ingin sekali punya dongsaeng. Ne.. Ne? Donghyun janji akan jadi anak baik”

“Arraseo. Yeodongsaeng, kan? Appa akan mengabulkannya”

“Yeaahh!!! Yeodongsaeng!! Donghyun akan punya dongsaeng!!!”

Donghyun berlari dan berteriak kegirangan. Sehun tertawa dan memandang Jihun yang tengah memberinya death glare.

“Ya! Kenapa kau memutuskan sepihak begitu?! Kan aku yang mengandung!”

“Aigoo. Ayolah chagi~ lagi pula kasihan Donghyun tak punya teman bermain. Rumah sebesar ini kalau hanya kita bertiga juga sepi. Ne? Ne?”

Jihun menghela nafas dan berkata lirih, ‘arraseo’. Sehun mencium pipi Jihun dan memeluknya dari belakang lagi. Sehun menyandarkan kepalanya di bahu Jihun.

“Jadi… Kapan kita membuatkan Donghyun dongsaeng? Malam ini bagaimana, chagi?” Ucap Sehun dengan seduktif dan mengecup leher Jihun.

“Ya!!! Pervert!!!!”

-THE END-

Ps : Karena banyak ada yang bilang pengen tau waktu momen Sehun tau pertama kali Jihun hamil, nih author kasih hihi xD sengaja nggak author adain nc nya soalnya kayaknya.. Emang nggak fit sama tema di part ini. Mian >< hehe :p

Ps (lagi) : Please leave your comment! Sepatah dua patah kata pun nggak apa. Tolong hargai author yang udah nulis dan publish ff ini : ) readers yang baik nggak bakal jadi silent readers bukan? Walaupun singkat tapi comment yang readers tinggalkan disini berarti besar bagi para author. Comment yang membangun pasti buat author jadi pengen bikin ff lagi atau ngelanjutin ff yang lain. Jadi, tolong tinggalkan comment kalian demi kelangsungan blog ini! Thanks xoxo

About teenagerfanficindo

Fanfiction all rating and all fandoms especially for Kpop-Lovers in Bahasa^^.

Posted on June 30, 2013, in NC-17, NC-21, PG, Romance and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 60 Comments.

  1. hohoho maap author aku cuman ninggalin ‘like’ doang😦 aku ngebut bacanyaa ._. hohoho~ btw ini epep bagus kok~ keep writing^^

  2. Sweet thor keren ffnya

  3. Uuuh Sehunie pervert bgttt >_< Keren thor ,keep writing yaaa

  4. ff nya bagus thooor ;;) daebaaak !!! kirain sad ending untung aja nggak. keep writing author !!Fighting”

  5. “APPA! UMMA! Kalian sedang
    membuatkan Donghyun yeodongsaeng
    kan?”

    kyahhhhh >< senang lihat happy ending gini

  6. hoho .. d saat saat terakhir td kirain jihun udh gk selamat >< gk tau.a takdir bekata lain ..

    ff nya daebak thor and sukses ngebuat saya kalang kabuf /.\
    trus brkarya ya thor😉 jgn patah semangat .. fighting !!
    #Mrbarbar

  7. Ff nya keren thor, aku suka’-‘)b ayo bikin ff yang bagus lagi kaya gini. Semangat’-‘)9

  8. keren thor.. kereen.. asli kena banget keaku sampai nangis pas Jihunnya koma😥
    walau 2chapter tetep seru nih!

    lain kali buat ff yang kayak gini lagi yaa thor😀 setidaknya 3chapter😛 *ngerepotin
    the best deh pokoknya😀

    (mau follow wordpress nya aah… bagus-bagus ffnya niih)

  9. Akhirnya. Mereka semua selamat 😄

  10. cieeee happy ending yah ternyataaa

    baguss cerita nyaa thorr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: